JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BULELENG
Typography
SINGARAJA – fajarbali.com | Dimasa pandemi Covid-19 yang terjadi tentunya hal itu membuat kesejahtraan masyarakat semakin menurun. Hal itu diakibatkan lantaran pendapatan yang begitu sangat melemah ditambah biaya produksi yang dinilai terus mengalami kenaikan.



Seperti yang dirasakan oleh para petani utamanya para petani anggur yang ada di Kabupaten Buleleng. para petani anggur merasakan dengan minimnya buah anggur saat ini namun untuk biaya pemeliharaan pohon anggur terus mengalami kenaikan utamanya dari faktor pupuk dan obat-obatan.

Seperti yang diungkapakan Made Darsi petani yang berasal dari Desa Kalianget, Kecamatan Seririt merasakan sangat kepelik dengan produksi buah anggur yang begitu merosot bila dibandingkan ditahun lalu. Terlebih biaya obat-obatan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan pohon anggur yang terus mengalami peningkatan hingga 200 persen.

Baca Juga :
Hardiknas, Kejari Jembrana Laksanakan Jaksa Masuk Sekolah
Bahas Awal RPJMD-SB Badung, Dewan Sarankan Diversifikasi Pendapatan


Dengan adanya hal dirinya sangat berharap kepada pemerintah untuk bisa memberikan kesejahtraan kepada para petani dengan memberikan subsidi obat-obatan yang dibutuhkan dalam bertani sehingga para petani semakin semangat untuk memperkerjakan tanahnya sehingga bisa menghasilkan.

“Terus terang kami sangat mengharapkan kepada pemerintah utamanya Gubernur Bali Wayan Koster untuk bisa membuat para petani sejahtra. Berikan kami subsidi obat-obatan dan pupuk untuk petanian kami sehingga bisa lebih menghasilkan. Jangan biarkan kami mati terlebih dimassa pandemic seperti sekarang buah anggur tidak ada obat-obatan hingga pupuk untuk pertanian kami terus mengalami kenaikan yang begitu besar,” tuturnya saat dikonfirmasi beberapa hari yang lalu.

Bahkan dirinya mengatakan dengan adanya kondisi seperti ini tidak sedikit para petani yang menjual lahannya sendiri lantaran dimassa paceklik seperti yang dirasakan saat ini.

“kalau terus seperti ini yang dialami oleh para petani seperti saya yang berada dibawah garis kesejahtraan tentunya lahan yang nantinya menjadi sasaran terakhir. Karena kami sudah merasakan tidak mampu lagi menggarap lahan kami karena hasil tidak sebanding dengan biaya produksi kami. Maka dengan itu kami harapkan untuk bisa memberikan subsidi pupuk yang lebih banyak sehingga para petani lebih nyaman menggarap lahannya,”pintanya lagi. (ags)