JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Klungkung Target Seluruh Desa Gulirkan TOSS

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Kerja keras warga di Tempat Pengolahan Sampah Setempat (TOSS) rupanya tak sia-sia. Pelet yang diproduksi oleh program Pemkab Klungkung ini mulai dibeli oleh PT. Indonesia Power. Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung pun menarget pada akhir 2018 mendatang, program TOSS bisa digulirkan di seluruh desa. 

Minggu (20/5/2018) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung, AA Kirana  mengungkapkan PT. Indonesia Power telah melakukan uji coba mesin listrik di TOSS Desa Lepang. Hasilnya, pelet mampu menghasilkan listrik selama 8 jam nonstop. Uji coba pun tak hanya sehari, melainkan selama lima hari berturut-turut. Melihat hasil tersebut, PT. Indonesia Power akhirnya memutuskan untuk membeli pelet yang dihasilkan dari program TOSS di Desa Lepang. 

Lebih lanjut disampaikan, selain Desa Lepang, TOSS di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan disebut sudah lebih dulu bekerjasama dengan PT. Indonesia Power. Uji coba mesin listrik yang dilakukan di TOSS Gunaksa ternyata sangat memuaskan.

"Hasilnya menurut laporan tim teknis Indonesia Power sangat memuaskan. Setelah uji coba nanti akan ada laporan tertulis. Nanti saya segera laporan ke Pjs Bupati. Intinya  pelet dari TOSS ini pasti akan dibeli," ujarnya.

Meski demikian, Agung Kirana mengatakan tak tahu menahu soal harga. Menurutnya, pihak DLH tidak berhak ikut campur dalam penentuan harga. Seluruhnya diserahkan kepada PT. Indonesia Power dan BUMDes. "Per kilo dibeli harganya saya kurang tahu. Saya tidak boleh ikut campur," tegasnya.

Melihat perkembangan TOSS yang sangat pesat, DLH Klungkung pun akan menambah program TOSS. Mengingat saat ini program unggulan Pemkab Klungkung ini baru menyasar 14 desa saja. Oleh karena itu, ia menarget pada akhir 2018, seluruh desa di Klungkung daratan sudah menggulirkan program TOSS. Sedangkan untuk desa-desa di Nusa Penida akan disasar pada tahun 2019 mendatang. Saat ini pihaknya masih berkoodinasi dengan pihak desa mengenai pengadaan program ini. Mengingat dana yang dibutuhkan untuk membeli mesin pelet dan mesin lainnya berkisar Rp 200-300 juta. 

Walaupun terbilang cukup mahal, tetapi manfaat yang diperoleh warga sangat banyak. Agung Kirana menilai, dibandingkan mengolah sampah menjadi pupuk organik yang memakan waktu lama, lebih baik diolah menjadi pelet dengan waktu sekitar 7-10 hari saja.

"Kami tekankan agar semua desa  beli mesin pelet, hal ini untuk tuntaskan masalah sampah. Kalau dengan mesin pelet 1 minggu sampai 10 hari sudah bisa," imbuhnya sekaligus mengatakan program ini sudah memperoleh dukungan dari para pemilik hotel di Nusa Penida. 

Sementara Perbekel Gunaksa, Ketut Budiarta mengatakan TOSS Werdhi Guna yang dikelola warganya sudah menjual gasfire kepada PT. Indonesia Power. Bahkan pihaknya sudah mensuplai 1 ton gasdire PLN.

"Indonesia Power membeli pelet dari BUMDEs Guna Jaya Kerthi yang dihasilkan TOSS Werdhi Guna seharga Rp 300 per kilogram," terangnya. Harga ini tentu tergolong murah, dan belum sanggup menutupi biaya operasional. Menurut Budiarta, idelanya pelet dijual seharga Rp 600-800 per kilogramnya. "Tujuan kita semata mata tidak untuk mendapat untung, yang penting bagaimana kita memerangi sampah," tegasnya. (dia)