JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Polemik rencana Pemkab Bangli menggunakan Bunga Gumitir sebagai maskot Kabupaten Bangli kian meluas. Setelah PHDI menyampaikan aspirasinya dan akan dilanjutkan dengan menggelar rapat khusus membahas soal maskot itu, kalangan Dewan juga kembali angkat bicara.

Sejumlah wakil rakyat meminta untuk memimallisir silang pendapat  terkait maskot itu, sebaiknya Bupati Bangli kembali mengundang tokoh masyarakat. “Pemilihan bunga untuk maskot Kabupaten Bangli jangan grasu-grusu, jadi perlu kajian  serta masukan kembali dari tokoh masyarakat Bangli,” ungkap I Nyoman Gelgel Wisnawa.

Terlebih diakui sejatinya saat dialog interaktif Dewan yang menghadirkan Peradah dan Budayawan, saat peringatan bulan sastra dan Bahasa Bali, sebagian besar menolak menggunakan Bunga Gumitir sebagai maskot. Sebaliknya, peserta dialog saat itu justru merekomendasikan agar Bunga Padma atau Tunjung atau Teratai yang lebih pantas dijadikan maskot Bangli.    

Namun kata Gelgel, apa pun yang akan dipergunakan sebagai maskot Bangli harus bisa memberikan rasa bangga kepada masyarakat Bangli. “Untuk maskot Bangli, harus mempertimbangkan nilai historis, bisa mengangkat nama daerah dan bisa memberikan rasa bangga kepada masyarakat,” ungkapnya. Selain itu, mesti bisa memberikan nilai jual dan menjadi ciri khas dari daerah.   

Untuk wacana bunga gumitir yang akan dijadikan maskot, kata Gelgel, mesti dikaji juga nilai historis dan seberapa besar ada di Bangli. Pihaknya beranggapan rencana tersebut saat ini masih sebatas wacana. Sebab, untuk menjadikan sebuah maskot mesti melalui proses apakah dengan menggunakan Perda ataukah Perbub. Jika menggunakan Perda untuk disahkan menjadi maskot, tentunya nanti kalangan Dewan akan melakukan kajian dan memberikan masukan juga. “Sampai saat ini, saya anggap itu masih wacana. Jadi kita tunggu prosesnya,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Bangli I  Nyoman Basma menyampaikan, sejatinya dirinya sangat sreg untuk memakai pucuk bang untuk maskot Bangli. Namun sayangnya bunga pucuk ini telah dipakai oleh Kabupaten Gianyar. “Entah kenapa saya sangat suka dengan pucuk bang, kayak ada taksunya. Namun ini tentu tidak bisa kita paksakan untuk maskot Bangli karena terlanjur dipakai Kabupaten Gianyar,” jelasnya.

Kalau pemilihan maskot memang harus bunga, dia menyarankan agar bunga yang dijadikan adalah bunga langka yang sebelumnya pernah tumbuh di Bangli.  Sementara disisi lain, bunga langka ini memikili peranan luas  untuk kegiatan upacara agama. “Siapa tahu dengan dijadikan maskot bisa dilestarikan  sehingga masyarakat tidak kesulitan untuk mencari begitu ada pelaksanaan upacara,” tegas Basma.

Sementara kalau anjing KIntamani, jelas politisi Partai Golkar ini, rasanya anjing Kintamani telah dipatenkan. Selain itu, anjing Kintamani telah memiliki payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda). Jadi anjing Kintamani ini tentu tidak bisa dijadikan maskot, karena payung hukum maskot tentunya akan beda. “Anjing Kintamani kan sudah dipatenkan dan telah diatur dalam Perda,” papar Basma.

Sementara terkait dengan pemilihan bunga gumitir oleh Bupati Bangli Made Gianyar,  sebut Basma, kalau memang itu telah menjadi keputusan Bupati Bangli, tentunya harus diterima. Karena kalau terus mencari pendapat pribadi tentu tidak akan ada habisnya. Karena memang sulit untuk memuaskan banyak pihak.

“Namun sebelum diputuskan, pihaknya tetap berharap Bupati kembali meminta masukan maupuan aspirasi tokoh agama, masyarakat dan budayawan sehingga keputusanya lebih sempurna. (ard)