JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KARANGASEM
Typography

ÀMLAPURA-fajarbali.com  I   Masih ingat dengan rumah milik I Wayan Pasek, warga asal Banjar Dinas Gunaksa,Desa Ababi,Abang, yang merupakan tempat bupati I Gede Dana menginap beberapa waktu lalu. Rumah tersebut kini di rehab oleh bupati dengan mempergunakan dana pribadinya. Pengerjaan perehaban rumah I Wayan Pasek pun dilakukan secara gotong royong,pada Kamis (12/5) kemarin. 

 

Untuk memastikan pengerjaan perebahan berjalan, Bupati Gede Dana turun langsung memimpin gotong royong untuk merehab rumah Wayan Pasek bersama warga, Kawil dan Perbekel setempat.  Bupati I Gede Dana menyampaikan, perbaikan atau rehab rumah Wayan Pasek memang diupayakan agar secepatnya dilakukan karena kondisi rumah warga tersebut sudah sangat memprihatinkan. Utamanya pada bagian atap yang sudah hampir ambruk. "Kasian kalau tidak segera diperbaiki, atap rumahnya bisa ambruk. Apalagi sudah mendekati musim hujan beberapa bulan lagi. Jadi saya mengajak warga untuk bergotong royong melakukan rehab rumah pak Wayan Pasek," ungkap Bupati Asal Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem ini. 

 

Untuk rehab sendiri kata Bupati Gede Dana,dilaksanakan dengan dana pribadi dan sumbangan dari para donatur. Kalaupun menunggu APBD,sebutnya, masih harus membutuhkan proses,sementara di beberapa bagian rumah petani penggarap ini sudah hampir jebol. Dalam proses rehab ini, bupati bersama tim juga merencanakan bisa selesai dalam sehari. "Ini harus segera jadi kalau menunggu anggaran Bedah Rumah dari APBD prosesnya membutuhkan waktu," ujarnya lagi. 

 

Selain itu, sesuai aturan bantuan bedah rumah syaratnya harus lahan milik pribadi, sementara keluarga Wayan Pasek ini istilahnya nyakap atau penggarap dan tinggal di lahan milik warga lainnya. Sehingga yang paling bisa dilakukan adalah dengan dana pribadi dan bantuan donatur yang dilaksanakan secara bergotong royong. 

 

Seperti diketahui,Wayan Pasek sendiri tinggal bersama istri Ni Ketut Rai dan salah seorang anaknya, Nyoman Yasa. Keluarga yang tinggal di lahan milik orang ini, menggantungkan hidup sebagai tukang panjat kelapa. Sedangkan, Wayan Pasek dan Ni Ketut Rai sendiri lebih banyak tinggal di rumah lantaran faktor usia. "Ada enam orang anak, tetapi hanya satu yang masih tinggal dirumah, sisanya ada merantau," sebut Ketut Rai.

 

Dikatakan Ni Ketut Rai, untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain dibantu oleh anak-anaknya, juga bergantung kepada Nyoman Yasa yang berprofesi sebagai tukang panjat kelapa. Dari hasil menjadi tukang panjat kelapa, hanya bisa untuk bertahan hidup karena tidak tentu ada orang yang mencari tukang panjat. "Kadang seminggu dua kali, setiap kali bisa sampai 35 pohon dengan upah Rp 6.000 per pohon," kesahnya. W-016

 

BERITA TERKINI