JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Terdampak Abu Vulkanik, Petani di Klungkung Gagal Panen

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Harapan para petani cabai di Subak Yeh Ehe, Desa Gelgel, Klungkung untuk menikmati hasil panen berlimpah tak bisa terwujud. Lantaran sejak Gunung Agung erupsi dan menyemburkan abu vulkanik, tanaman cabai mereka ikut menjadi 'korban'.

Tanaman cabai mendadak layu dan gosong, kalaupun berbuah selalu busuk. Akibatnya, petanipun mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. Kondisi ini dialami oleh Ni Nengah Mandri. Selasa (16/1/2018) ia menuturkan, sejak empat bulan lalu sudah menanam cabai. Ketika itu kondisi alam masih bersahabat, tanaman cabainya pun tumbuh subur. Namun, ketika abu vulkanik Gunung Agung terbawa angin hingga ke wilayah Klungkung, cabai milik Mandri mulai terdampak. Mulanya, daun-daunya layu, kemudian disusul dengan batang yang gosong.

"Sudah empat bulan saya tanam cabai ini, tapi sejak kena abu Gunung Agung semuanya puun (gosong)” tuturnya sambil menunjukkan tanaman cabainya yang berwarna kecoklatan.

Berdasarkan pengalamannya, abu vulkanik memang sangat tidak cocok bila terkena tanaman cabai. Selain daun tanaman langsung layu dan rontok, buah cabaipun bisa busuk. Dengan kondisi seperti sekarang, Mandri mengatakan mengalami gagal panen. Bila kondisi normal, cabai yang berumur empat bulan biasanya sudah mulai berbuah. Sekali panen, Mandri dan suaminya Nyoman Dana bisa memperoleh hasil 50 kilogram. Panen bisa dilakukan setiap seminggu sekali. Hasilnya langsung dijual ke pasar.

Untuk mengurangi kerugian, petani asal Desa Gelgel inipun terpaksa memetik cabainya yang busuk. Namun, harga jualnya hanya Rp 10 ribu per kilogram. Harga tersebut tentu tak sesuai harapan, sebab harga cabai di pasar kini sedang tinggi, yakni Rp 40 ribu perkilogram. "Agar tidak rugi banyak, cabai yang busuk-busuk ini saya petik. Tapi harganya cuma Rp 10 ribu perkilogram. Sedangkan cabai sekarang harganya Rp 40 ribu perkilogram,” ujarnya sedih.

Dengan harga jual yang merosot tersebut, Mandri mengatakan mengalami kerugian cukup banyak. Untuk pembibitan saja ia sudah menghabiskan uang Rp 1 juta, ditambah lagi ongkos sewa traktor dan perbaikan lahan Rp 600 ribu. "Lumayan ruginya, untuk beli bibit saja sampai Rp 1 juta. Belum biaya ongkos traktor memperbaiki lahan Rp 600 ribu," imbuhnya. Agar tak merugi lagi, kini Mandri beralih menanam bunga pacar. Dengan harapan tanaman ini tidak terdampak, bila abu vulkanik Gunung Agung mencapai wilayah Klungkung lagi. (dia)