BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Dampak cuaca ekstrim terjadinya penurunan temperature suhu, sejauh ini telah membuat para petani di Kabupaten Bangli menjadi ketar-ketir. Sebab, dengan kondisi tersebut banyak tanaman yang dikembangkan petani, menjadi rawan mati. Belum lagi, serangan penyakit yang kian ganas sehingga sebagian besar petani rawan merugi.

Sebaliknya kondisi berbeda justru dialami sejumlah petani di Tanggahan Talang Jiwa, desa Demulih, Susut, Bangli yang saat ini beralih mengembangkan tanaman kacang Panjang dari pada padi. Pasalnya, dari hasil panen kacangnya tersebut mampu melebihi hasil dari tanaman padi. Hal ini diakui salah satu petani setempat, I Nyoman Linggih (62) saat ditemui sedang asyik memanen kacang Panjang bersama saudaranya, Kamis (18/7).  

Dengan senyum yang sumringah, Bapak tiga anak ini menceritakan awalnya beralih menanam kacang Panjang karena ganasnya serangan hama tikus yang menyerang padinya. “Saya beralih menanam kacang Panjang, karena kalau ditanami padi banyak serangan hama tikusnya. Serangan tikus disini sangat ganas dan sulit diatasi sehinga sering menyebabkan petani merugi,” jelasnya.

Karena itu, dirinya pun mencoba mengembangkan tanaman kacang Panjang. Selain untuk mengembalikan unsur hara tanah, nyatanya hasil panen yang dia dapat jauh lebih besar dari padi. “Saya menanam kacang Panjang dilahan seluas 10 are, bisa untuk ditanami sekitar 2.000 tanaman. Hasilnya, jauh lebih bagus daripada menanam padi,” ungkapnya.

Terlebih lanjut Linggih, ditengah kondisi cuaca saat ini tanaman kacang Panjang diakui lebih tahan penyakit dan untuk perawatannya juga mudah. “Hanya perlu waktu 50 hari dari saat tanam, tanaman sudah bisa dipanen. Keuntungan lain yang saya dapat, kalau menanam padi hanya bisa sekali panen. Sedangkan untuk kacang Panjang, saya bisa panen hingga 15 kali lebih,” bebernya.

Disebutkan juga, dengan luas lahan dan jumlah tanaman tersebut, dalam sekali panen bisa mendapatkan hingga 50 kilogram lebih. Terlebih harga saat ini, diakui, terbilang cukup tinggi mencapai Rp 10.000 per kilo. “Sehingga rata-rata sekali panen, saya bisa mendapatkan penghasilan antara 450 ribu hingga 500 ribu lebih,” ungkapnya dengan raut wajah riang.

Pihaknya juga semakin optimis pendapatannya akan semakin besar, menjelang hari raya Galungan, terutama saat hari Penyajaan dan Penampahan Galungan atau H-2 dan H-1 Galungan. Sebab, saat itu dipastikan harga kacang Panjang yang biasanya dipergunakan umat sebagai salah satu bahan untuk pembuatan lawar juga akan kembali naik. “Dari pengalaman sebelumnya, jelang hari raya Galungan biasanya harga kacang akan naik, bisa mencapai 15 ribu hingga 20 ribu per kilo. Saya harap harganya bisa terus bertahan naik,” pungkasnya. (ard)