EKONOMI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Sejumlah komoditas hasil pertanian di Kabupaten Bangli, belakangan mengalami penurunan harga alias anjlok. Kondisi ini diduga terjadi akibat over produksi pasca banyaknya masyarakat beralih terjun ke pertanian pasca sektor pariwisata di Bali ditutup sebagai  dampak penyebaran pandemi Covid-19.

Sesuai pantauan di Pasar Kidul Bangli, Senin (11/10/2021), harga berbagai hasil pertanian memang cenderung anjlok. Seperti halnya, harga kencur yang sempat tembus Rp 50 ribu/ kg kini turun menjadi Rp 35 ribu/kg. Demikian halnya harga cabai kecil, harganya kini hanya berkisar Rp 15-18 ribu/kg. Cabai besar harganya Rp 20 ribuan per kg. Bawang merah berkisar Rp 16 sampai 18 ribu per kg. Bawang putih berkisar Rp 18-20 ribu per kg.

 

Ni Ketut Remayani (50) salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Kidul menuturkan, turunnya sejumlah hasil komoditas pertanian tersebut telah terjadi sejak sebulan terakhir. “Kemungkinan harga turun, karena banyak masyarakat sekarang beralih ke pertanian sebagai dampak tutupnya pariwisata Bali akibat Covid-19. Karena itu, saat ini kemungkinan terjadi over produksi,” ungkapnya.  Disisi lain, Ibu dua anak ini juga menyebutkan, ada juga sejumlah hasil pertanian yang harganya tetap tinggi. “Untuk rempah-rempah seperti kapulaga, merica, jebug arum, tabia bun yang mengalami kenaikan rata-rata mencapai Rp 10 ribu per kg. Sedangkan untuk jahe, pada awal Covid-19 harganya memang sangat tinggi mencapai 50 ribuan per kg. Tapi sekarang sudah turun menjadi Rp 18 ribu per kg,” jelasnya.

 

Disampaikan, naik turunnya harga tersebut hal yang lumrah terjadi. "Saat kondisi turun sekarang, tentunya masyarakat secara umum akan senang karena bisa membeli kebutuhan dengan harga yang lebih terjangkau. Sebaliknya, bagi petani tentu akan merasa rugi. Itu hal yang lumrah terjadi," ungkapnya. 

 

Penurunan harga sejumlah hasil pertanian ini juga diakui Komang Sukarsana, salah satu petani di desa Songan, Kintamani. Kata dia, belakangan ini harga sejumlah hasil pertanian memang mengalami penurunan. “Hal ini kemungkinan disebabkan terjadinya over produksi saat ini,” jelasnya. Mengingat, lanjut dia, dampak pandemi Covid yang menyebabkan terpuruknya sektor pariwisata, telah membuat banyak masyarakat pulang kampung sehingga mau tak mau ikut terjun sebagai petani.

Atas kondisi tersebut, pihaknya meminta peran pemerintah untuk bisa melakukan pemetaan pola tanam untuk mengantisipasi terjadinya over produksi. “Selama ini, pemetaan pola tanam belum diterapkan pemerintah untuk mengantisipasi over produksi,” jelasnya. Padahal, jika itu bisa dilakukan pihaknya optimis persoalan fluktuasi harga yang kerap merugikan petani akan bisa diminimalis. (ary)