JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

DENPASAR – fajarbali.com |  Royal Philips (NYSE: PHG, AEX, PHIA), pemimpin global dalam teknologi kesehatan,  mengumumkan peluncuran inisiatif global untuk merayakan keberhasilan pasien, penyedia layanan kesehatan dan perawat dalam pengelolaan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Diluncurkan bertepatan dengan Hari PPOK sedunia pada 21 November, kampanye ini bertujuan untuk membantu menginspirasi pasien PPOK dan orang-orang yang merawat mereka guna meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

PPOK adalah penyakit progresif yang mengancam jiwa yang diperkirakan mempengaruhi lebih dari 251 juta orang di dunia[1] dan diperkirakan menjadi penyebab kematian ke-tiga pada tahun 2020[2]. Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) 2013 mengungkapkan bahwa jumlah pasien PPOK naik 3,7%.

“Namun, data ini tidak mewakili keadaan sesungguhnya di Indonesia,” ungkap Prof. dr. Faisal Yunus dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Sebuah studi biomass sebagai kolaborasi antara Indonesia dan Vietnam yang dilakukan pada tahun 2013 menemukan bahwa prevalensi PPOK pada pasien bebas rokok sama tingginya. Studi tersebut melibatkan responden berusia di atas 40 tahun yang tinggal di Banten dan DKI Jakarta dan menemukan prevalensi pasien PPOK sampai 6,3%[3].”

 

Menurut Prof. Faisal Yunus, kebanyakan pasiennya datang sudah dengan keluhan, seperti sesak napas, gampang kehabisan napas saat naik-turun tangga, dan sudah dengan kecacatan, “Jarang sekali mereka datang dengan gejala awal karena mereka tidak menyadari gejala awal pentakit itu,” ujarnya. “Selain itu, banyak juga yang beranggapan bahwa olahraga rutin atau kunjungan ke wilayah dengan udara bersih bisa mencegah penyakit paru.  Padahal ini tidak benar. Zat yang sudah terlanjur bertumpuk di paru karena asap rokok dan polusi udara, tidak akan hilang, Mereka yang sudah ada gejala dan makin parah  harus berobat ke dokter.”

Meskipun PPOK merupakan penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan, bukan berarti ini adalah penyakit yang melemahkan. Pasien akan tetap bisa hidup dengan baik meski mengidap PPOK asalkan patuh pada perawatan dan pengobatannya, sehingga mengurangi pemburukan penyakit.

Sementara itu, Philips menawarkan beberapa tips bagi para pasien PPOK agar bisa hidup dengan baik dan tetap aktif:     Memiliki pola pikir positif – Ubah pandangan Anda tentang penyakit dan pahami bahwa kunci untuk tetap aktif terletak pada setiap individu.    Tentukan tujuan Anda – Tanyakan pada diri Anda sendiri apa yang ingin dilakukan. Tetapkan tujuan jangka pendek dan panjang untuk diri Anda sendiri.    Olahraga dengan bijaksana – Olahraga dapat membantu memperkuat kelompok otot besar dan memperbaiki sirkulasi saluran napas. Berusahalah untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan, dan fleksibilitas dengan membagi tugas ke bagian-bagian yang lebih kecil dan menjadwalkan waktu istirahat yang sering.    Pertahankan gaya hidup sehat – Pertahankan pola makan yang sehat dengan nutrisi yang tepat dan tidur yang cukup. Pola makan yang buruk dapat memperburuk gejala dan memengaruhi kemampuan untuk berolahraga.     Bersabar – Pahamilah bahwa proses membutuhkan waktu. Dengan olahraga dan pola makan yang sehat, kekuatan dan daya tahan Anda bisa pulih.

 

 

 

Pada Hari PPOK Sedunia tahun ini, setiap jam Philips akan mengunggah keberhasilan nyata pasien di seluruh dunia untuk memotivasi para penderita PPOK menghadapi tantangan pengelolaan PPOK mereka. Di Indonesia, Philips menghadirkan berbagai solusi untuk PPOK, yaitu Philips Nebulizer, Stationary and Mobile Oxygen Concentrator yang bisa dipindah dan dibawa dengan mudah, Dreamstation AVAPS (average volume-assured pressure support) yang secara otomatis dapat menyesuaikan dengan perkembangan penyakit dan berubah sesuai dengan kebutuhan pasien, serta ventilator Trilogy dari rumah sakit ke rumah. (Sud)