JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Salah satu penghubung antara Desa Pejeng dengan Desa Siangan adalah jembatan mini dengan lebar 100 cm.

Sehingga warga yang ingin melintasi jalan ini mesti antre dengan kendaraan yang dating dari arah berlawanan. Walau demikian, kendaran roda empat bisa melintasi Tukad Pakerisan ini pada saat musim kemarau. Sedangkan tempat pelintasan sepeda motor tersebut awalnya dibuat khusus untuk pejalan kaki.

Warga setempat, I Wayan Suasa sangat berharap ada jembatan permanen yang bisa menghubungkan dua desa antara Pejeng dengan Siangan.

“Kalau tidak salah, DAM ini dibuat tahun 1980-an, jalan penghubung itu untuk pejalan kaki. Namun karena perkembangan akhirnya jadi pintasan roda dua,” jelas Wayan Suasa. Sedangkan DAM tersebut sebelumnya airnya dalam dan mengalami pendangkalan. Air DAM tersebut digunakan untuk mengairi beberapa subak di Pejeng.

Menurut Suasa, jembatan tersebut layak dibangun, agar warga yang ke Tampaksiring bisa memilih jalur alternative melewati jembatan tersebut menuju Pejeng.

“Dengan adanya jembatan permanen, maka warga dari Siangan memiliki jalur pintas menuju Tampaksiring dan sebaliknya yang dari Tampaksiring ke Gianyar, ada jalur alternative bisa jalur Tampaksiring-Bedulu mengalami kemacetan,” bebernya.  Bahkan menurutnya, jembatan itu sudah dibuat sejak dahulu, mengingat setiap saat ada saja sepeda motor yang melintas.

Salah satu pengendara sepeda motor, Grantika asal Desa Batuan nekat menerobos sungai tersebut. “Tadi melewati jalan Tampaksiring, banyak orang nikahan, jalanan jadi macet. Akhirnya saya cari jalan pintas,” terang Grantika. Grantika sendiri menyebutkan sangat disayangkan kalau antara dua desa sampai saat ini belum ada jembatan penghubung.

“Kalau bisa ada jembatan, ini sangat vital apalagi tiap desa mulai berkembang desa wisata,” terangnya singkat. (sar)