JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography
GIANYAR-fajarbali.com | Seni lukis di Gianyar berkembang dalam beberapa gaya atau style. Semua gaya ini mendapat pengakuan dan berkembang memiliki penerusnya. Salah satu gaya itu, Style Young Artist terlahir dari tangan para seniman muda Banjar Penestanan, Desa Sayan, Ubud di bawah bimbingan pelukis internasional, Arie Smith.

Gaya ini menonjolkan gambaran aktivitas masyarakat Bali tempo dulu. Gaya ini akhirnya berkembang luas ke luar Penestanan. Generasi pelukis di Banjar Kutuh sampai saat ini masih setia dengan lukisan gaya Young Artist.

Gaya lukisan ini sebelumnya sempat menyelamatkan Ubud dari krisis ekonomi tahun 1963 itu, meskipun jumlah pembelinya menurun tajam. Hanya saja, kini jumlah pelukis young artist di Banjar Kutuh relatif sedikit. Sebab sebagian besar memilih beralih ke gaya lain yang lebih digandrungi pasar. Sebagian juga berhenti menjadi pelukis dan mencari pekerjaan lain.

Baca Juga :
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Dipusatkan di Pilan, Bupati Mahayastra Menanam Pohon ‘Nyabah’
Tekan Trek-trekan, Polsek Sukawati Gelar Sosialisasi, Disisipi Bahaya Narkoba dan Kenakalan Remaja


Diantara penerus gaya lukisan inmi adalahI Made Balik Yudiana (53) alias I Made Lusuh, Nyoman Rustiawan alias Siram, Made Subakta, Made Suarka, Nyoman Mawa, Anak Agung Ngurah, Sang Nyoman Rai, Kadek Ardita, Wayan Yoga, Ni Ketut Muliani alias Moleh, dan Nyoman Sudarta. Rata-rata mereka sudah menekuni gaya young artist selama 30an tahun. Dimana Made Lusuh adalah generasi pertama pelukis gaya young artist.

“Dulu saya belajar langsung ke Penestanan sekitar tahun 1970-an. Seiring berjalan waktu, banyak pelukis di sini yang menekuni gaya young artist, dulu di banjar ini hampir semua, tapi sekarang bisa dihitung jari. Banyak yang beralih ke gaya lain,” jelas Made Lusuh, Minggu (6/6/2021) kemarin. 

Dijelaskan Made Lusuh, menjadi seniman di masa pandemic tidak mudah. “Biasanya lukisan kami dicari pengepul untuk dijual di artshop, saat ini banyak art shop yang tutup,” jelasnya. Beberapa mencoba menjual lukisan via online, namun pembelinya tidak seberapa banyak.

Pelukis lain, Nyoman Siram juga menyebutkan, sebelum pandemic, pelukis di Banjar Kutuh bergantung pada lukisan. “Selain melukis, ada yang menjadi guru, pekerja hotel dan pekerjaan lain,” tambahnya. 

Seniman young artist menyebut, pada masanya gaya tersebut sempat memberikan kejayaan dan menghidupi seniman di desanya. “Kami tetap bertahan untuk melukis young artist. kami tetap pertahankan supaya young artist berjaya seperti dulu lagi,” ujarnya.

Sedangkan salah satu pengembangannya adalah, seniman Sayan siap berbagi ilmu kepada wisatawan yang berkunjung ke Desa Sayan. “Kalau berkunjung ke Desa Sayan, jangan lupa belajar melukis gaya young artist, sambil menikmati wisata lain di Ubud sekitarnya,” jelas Nyoman Siram. (sar)