JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Harapan pemerintah untuk terbebas dari kasus rabies, nampaknya belum dapat terealisasi. Data Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung menunjukkan sepanjang tahun 2021 ditemukan 21 kasus anjing positif rabies. Tak hanya itu, capaian vaksinasi anjing untuk tahun ini juga tidak sesuai target. Yang mana sebelumnya vaksinasi ditargetkan menembus 80 persen populasi anjing, namun realisasinya hanya di angka 37 persen saja.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung, Ida Bagus Juanida, Rabu (29/12) menjelaskan, temuan kasus anjing positif rabies sepanjang tahun 2021 terjadi di tiga kecamatan. Kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Banjarangkan, yakni sebanyak 9 kasus, kemudian di Kecamatan Klungkung sebanyak 7 kasus, serta Kecamatan Dawan 5 kasus. Sementara, untuk Kecamatan Nusa Penida, statusnya masih menjadi satu-satunya kecamatan yang terbebas dari kasus anjing rabies.

Mengenai hal tersebut, IB Juanida mengungkap, hingga saat ini Kecamatan Nusa Penida masih menjadi kawasan yang terisolir. Artinya, potensi lalu lintas anjing ke Nusa Penida sangatlah kecil. Demikian juga dengan pelaku perjalanan yang membawa anjing ke pulau tersebut. Kondisi ini tentu memberi kemudahan bagi petugas untuk melakukan pengawasan. Kalaupun ada anjing liar ataupun diliarkan, tetapi dipastikan anjing-anjing tersebut tidak sempat kontak dengan anjing dari luar pulau yang berpotensi menularkan virus rabies. "Tentu kita punya tugas berat lakukan pengawasan, agar tidak ada lalu lintas anjing masuk ke wilayah Nusa Penida," ujarnya.

Kondisi berbeda justru terjadi di Klungkung daratan. Batas wilayah antar satu kecamatan dengan kecamatan bahkan kabupaten lain sangat terbuka. Sehingga mobilitas anjing sangatlah mudah berpindah. Hal tersebut tentu mempermudah penularan virus rabies. "Untuk Klungkung daratan, kita kan tidak punya batasan antar wilayah, seperti dengan Kabupaten Karangasem ataupun dengan Gianyar. Di samping memang secara populasi wilayah kita (Klungkung daratan) memang lebih kecil dari Nusa Penida tapi populasi anjingnya lebih tinggi. Potensi anjing liar dan diliarkan juga lebih besar," papar IB Juanida.

Sejauh ini, vaksinasi anjing dikatakan tetap menjadi upaya andalan untuk mencegah penularan virus rabies. Di samping juga memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai cara memelihara anjing yang tepat. Namun, khusus untuk vaksinasi anjing tahun ini disampaikan belum mencapai target. Lantaran terkendala anggaran yang terdampak refocusing. Semula Dinas Pertanian menargetkan capaian vaksinasi di angka 80 persen dari populasi. Tetapi hingga akhir tahun, capaian yang terealisasi hanyalah 37 persen. "Penyebabnya karena ada rasionalisasi anggaran. Dulu bisa suport pengadaan vaksin, sekarang tidak bisa. Dari pusat juga dibatasi jumlah vaksin yang kita dapatkan," jelasnya.
Meski demikian, IB Juanida memastikan pihaknya tetap mengupayakan pengadaan vaksin di tahun 2022. Sesuai rencana, Dinas Pertanian sudah mengusulkan anggaran pengadaan vaksin melalui APBD sebanyak 5.000 dosis. Sedangkan pasokan dari pemerintah pusat dikatakan belum ada kepastian. (dia)

BERITA TERKINI