BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Seoarang warga Kelurahan Kawan, Kabupaten Bangli, berhasil menciptakan sejumlah alat berbahan bakar air. Hanya saja, alat temuan berbahan bakar terbarukan tersebut baru sebatas dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga, seperti memasak dan usaha las.

Pencipta alat mengubah air menjadi bahan bakar tersebut, yakni Pande Ketut Bangbang Liawan (42 tahun). Ditemui di rumahnya, Selasa (13/08), Bapak lima anak ini menceritakan awal mula temuannya tersebut. Salah satu alat berbahan bakar air kran hasil ciptaannya yang saat ini sudah bisa dimanfaatkan, adalah peralatan las.  Hebatnya, alat las berbahan air kran tersebut tercipta hanya dalam hitungan tiga kali percobaan selama tiga hari saja.

“Saya belajar secara otodidak, dari google, youtube dan lain-lain. Saya gabung-gabung semua tehniknya itu, dari banyak sumber,” ungkap Alumni SMAN 1 Bangli tahun 1996.

Sebab, lanjutnya, untuk menciptakan alat tersebut, harus mengerti berbagai ilmu pengetahuan seperti kelistrikan dan kimia.  “Setelah semua itu dimengerti, tiga kali saya mencoba dan sempat gagal, astungkara sekarang bisa saya buktikan bahwa air itu bisa diubah menjadi bahan bakar untuk menggantikan bahan bakar fosil kedepannya,” ungkap Pande Liawan yang notabene lulusan seni pedalangan di ISI Denpasar tahun 2014.

Dalam percobaan yang dia lakukan, dua kali alatnya sempat meledak. Tapi kata dia, karena menggunakan bahan bakar air sehingga diklaim tidak akan membahayakan. Sebaliknya, dengan bahan air tersebut justru sangat ramah lingkungan. “Kalau pun meledak, air kan tidak bisa langsung menjadi api. Lain halnya dengan bensin, atau gas. Kalau ini meledak palingan hanya bisa bikin tetangga terkejut, karena suaranya saja,” jelasnya.

Saat itu Pande Liawan, juga memperagakan mekanisme kerja alat ciptaannya. Untuk pembuktiannya, Pande Liawan langsung menuangkan bahan bakar air dari kran ke alatnya tersebut di hadapan sejumlah awak media di Bangli. Hasilnya, sungguh mencengangkan. Alat las ciptaannya pun bisa langsung difungsikan.

Lebih lanjut, dijelaskan, alat pengubah air menjadi bahan bakar ini, dibuat dengan bahan-bahan sederhana yang dirangkai dan dirakit sedemikian rupa. Diantaranya tabung yang dibuat dari pipa paralon sebagai reactor. Tabung kaca mika sebagai penampung reaksi air dan selang untuk penyalur hydrogen, hasil dari reaksi air tersebut ke sumbu api.

“Agar air  bisa bereaksi, sebelumnya dicampur katalis atau zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, seperti garam atau soda kue dengan takaran tertentu. Sedangkan untuk bisa mengatur besar kecilnya volume api yang dihasilkan, kita guna lengkapi dengan amperemeter,” bebernya.

Sesuai hitung-hitungannya, dari satu liter air kran yang dipergunakan sebagai bahan bakar bisa menghasilkan energi panas untuk keperluan keluarga selama setengah  hari. “Alat yang baru saya ciptakan ini, tentunya akan bisa menggantikan sumber energy fosil yang selama ini kita manfaatkan. Dengan air sebagai bahan bakar, harga akan jauh lebih murah,” sebutnya.

Disampaikan juga, untuk bisa menciptakan alat las berbahan bakar air tersebut, hanya memerlukan biaya sekitar Rp 500 ribu saja. Hanya saja untuk pengembangan lebih jauh, pihaknya mengaku terbentur biaya dan peralatan yang lebih layak. Selama ini, temuan alat berbahan  bakar air itu, baru dilirik untuk usaha peternakan di Bangli sebagai penghangat  kendang ayam.

“Harapan saya, pemerintah bisa memfasilitas terkait hak paten. Sehingga masyarakat luas bisa mengetahui temuan ini berasal dari Bangli dan nama Bangli pun akan terangkat,” pungkasnya. (ard)