JA Teline V - шаблон joomla Форекс

JEMBRANA
Typography

NEGARA-fajarbali.com | Festival Budaya Loloan akan kembali digelar. Di tahun ketiga penyelenggaraannya, festival yang diberi nama Festival Loloan Jaman Lame ini akan menampilkan khasanah budaya khas loloan.

Festival Loloan Jaman Lame yang dipusatkan di Kelurahan Loloan Timur akan digelar selama tiga hari yakni 5 - 7 September 2019. Penyelenggaraan festival yang ketiga ini dilakukan di sepanjang jalan Gunung Agung Kelurahan Loloan Timur. 

Ketua Panitia Festival Loloan Jaman Lame, Hasbil Maani, selepas audiensi dengan Bupati Jembrana I Putu Artha, Rabu ( 7/8) menyampaikan sejumlah acara juga sudah dirancang panitia, seperti, Pameran Barang Antik, Kuliner Jaman Kuno, Tradisi Mesunat, tradisi Pengantin Loloan Jaman Dulu, Burdah, Mainan Tradisional, diorama Foto Foto Jaman Dulu, Pencak Silat, Stand Dapur Jaman Dulu, Panggung dialog kebudayaan dan juga Drama Kampung berbahasa Melayu Loloan.

“Seluruhnya menampilkan budaya dan warisan tetua kita di Loloan. Pengunjung akan kita bawa seakan –akan berada dimasa Loloan tempo dulu , seperti nama festivalnya yang kita angkat Loloan Jaman Lame,“ ujar Hasbil Ma'ani.

Untuk itu penyelenggaraan  festval yang juga memeriahkan Tahun Baru Islam ini, yang  dikemas dengan suasana ala Jaman Dulu .  “Tidak ada Kendaraan Selain Sepeda Ontel dan Penerangan hanya menggunakan obor dan Lampu Sentir,“ jelasonya.

Panitia berharap melalui penyelenggaraan festival Loloan Jaman Lame, mampu  mengenalkan kepada generasi penerus sekaligus bernostalgia bagi yang lama tentang budaya, kebiasaan masyarakat tempo dulu, adat istiadat, ornamen-ornamen budaya loloan.Selain itu juga ditampilkan wisata kuliner khas loloan, serta pementasan budaya Loloan.

Bupati  Jembrana I Putu Artha sangat mengapresiasi dan memberi dukungannya pelaksanaan festival  Loloan Jaman Lame. Ia berharap festival itu mampu menjadi ajang tahunan dan diagendakan serangkaian HUT Kota Negara. “Loloan kaya akan budaya dan berbagai kekhasannya. Selain itu  Loloan juga sangat terkenal dengan sungai Ijogading yang melintas disebelah desanya. Saya berharap Festival itu mampu memaksimalkan  berbagai potensi akulturasi budaya Bali, agar tradisi menyama braya tetap terjaga,",terangnya. Pemkab sangat mendukung pelestarian rumah panggung yang kini kondisinya sudah mulai berkurang. Ditambah lagi harga rumah panggung, tergolong mahal, apalagi kayunya anti rayap. Selain itu, Artha berharap Sungai Ijogading harus tetap bersih.Harapannya, sebelum dilakukan Festival Loloan tersebut, juga harus melakukan. gerakan bersih bersih Sungai Ijogading. 

Sementara H.Musadat Johar salah seorang tokoh dan budayawan Loloan berterima kasih kepada Pemkab Jembrana dalam hal ini bantuan dan dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana. Konsep tradisi menyama braya kata Musadat harus tetap dikedepankan dan dipertahankan, sehingga terjadi akulturasi budaya melalui silaturahmi budaya. Pentingnya juga berkaitan pelestarian rumah panggung Loloan dan bentuk perhatiannya dari pemerintah daerah. (prm)