JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography
BANGLI - fajarbali.com | Desa Jehem, Tembuku, Bangli merupakan salah satu wilayah yang sangat parah terdampak bencana tanah longsor yang terjadi akibat hujan deras beberapa waktu lalu.



Setidaknya ada lima titik, bencana tanah longsor menerjang dan menyebabkan kerusakan pada rumah warga termasuk fasilitas umum. Salah satunya, tanah longsor menyebabkan akses jalan satu-satunya menuju Cagar Budaya Candi Tebing dan Obyek Wisata Waterfall Goa Raja di dusun Jehem Kaja jebol. Dampaknya, kedua obyek wisata yang saat ini sedang naik daun tersebut kini menjadi terisolir.

Perbekel Desa Jehem, I Nengah Tesan Darmayasa saat dikonfirmasi Selasa (13/10/2020) membenarkan dampak cuaca ektrim yang terjadi pada Sabtu (10/10/2020) lalu telah menyebabkan sejumlah kerusakan akibat terjangan tanah longsor. “Diwilayah kami, sesuai yang telah kita laporkan ke Dinas Sosial ada lima titik longsor terjadi akibat cuaca ekstrim hujan deras yang terjadi Sabtu lalu,” sebutnya.

Secara rinci disampaikan, titik-titik longsor tersebut. Yakni, tanah longsor menimpa rumah berupa tempat tidur dan dapur milik keluarga I Wayan Bulus dan Wayan Mariana yang ada di dusun Jehem Kaja terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari dengan estimasi kerugian Rp 50 juta.  Tanah longsor juga menimpa Balai Gong di Pura Tamansari yang berada di Dusun Sama Griya, terjadi pukul 08.00 wita dengan estimasi kerugian Rp 30 juta. Selain itu, Tanah Longsor juga menyebabkan tembok penyengker milik Desak Kompyang Nami di dusun Tambahan Bakas, terjadi pukul 08.00 wita dengan kerugian Rp 3 juta. Berikutnya, dapur milik keluarga Wayan Cidra jebol sampai hilang sebagian bangunanya terjadi sekitar 01.00 dini hari dengan kerugian Rp 15 juta. “Titik kelima, tanah longsor menyebabkan akses jalan berundag menuju Cagar Budaya Candi Tebing di Jehem Kaja juga jebol sepanjang kurang lebih 15 meter,” bebernya.

Diaku Nengah Tesan, akses jalan tersebut sejatinya merupakan jalan utama dan satu-satunya menuju ke Cagar Budaya Candi Tebing dan juga menuju obyek wisata yang baru dikembangkan di Desa Jehem, yakni Air Terjun Goa Raja yang berada disebelahnya. “Jalan menuju Cagar Budaya Candi Tebing dan Air Terjun Goa Raja itu jebol sekitar pukul 09.00 wita, saat hujan deras terjadi. Kerugian material yang ditimbulkan sekitar Rp 20 juta,” jelasnya.

Dampaknya, saat ini ruas jalan tersebut benar-benar tidak bisa dilalui. Akibatnya, dua objek wisata tersebut kini benar-benar terisolir. Kata dia, sesuai anjuran pemerintah guna mencegah mewabahnya pandemi Covid-19, kedua obyek wisata tersebut sejatinya memang telah ditutup sementara waktu. Namun demikian, selama ini memang tetap saja ada pengunjung walau tak seramai seperti sebelum pandemic Corona mewabah. “Sekarang dengan jebolnya jalan tersebut, akses menuju Cagar Budaya Candi Tebing termasuk ke obyek wisata Goa Raja benar-benar terputus. Terlebih, itu merupakan jalan satu-satunya,” sebutnya.

Lantas upaya penanggulangannya, diakui, lantaran pihak Desa dan Pengelola Obyek Wisata tersebut anggaranya terbatas, dipastikan tidak akan bisa melakukan penanggulangan dengan cepat. Begitu pun, jika mengandalkan bantuan dari anggaran pemerintah. Sebab, mesti melalui alur-alur dan proses penganggaran yang cukup panjang. “Untuk mempercepat penanggulangannya, kita akan berusaha secara gotong royong. Mungkin bisa dilakukan dengan membuat kegiatan penggalian punia atau sumbangan sebagai wujud kepedulian untuk pengembangan obyek wisata yang  baru dirintis itu,” tandasnya. Selain itu, pihaknya juga mengaku tetap akan melaporkan ke bagian cagar budaya untuk bisa mempercepat perbaikannya.

Sementara salah seoarang warga Jehem, I Nengah Sujiwa menyampaikan rasa keprihatinannya akibat banyaknya bencana longsor yang terjadi wilayahnya. Terutama, jebolnya jalan berundag menuju Cagar Budaya Candi Tebing. “Saya selaku warga Jehem berharap jalan tangga itu bisa segera bisa diperbaiki. Karena selain sebagai jalan utama menuju cagar budaya juga merupakan akses satu-satunya menuju obyek wisata Goa Raja Waterfall yang sudah banyak dikunjungi tamu domestic maupun mancanegara,” harapnya.

Secara terpisah Kalak BPBD Bangli I Ketut Gde Wiredana saat dikonfirmasi justru mengaku belum mengetahui secara pasti berapa titik kebencanaan yang terjadi diwilayah Bangli. Termasuk estimasi kerugian yang ditimbulkan. “Datanya belum. Kami masih menunggu usulan atau laporan dari kepala desa lewat WA. Karena kejadiannya terlalu banyak,” ucapnya singkat. (arw).