JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

GIANYAR-fajarbali.comDesa Bona, Kecamatan Blahbatuh Gianyar sejak 50 tahun lalu terkenal dengan kerajinan anyaman daun lontar. Bahkan rata-rata-warga disana saat itu bias menganyam daun lontar. Anyaman lontar ini pertamanya membuat topi buat petani ke sawah, tikar dan tas kecil untuk pemangku.

Di Tahun 1980-an, kerajinan anyaman daun lontar berkembang pesat dengan boomingnya pariwisata di Bali. Kerajinan anyamam lontar ini beredar sampai ke Eropa, utamanya negara Spanyol, Perancis dan Italia. Selanjutnya pasar di Asia adalah Jepang. Salah satu perajin dan penjualanyaman daun lontar di Desa Bona adalah Usaha Pucuk Lontar Mas, dengan pemilih I Gusti Ngurah Suwantara (46). Dirinya bersama keluarga merintis usaha tersebut sejak tahun 1980-an. Bahkan usahanya  berkembang sampai ke Kuta. “Namun setelah Bom Bali, usaha kami sempat surut, namun kami bertahan dengan toko kami di Bona ini,” jelas Gusti Suwantara.

 

Dikatakan Gusti Suwantara, saat usahanya berkembang, banyak anak-anak SD yang ikut menganyam lontar, sepulang sekolah. “Hampir semua anak SD waktu itu bisa menganyam lontar,” jelasnya. Saat booming pariwisata itu, kerajinan anyaman lontar berkembang model dan pembuatan ditambah dengan jaritan. “Perkembangan model anyaman berkembang, dari topi sampai ke tas, dompet dan souvenir lainnya,” tuturnya. Bahkan dikatakannya, beberapa disain anyaman didapat dari pesanan wisatawan. Sedangkan wisatawan yang membeli untuk di jual lagi, seperti tas untuk laundry hotel, tas liburan pantai, atau kebutuhan wisatawan lainnya yang bahannya semua alam.

 

Sementara itu, daun lontar yang terbaik berasaldari lontarDesa Culik,Karangasem. Namun kini persediannya menipis, karena tidak ada penanaman lontar lagi dan daun lontar banyak dibutuhkan di Bali. Kebutuhan di Bali selain untuk upakara,juga untuk penjor, sehingga daun lontar didatangkan dari Jawa Timur. “Kendala kami kesulitan mencari tenaga penganyam. Anak SD saat ini sangat jarang yang bias menganyam, regenerasi kami tidak ada,” keluhnya. Penganyan lontar saat ini generasi tua, ibu-ibu yang menyelesaikan pekerjaan dapur, baru bekerja anyaman.

 

Harapannya, pemerintah melalui Gubernur Bali, Pak Koster, bisa meregenerasi penganyam, melalui pendidikan keterampilan disekolah. “Kendala kami tenaga, banyak pemesan Eropa komplin,karena lambatnya penyelesaian. Kami kekurangan tenaga, ini persoalannya,” tuturnya. Paling tidak, pekerjaan menganyam bukanlah tujuan utama, namun daripada tidakmemiliki pekerjaan samasekali, pekerjaan menganyam bias meenjadi alternative. Selain itu, keterampilan menganyam harus dimiliki anak-anak di Bali, sebelum keterampilan itu diambilalih wilayah luar Bali. “Bila serius bekerja, pendapatan bias mencapai nila kerja tukang bangunan sehari,” tutupnya. (sar)