JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography
Mangupura-fajarbali.com | Setahun lebih masyarakat Bali yang hidup dari sektor pariwisata tanpa memperoleh penghasilan. Dampak sosial akibat pandemi Covid-19 ini sangat terasa mulai dari pengangguran hingga kemiskinan.

Dikhawatirkan, dampak sosial lainnya juga semakin parah. Maka dari itu, dengan melihat perkembangan kasus Covid-19 yang terkendali, dengan jumlah kasus harian turun, kasus kematian juga menurun serta recovery atau angka kesembuhan meningkat, desakan untuk buka border internasional makin mengemuka.

Beberapa asosiasi pariwisata di Bali menyerukan agar Bali segera dibuka untuk wisatawan mancanegara (wisman). Desakan ini menguat bukan tanpa alasan, kondisi Bali yang mengalami kedaruratan secara ekonomi, menurut mereka pariwisata adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan ekonomi Bali saat ini.

Baca Juga :
Usaha Bangkrut, Pemilik Spa Beralih Jadi Pengemis
Rencana Pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi, Diawali Sosialisasi di Kecamatan Melaya


Ketua PHRI Badung Agung Rai Suryawijaya menilai, situasi dan kondisi pandemi saat ini menyebabkan ekonomi Bali merosot tajam selama hampir 1,5 tahun dengan pertumbuhan minus.

"Kalau Bali ini tidak dilakukan penanganan secara khusus, sampai 2021 kontraksi ekonomi Bali akan berlanjut, makanya sangat logis dan wajar sekali industri pariwisata yang sudah kolaps setahun lebih ini untuk mengusulkan agar Bali buka untuk internasional," ungkapnya, Selasa (8/6/2021).

Rai Suryawijaya mengatakan keinginan membuka pariwisata untuk wisman telah dipikirkan secara matang, tanpa mengabaikan kesehatan. la menyebut anggota PHRI Badung pun telah 70 persen disertifikasi dan menyatakan siap menerima tamu dengan era new normal ini.

"Jika Juni ini sudah membaik, Juli mendatang harus ada langkah berani untuk membuka, karena dengan wisatawan domestik (wisdom), kontribusi 7.000 - 9.000 per hari, baru bisa mengisi tingkat hunian hotel 10 persen," ujarnya.

Ia menambahkan, dengan adanya Work From Bali (WFB) diperkirakan akan bisa menambah hunian lagi 5 persen.

"Tingkat okupansi ini jauh dari yang kita harapkan, maka dari itu internasional border segera harus dibuka tentu dengan persyaratan dan prokes yang ketat. Hal ini untuk mengatasi masalah krisis di Bali karena berturut-turut berkontraksi," pungkasnya. (dha)