JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Pasca jebolnya kembali ruas jalan penghubung banjar Tanggahan Peken dengan banjar Sulahan, Kecamatan Susut, Bangli telah menyebabkan akses masyarakat dari kedua dusun tersebut kini benar-benar terputus.

Dampaknya, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUPRKim) Kabupaten Bangli harus melakukan hitung-hitungan kebutuhan anggaran perbaikan yang sebelumnya telah diplot sebesar Rp 600 juta. Meski demikian, dipastikan perbaikannya akan tetap dilakukan tahun ini. Hanya saja, diperkirakan besarnya anggaran tersebut tidak bisa mengkaver hingga pengaspalan.  

Untuk itu, Sekretaris PUPRKim Kabupaten Bangli I Made Soma saat dikonfirmasi Minggu (14/04) menyampaikan untuk memastikan panjang dan lebar jebolnya jalan tersebut , pihaknya akan kembali turun melakukan pengukuran ulang.

“Konsultan perencanaan sudah kita panggil dan sudah kami minta untuk melakukan penghitungan ulang kembali,” jelasnya. Sebab, sesuai perhitungan sebelumnya saat jebol yang masih menyisakan satu setengah meter badan jalan, anggaran perbaikannya sudah di plot sebesar Rp 600 juta dari APBD Bangli tahun 2019. “Sekarang karena longsor lagi, apa memperpanjang atau bagaimana. Tapi saya sudah menekankan dana yang ada sebesar 600 juta itu, kita utamakan dulu untuk pembuatan plat beton dan dinding penahan tanah (DPT). Andaikata itu longsornya lebih panjang dan lebar lagi, kita juga akan menghitung timbunannya,” jelasnya.

Dampaknya, dikhawatirkan anggaran perbaikan jalan tersebut kemungkinan tidak bisa mengkaver hingga pengaspalan. “Yang terpenting, kita utamanya terlebih dahulu untuk plat beton, DPT dan timbunannya. Kalau masih dananya sisa, baru akan kita pakai untuk pengaspalan. Kalau tidak tersisa, kita biarkan dulu, berikutnya kita lanjutkan pengaspalannya,” sebutnya. Sebab, menurutnya walaupun tidak sampai diaspal, yang terpenting jalan tersebut sudah bisa dimanfaatkan dulu. Untuk material timbunan, diharapkan juga tidak akan menggunakan tanah. Pihaknya menyarankan lebih baik menggunakan sirtu (pasir batu). Sebab, kalau timbunan menggunakan tanah tekannya terlalu keras jika terjadi hujan daripada sirtu.

Pihaknya juga memastikan, bahwa perbaikan jebolnya jalan tersebut akan dilakukan tahun ini. “Perbaikan tahun ini tetap akan kita laksanakan, karena anggaranya sudah masuk di DPA. Mudah-mudahan tidak ada perubahan lagi. Makanya segera diproses, segera dilelangkan,” jelasnya.  Terlebih desain dan DED yang sebelumnya masih dalam proses penyempurnaan, disebutkan, saat ini juga sudah selesai, tingal pengadaan.

“Karena anggaranya dibawah 200 juga, pengerjaan DED dilakukan penunjukkan langsung. Setelah ini selesai proses, gambarnya sudah ada baru dibawa ke ULP. Kita sudah tekankan untuk dilakukan secepatnya, jangan ditunda-tunda lagi. Secepatnya, bila perlu jadi skala prioritas, supaya tidak membesar lagi jebolnya,” tegas Soma yang juga menjabat PLT Kabid Bina Marga ini.

Lebih lanjut mengenai penyebab jebolnya akses jalan tersebut, Soma juga mengakui akibat kecilnya saluran gorong-gorong yang ada dibawah jalan tersebut sehingga tidak kuat menahan besarnya volume air hujan yang datang dari arah utara. Untuk itu, dalam perencanaan pembangunan lubang air dibuat dengan plat beton dengan ukuran minimal 2 meter kali 2 meter. “Disamping itu, saya sudah sarankan untuk menggunakan beton freecas yang sudah jadi. Kalau tidak ada, kita cor dilapangan. Yang penting kita buat salurannya lebih lebar karena debit airnya memang besar,” ungkapnya.

Sementara menyangkut harapan masyarakat dalam perbaikan jalan tersebut agar dibangun jembatan, sesuai kajian teknis PU Bangli nyatanya dipandang tidak perlu. Sebab, jika dibangun jembatan dengan volume sebegitu akan lebih banyak menghabiskan uang tidak sebanding dengan fungsinya.

“Kita di PU telah menghitungnya secara teknis. Sesuai data dilapangan, dengan volume air seperti itu, cukup dengan memperlebar saluran airnya dengan menggunakan plat beton dengan ukuran sebegitu. Kalau dibangun jembatan, akan banyak menghabiskan dana, bisa mencapai dua hingga tiga miliar. Makanya sudah saya perintahkan sekarang untuk segera perbaikannya agar tidak melebar lagi.

Sebelumnya, Kondisi akses jalan penghubung dusun Tanggahan Peken dengan dusun Sulahan, desa Sulahan, Kecamatan Susut, Bangli yang telah tiga tahun jebol dan tidak kunjung diperbaiki akhirnya benar-benar terputus. Terputusnya akses jalan menuju kampung halaman Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta ini terjadi pada Jumat (12/04/2019) dini hari, setelah kembali ambrol akibat guyuran air hujan. Sisa lebar jalan yang sebelumnya hanya 1,5 meter kini benar-benar ludes tergerus. Dampaknya, praktis kendaraan bermotor sudah tidak bisa lagi melintas. Karena itu, sejumlah masyarakat terpaksa jalan kaki melintasi kebun warga dan semak-semak di utara jalan jebol tersebut untuk bisa menyebrang.

Sesuai pantauan dilokasi, tampak beberapa warga terpaksa memarkir kendaraannya didepan akses jalan yang jebol tersebut. Mereka terpaksa jalan kaki untuk melintas melalui tegalan milik warga yang ditumbuhi pisang dan semak-semak diutara jalan tersebut untuk bisa menyeberang. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pada siang harinya, tampak sejumlah anggota dari Polsek Susut mulai memasang police line disekitar jalan putus ini. Sejumlah warga yang ditemui dilokasi beralasan, lebih memilih jalan kaki karena lebih cepat dan singkat menuju ke dusun Sulahan maupun sebaliknya ke dusun Tanggahan Peken.

Banyak juga masyarakat menyayangkan akses jalan yang telah jebol secara bertahap sejak tiga tahun lalu ini, karena tidak kunjung dilakukan perbaikan sehingga menyebabkan kini benar-benar terputus. Padahal, jalan jebol ini merupakan akses utama bagi masyarakat sekitar, utamanya bagi siswa-siswi SMPN 1 Susut.  Selain itu, semasa jalan ini jebol sejak beberapa tahun terakhir telah menyebabkan setidaknya ada dua kejadian pengendara sepeda motor terjatuh saat melintas pada malam hari.  

“Harapan kami, tentunya perbaikan jalan  ini segera dilakukan oleh instansi terkait. Kasihan juga anak-anak ke sekolah harus memutar dengan waktu tempuh 15 menit,” ungkap salah seoarang warga setempat. (ard)