JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Target PAD Tabanan Menurun, Difisit Hingga Rp 41 MilIar

TABANAN
Typography

TABANAN-fajarbai.com | Rapat Banggar yang dipimpin Ketua DPRD Tabanan I Ketut Suryadi didampingi dua Wakil Ketua Ni Made Meliani dan Nengah Sri Labantari dan anggota Banggar serta para ketua Komisi, Senin (6/8/2018). Rapat yang membahas APBD Tabanan terancam difisit sebanyak Rp 41 Milyar  karena target Pendapatan Asli Daerah menurun. 

Ketua DPRD Tabanan I Ketut Suryadi menjelaskan meski sempat tertuda karena pimpian OPD tidak hadir pada Jumat ( 3/8) lalu namun ia targetkan pembahasan selesai dan tuntas hari itu juga. “Sekarang top top nya sudah menghadiri rapat, meski seharusnya di awal bulan sudah tuntas, tapi tidak apa terlambat,” tandasnya.

Tampak juga hadir dalam rapat membahas KUA ( Kebijakan Umum Anggaran ) PPAS RAPBD 2019 dan APBD-P 2018 tersebut Sekda Tabanan I Nyoman Wirna Ariwangsa, Bapelitbang IB Wiratmaja, Kepala Bakeuda Dewa Ayu Sri Budiarti, dan beberapa pimpinan OPD.

Selanjutnya Sekda Tabanan I Nyoman Wirna Ariwangsa menjelaskan  terjadi penurunan target Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) 2018 dari Rp 409 M menjadi 340. Ada bebrapa faktor penyebabnya diantaraya reposisi dana Bos sebesar Rp 43 M dan tidak tercapainya  target Rp 26 M, silpa Rp 35 M dengan selisih Rp 15 Milyar. Dengan demikian terjadi defisit mencapai Rp 41 M. 

“Penurunan PAD ini juga disebabkan menurunya pendapatan dari hotel,” jelas Wirna. Hotel yang dimaksud adalah Pan Pasific yang sudah tutup. Dan saat ini sedang tahap pembangunan . Begitujuga dari DTW Bedugul  yang dulu dikelola  oleh pihak ketiga yakni Bapak Purnayasa sekarang sudah tidak lagi dan hasilnya zero ke pemda.  Dulu pemasukan dari DTW Bedugul mencapai Rp 1,5 M per tahunya.

Defisit itu kemudian rencananya ditutupi dengan anggaran yang ada di BRSUD Tabanan Rp 13 M, bantuan dari provinsi Bali Rp 10 M, dengan sisa deficit Rp 18 Milyar. Namun setelah ditelisik ternyata anggaran Rp 13 M di BRSUD Tabanan ternyata  hanya boleh digunakan untuk membeli obat obatan dan tidak boleh digunakan untuk pos anggaran kegiatan lain. “Jadi defisit anggaran menjadi Rp 31 Milyar,” jelas Wirna Ariwangsa.

Kepala Badan keuangan daerah ( Bakeuda ) Tabanan Dewa Ayu Sri Budiarti mengatakan ada sejumlah faktor yang menjadi turunya PAD. Terutama dari pajak hotel dan restoran.  Sedangkan PAD dari DTW per bulanya mencapai Rp 5 sampai Rp 6 Milyar. Pihaknya juga sudah bekerjasama dengan KPK guna meningkatkan PAD.

Menurunya PAD Tabanan mendapatkan respon  keras dari sejumlah anggota Banggar. Seperti yang dilontarkan Ketua Fraksi PDIP I Nyoman Arnawa. Ia menilai ada yang salah dengan kinerja. “Kalau memang system yang salah ya segera dibenahi, “ tandasnya.

Hal senada juga disampaikan IGM Purnayasa. Ia sangat menyayangkan terjadinya penurunan PAD. “Disatu sisi prestasi yang dicapai gemilang namun APBD kita terpuruk,” tandas Politisi Demokrat Tabanan ini. Ia pun meminta eksekutif dalam hal ini Sekda dan jajaranya untuk menggenjot kinerja sehingga tercapainya target PAD.  “Genjot pemberlakuan e-tiketing di DTW, dan program yang tidak mendesak dipending,” tandasnya.

Ketua Komisi I, I Putu Eka Putra Nurcahyadi lebih menyoroti  pemisahan Bakeuda menjadi dua badan. “Karena pemisahan itu akan lebih fokus untuk mengurusi pendapatan daerah,” tandasnya. Berkaca juga dengan daerah lain, sebagian besar kabupaten di Bali sudah melakukan pemisahan Bakeuda menjadi dua badan.  Sodokan keras juga disampaikan Gede Purnawan. Politisi PDIP asal Pupuan ini menilai PAD ini terburuk sepanjang sejarah. (kdk)