JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KARANGASEM
Typography

AMLAPURA-fajarbali.com | Kondisi cukup memprihatinkan dialami oleh bocah Balita I Kadek Pait (16 bulan) asal Banjar Dinas Dalem, Desa Tianyar Tengah, Kecamatan Kubu, Karangasem.

Di usianya yang semestinya sedang lucu-lucunya ini, harus menerima kenyataan pahit seperti namanya, badan yang kurus nyaris menyisakan kulit saja dan kondisinya pun kurang terawat. Anak pasangan Ketut Diesel (30) dan Ni Kadek Sariati (23) menjadi salah satu potret kemiskinan di Pulau yang bergelimangan dolar.

Saat didatangi, Kamis (15/11/2018), tampak kedua orang tuanya sedang mengendongnya. Ketut Disel yang bekerja sebagai buruh serabutan dan pembuat gula Bali ini benar- benar tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi anak keduanya ini. Sebagai buruh yang berpenghasilan tak menentu, membuatnya tidak mampu membiayai pengobatan Nengah Pait.

Bahkan, ia yang dulunya memakai layanan Kesehatan BPJS secara mandiri juga harus terputus sejak setahun lalu karena tidak mampu membayar. Dengan kondisi kemiskinan itu juga, membuat Pait tidak bisa dibawa berobat ke Rumah Sakit.

Sebagai buruh tidak menentu ini, Sariati menceritakan, ia bersama suaminya bekerja sebagai pencari tuak yang kemudian diolah menjadi gula Bali yang hanya menghasilkan uang selama dua hari Rp 20 ribu. Itupun dilakukanya saat musim kemarau. Namun jika musim hujan seperti sekarang ini, biasanya suaminya menjadi buruh di Desa Songan, Bangli. Untuk mencapai Desa Songan, Suaminya pun melakukanya dengan berjalan kaki. "Karena sekarang anak kondisinya masih seperti ini, ya tidak bisa meninggalkannya jauh-jauh," ujar Sariati.

Ni Kadek Sariati sendiri juga menceritakan, jika saat dilahirkan anak keduanya ini lahir secara normal seperti anak sehat pada umumnya. Namun sayangnya, kondisi Pait mulai mengalami perubahan sejak usia dua bulan. Saat itu, Pait mengalami panas tinggi, kedua orang tuanya membawa Pait kesalah satu bidan di Munti Tukad Bumbung Desa Tianyar Barat. 

Meski diberikan obat, kondisi anaknya tidak kunjung ada perubahan. Sehingga Pait di bawa ke Rumah Sakit Karangasem untuk menjalani pengobatan. "Sempat di bawa ke RSUD untuk pengobatan, namun tidak ada perubahan dan sekarang semakin memburuk," ujarnya.

Bahkan, kata Sariati, berat anaknya sekarang hanya 2.8 kilogram. Jika dibandingkan dengan saat lahir yang mencapai 4 kilogram, jelas kondisinya berbeda. Sekarang Pait dalam kondisi selain kurus kering, jari-jari tangan kaku tidak bisa digerakkan serta kedua kaki dan tangan bengkak. Untuk makan sehari-hari juga tidak begitu banyak, hanya sedikit Sun yang dibelinya dari warung. "Dia tidak mau banyak makan, hanya sedikit saja, dan tubuhnya juga semakin kurus," ujarnya lirih.

Sariati juga menceritakan, kondisi serupa juga dialami anak pertamanya, Ni Wayan Ita. Anak pertamanya tersebut meninggal dengan kondisi yang sama seperti dialami oleh Nengah Pait. Ia pun mengaku pasrah dengan kondisi anaknya tersebut. Sariati juga berkeinginan untuk mengajak anaknya berobat. Namun karena keterbatasan ekonomi, membuatnya tidak bisa berbuat banyak.

"Mau berobat pakai apa, suami penghasilanya tidak menentu,berharap ada dermawan  yang membiayai pengobatannya. Saya ingin melihat anak sehat seperti anak pada umumnya," ujarnya penuh harap. Ia juga mengaku, meski anak pertama dan keduanya kondisinya nyaris sama, sampai saat ini belum pernah mendapat bantuan baik dari Pemprov Bali maupun Pemkab Karangasem. (bud)