JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography
SEMARAPURA - fajarbali.com | Meningkatkan kebutuhan pangan di masa pandemi rupanya memberi inspirasi kepada Gede Setiawan (26) untuk merintis usaha budidaya sayur organik. Dengan modal Rp100.000, pemuda bergelar Sarjana Fotografi asal Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung ini lantas nekat memulai bisnisnya. Kini tangan dinginnya telah menghasilkan aneka jenis sayuran organik.




Penjualan hasil kebun yang dinamainya "Dura Farm Sayur Organik" pun meroket setelah dipasarkan secara online.

Gede Setiawan atau yang akrab disapa Yande memuturkan, ketertarikannya berkebun organik terjadi di awal masa pandemi Covid-19. Ketika itu, sempat terjadi kelangkaan pangan, utamanya aneke sayuran. "Awalnya saya ragu memulainya, apalagi saat itu saya belum tahu seluk beluk sistem pertanian organik. Namun, karena keyakinannya bahwa pertanian organik punya prospek yang cerah, dengan modal nekat sayapun memulainya," kisahnya Rabu (14/10/2020).

Dengan bekal uang Rp100.000, Yande lantas membeli bibit sayuran dan juga polybag. Kemudian ia mulai memanfaatkan lahan seluas 4 × 5 meter di pekarangan rumahnya sebagai tempat media tanam. Ada beberapa jenis bibit sayur yang ditaman, diantaranya bayam, pakcoy (sawi sendok), selada dan kangkung. Untuk merawat tanamannya, pemuda yang juga berstatus sebagai tenaga kontrak di Pemkab Klungkung ini memilih bahan-bahan organik. Seperti bawang putih yang digunakan untuk membasmi hama.

"Terus terang pengetahuan saya soal tanaman organik sangat minim. Saya hanya mencoba dan terus mencoba. Sambil menanam, saya mencari referensi dari buku maupun internet. Saya juga belajar pada orang lain yang lebih berpengalaman," ujarnya.

Kini bibit-bibit yang disemai telah berkembang dengan subur. Meski demikian, tantangan yang dihadapi Yande tetap ada. Yakni untuk proses pemasaran. Mulanya, peminat sayuran organik yang ditanamannya tidak terlalu banyak. Apalagi untuk harga, Yande mengatakan memang tinggi dibandingkan sayuran yang dirawat dengan bahan-bahan kimia. Oleh karena itu di awal-awal pemasaran, dirinya hanya menitipkan sayur hasil panennya di warung milik ibunya. Harganya bervariasi, kisaran Rp4000-5000 per bungkusnya.

Ketika itu hasil penjualan tidak banyak. Kemudian Yandepun mulai merambah pada penjualan secara online. Ia mulai bekerja keras untuk mencari pembeli secara online. Di luar dugaan, ternyata banyak yang antusias dan ingin mengetahui lebih banyak prihal kebun organiknya.

"Pemasaran sayuran organik memang masih terbatas. Harga sayur pakcoy organik bisa mencapai Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per bungkus," ungkapnya seraya berharap usaha kecil-kecilan yang dirintisnya bisa terus berkambang. (dia).