JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Dinginnya jeruji besi rupanya tak menbuat salah seorang PNS Pemkab Klungkung, I Nyoman Simpul jera. Pasca bebas atas kasus penipuan tenaga kontrak, Rabu (17/7/2019), pegawai di Dinas Kerasipan dan Perpustakaan Klungkung ini kembali dijembloskan ke tahanan.

Kali ini ia terjerat kasus dugaan korupsi dana hibah sebesar Rp70 juta untuk pembangunan salah satu Pura Paibon di Banjar Nyamping, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan. Simpul tak sendiri, mantan sekretaris DPC PDIP Klungkung, Ketut Ngenteg juga turut ditahan karena diduga membuat pertanggungjawaban fiktif atas dana hibah tersebut. 

Usai menerima pelimpahan tahap II dari penyidik Polres Klungkung, Kasi Pidsus Kejari Klungkung, Kadek Wira Atmaja mengungkap pemahanan Simpul dan Ngenteg dilakukan karena alasan subyektif. Yakni agar tidak melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. Mengingat sebelumnya, Ngenteg dilaporkan sempat tidak menghadiri panggilan tim penyidik Polres Klungkung. 

Untuk menangani kasus ini, Wira Atmaja mengatakan Kejaksaan akan menyiapkan tujuh hingga delapan Jaksa Penuntut Umum (JPU). “Ada tujuh atau delapan JPU yang kami siapkan untuk menangani perkara ini. Segera akan kami limpahkan kasus ini ke pengadilan, karena kami punya waktu 20 hari melakukan penahanan,” ujarnya.

Sementara setelah diputuskan untuk ditahan, baik Simpul maupun Ngenteg nampak tidak terkejut. Bahkan keduanya terlihat santai. Sekitar pukul 13.00 Wita, keduanya digiring ke mobil tahanan menuju Rutan Klungkung. Ketut Ngengeg terlihat mengenakan celana pendek dan baju lengan panjang loreng. Sedangkan Simpul, memakai celana panjang serta pakaian berkerah. Saat digiring ke mobil tahanan, kedua juga mengenakan baju tahanan Kejaksaan. 

Pelimpahan kasus dugaan korupsi dana hibah ini ke Kejaksaan sejatinya dijadwalkan pada Hari Senin (15/7) lalu. Namun, terpaksa diundur lantaran salah seorang tersangka yakni Ketut Ngenteg mangkir dari panggilan tim penyidik. Padahal surat panggilan sudah dilayangkan tiga hari sebelumnya.  Hal inipun akhirnya membuat tim penyidik bergerak dan menjemput paksa pria asal Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan ini di rumahnya. "Kami jemput paksa dia di rumahnya malam itu juga. Karena HPnya juga mati, “ ujar Kasat Reskrim Polres Klungkung, AKP Mirza Gunawan usai pelimpahan di Kantor Kejaksaan. 

Sementara tersangka Nyoman Simpul, yang bertindak sebagai ketua panitia pembangunan Pura ngotot mengaku tidak pernah menikmati dana hibah tersebut. Justru sebaliknya, untuk melancarkan pencairan dana, Ketut Ngenteg meminta uang kepadanya sebesar Rp10 juta. Namun, karena uang yang dimilikinya terbatas, Simpul hanya menyerahkan sebesar Rp7 juta saja. "Saya tidak ada menerima uang. Ngenteg semuanya yang mengurus itu, justru saya dimintai uang Rp 10 Juta agar dana bisa cair. Tapi karena tidak punya uang, sebanyak itu maka saya hanya berikan Rp 7 juta saja,” ujar Simpul seraya mengatakan sudah meminta agar Ngenteg mengembalikan seluruh dana hibah tersebut. Tetapi sampai saat ini, dana yang berujung berkara ini tidak kunjung dikembalikan. 

Untuk diketahui, Simpul sebelumnya sudah pernah terjerat kasus penipuan tenaga kontrak Kabupaten Klungkung. Sedangkan Ngenteg, sempat terlibat kasus korupsi dana hibah sebesar Rp90 juta di Desa Bumbungan, Banjarangkan, Klungkung pada tahun 2014 lalu. Dalam kasus ini, Ngenteg terbukti bersalah karena berperan sebagai calo hibah dan terbukti menilep dana hibah pembangunan Bale Piasan Taman Sari ini sebesar Rp 61.500.000. Atas perbuatannya tersebut, ia divonis satu tahun penjara. 

Sedangkan untuk kasus yang menyeret Simpul dan Ngenteg saat ini, keduanya akan dijerat pasal 3 jo pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomer 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara dengan denda minimal Rp 200 juta. (dia)