JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Status bebas malaria yang sempat disandang Kabupaten Klungkung, kini harus ditanggalkan. Pasalnya sejak Februari lalu, pasien suspek malaria kembali merebak.

Tercatat, ada dua pasien suspek malaria, Kadek Pait Wirawan (22) dan I Nengah Sulatra (42) yang diduga terjangkit di wilayah Nusa Penida. Sebagai upaya antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung pun gencar menebar benih ikan di sejumlah lagoon di wilayah Nusa Penida.

Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, dr. Ni Made Adi Swapatni saat dikonfirmasi, Selasa (23/4/2019) tak menampik adanya pasien suspek malaria tersebut. Namun, dirinya menegaskan, kedua pasien bukanlah warga yang menetap di Nusa Penida. Kadek Pait Wirawan (22) merupakan mahasiwa yang beralamat di Dusun Pelilik, Desa Pajukutan, Nusa Penida.

Tetapi, selama ini ia menetap di Jalan Batuyang, Gang Garuda III, Batubulan, Gianyar. Sejak Jumat (22/2) lalu, pasien menderita demam tinggi, dan kini sudah dirawat di RSUP Sanglah dengan diangnosa positif malaria vivax. Pasien diduga terjangkit virus yang disebarkan melalui gigitan nyamuk ini,  saat pulang ke kampung halamannya di Nusa Penida.

Sementara I Nengah Sulatra (42) merupakan warga yang berasal dari  Banjar Bangle, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem. Sebelumnya, pria paruh baya ini sempat bekerja sebagai buruh bangunan di wilayah Nusa Penida. Namun, sejak tanggal 10 Maret dirinya menderita panas tinggi. Bahkan, hingga tanggal 13 Maret demannya tidak kunjung membaik. Pasien sempat dikira menderita demam berdarah, tapi saat dilakukan pemeriksaan lebih mendalam pada tanggal 30 Maret ia positif dinyatakan menderita malaria.

"Kami sudah lakukan langkah-langkah pengawasan dan pemantauan langsung. Tindak lanjut pertama tentu yang sakit kita awasi pengobatanya dan lingkungan sekitar agar tidak berisiko," ujar Kadiskes didampingi Kasi Pencegahan dan Penyakit Menular, Wayan Kariana.

Lebih lanjut diungkap, sejatinya Bali khususnya Klungkung sudah sempat menyandang status bebas malaria pada tahun 2000an. Dengan kondisi sekarang ini, Adi Swapatni pun menegaskan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya antisipasi. Diantaranya, dengan menebar benih ikan di tiga lagun yang berada di wilayah Nusa Penida. Cara ini diyakini cukup efektif, mengingat ikan dapat memakan jentik-jentik nyamuk yang hidup di lagun.

"Kami sudah tebar ikan 200 ekor di tiga lokasi. Di Lagoon Bodong, Prapat, dan Kutampi. Kita fokus di daerah sana dulu. Cara ini lumayan efektif," imbuhnya. Dirinya pun berharap warga sekitar turut berpartisipasi dalam upaya pencegahan ini. Diantaranya dengan tidak memancing ataupun menangkap bibit ikan yang ditebar. (dia)