JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Usai menandatangani prasasti Kalpataru di komplek konservasi Lembu Putih, Bupati Gianyar Agus Mahayastra yang didampingi Kadis Lingkungan Hidup Gianyar, Wayan Kujus Pawitra menyebutkan kedepannya akan mengusulkan Kokokan Desa Petulu agar mendapat Kalpataru.

“Setelah Lembu Putih mendapat Kalpataru, kedepannya akan kita usulkan Kokokan Petulu mendapatkan Kalpataru,” jelas Bupati Mahayastra, Selasa (4/12/2018).

Lebih jauh, Bupati Mahayastra menyebutkan penghargaan Kalpataru tersebut merupakan bukti kecintaan masyarakat Gianyar terhadap lingkungan. “Namun kita akui, masih ada perusakan lingkungan, namun kita (Pemkab Gianyar) tidak akan menyerah dan terus berupaya agar lingkungan terus terjaga. Dengan Lembu Putih Desa Taro mendapat Kalpataru, menurutnya hal tersebut bukan saja kepada konservasi terhadap Lembu Putih, namun juga pelestarian alam di Desa Taro.

“Selain Kokokan, DAS juga akan kita usulkan mendapat Kalpataru, mengingat di Gianyar sudah tumbuh banyak pelestari lingkungan, dengan terus memungut sampah plastic,” terang Agus Mahayastra.

Bahkan menurutnya, Gianyar yang mengandalkan sumber daya alam, sudah semestinya alam terus dijaga. “Semakin dijaga, alam akan terus memberikan kontribusi terhadap kita, karena kita tidak memiliki tambang,” jelasnya lagi. Dengan didapatnmya Kalpataru tersebut, Agus Mahayastra berharap pel;estarian alam dan konservasi terus dilakukan, karena menciptakan lingkungan yang sehat, sudah terbukti Desa Taro bisa mendapat nilai ekonomi dari sector pariwisata.

Pembina Yayasan Lembu Purih, Wayan Tagil Kumara Nata menyebutkan dengan mendapatkan anugrah Kalpataru tersebut akan terus berupaya menjaga lingkungan hidup yang bersih dan melestarikan Lembu Putih. “Lembu Putih ini adalah hewan suci dan satu-satunya terdapat di Bali,” terang Tagil Kumara Nata. Dikatakannya di Desa Taro terdapat 51 ekor Lembu Putih, ada yang di kandangkan dan ada beberapa yang dilepas liar di kawasan hutan Desa Taro.

Pj. Perbekel Desa Taro, I Nyoman Karang mengatakan, sejarah berdirinya yayasan berawal dari kesadaran para pemuda dalam pelestarian lingkungan sehingga membentuk kelompok Go Green pada Januari 2010. Dilanjutkan dengan kegiatan pembersihan di kawasan Lambu Putih, Taro hingga terbentuk Yayasan Lembu Putih pada 2012.

Berbekal dari itu, Yayasan Lembu Putih menyusun rencana kegiatan dalam upaya memaksimalkan pencapaian target kegiatan. Yakni meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelestarian  Lembu Putih, memaksimalkan kerjasama dengan pihak terkait dalam upaya  perlindungan dan konservasi hutan Taro serta perlindungan situs sejarah Pura Gunung Raung, pengembangan tanaman langka usada (herbal) dan tanaman upakara.

“Tahun 2015 untuk pertamakalinya Yayasan Lembu Putih diusulkan pada ajang penghargaan Kalpataru. Tahun 2017 diusulkan kembali serta berhasil meraih Tropy Kalpataru katagori penyelamat lingkungan,” tambah Nyoman Karang.

Sebelum penandantanganan prasasti oleh Bupati Mahayastra, Trofi Kalpataru diserahkan kepada Ketua Yayasan Lebu Putih yang kemudian diarak dari Balai Desa Taro ke Penangkaran Lembu Putih yang jaraknya sekitar 1,5 km. Pengarakan trofi ini juga diiringi Tarian Cak dan Gong Baleganjur. Hadir pula dalam penyerahan Kalpataru, pejabat di lingkungan Pemkab Gianyar dan masyarakat setempat. (sar)