JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Tembus Pasar Nasional, Budidaya Buah Bekul Kian Menarik

EKONOMI
Typography

SINGARAJA – fajarbali.com | Seiring dengan program Pemkab Buleleng yang mengedepankan pertanian di kawasan Bali utara, sepertinya kian menambah minat para petani guna mengembangkan usaha pertaniannya.

Salah satunya pertanian bekul (Ziziphus Mauritiana), buah yang dulunya tidak dilirik kini mulai diminati para petani guna mengembangkan buah tersebut.

Made Budiasa asal Dusun Ambengan, Desa Banjar, Kecamatan Banjar kini merasakan hasil pertanian buah Bekul semakin hari semakin menjanjikan, bahkan ia menilai kalau hasil pertanian buah Bekul ini nantinya bisa menembus pasar nasional.

Pensiunan guru SMPN 1 Banjar itu menilai kalau tanaman Bekul sangat cocok dikembangkan di daerah Buleleng.

”Memang tanaman Bekul ini sangat cocok di daerah basah atau kering seperti di daerah Buleleng. Hal itu terlihat dari hasil buah Bekul milik kami sangat menjanjikan sekali karena hasilnya yang sangat memuaskan dimana dengan lahan seluas itu kami bisa menanam pohon bekul sebanyak 500 pohon,” jelas Budiasa.

Menurut Budiasa, tempat yang paling cocok untuk budidaya Bekul adalah tempat yang panas, kaya sinar matahari dan cukup kering serta mengalami musim hujan yang memadai. Sebab terbukti pohon Bekul yang di tanam di daerah beriklim panas seperti Buleleng lebih cepat berbuah. Bahkan buahnya lebat jika dibandingkan ditanam di daerah yang berhawa sejuk.

Buah ini sebut Budiasa memerlukan perawatan khusus. Mulai dari pemupukan, penggemburan tanah juga perawatan rutin pasca panen. Tujuannya agar menghasilkan buah yang berkualitas serta buah tidak rusak dan terhindar dari ulat atau hama penyakit.

”Disamping iklim yang cocok kami juga harus melakukan perawatan terhadap pohon Bekul seperti melakukan pemupukan sehingga kedepannya menghasilkan hasil pertanian yang sangat memuaskan,” jelasnya.

Disinggung terkait teknis pembudidayaan, Budiasa mengaku jika buah Bekul ini merupakan hasil penyambungan tunas. Yakni antara tunas buah bekul lokal kecil sebagai batang bawah dengan buah bekul lokal besar untuk batang atas.

Sebab Bekul lokal dengan ciri buah yang cenderung kecil namun berbuah lebat. Sedangkan, Bekul besar diketahui unggul dari ukuran buah dan rasa namun jarang berbuah. Sehingga tanaman bekul yang dibudidayakan saat ini merupakan hasil dari sistem sambung sehingga menghasilkan buah yang besar dan unggul serta mampu berbuah lebat.

”Kalau penangkaran bibit sudah ada yang menangani di kawasan Buleleng Timur,” ujarnya.

Bila dibandingkan dengan tahun lalu dalam sebulan Budiasa mampu menjual hingga 400 kg. Sedangkan tahun ini mengalami peningkatan. Dalam sebulan Budiasa mampu memanen mencapai 450 hingga 500 kg per bulannya. Atau setara dengan 15 hingga 20 kg per hari.

Menariknya, pemasaran buah bekul ini semakin luas. Buah ini tidak hanya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan pasar buah di pasar tradisonal hingga modern di Buleleng, Denpasar dan Karangasem. Tetapi juga tembus sampai pasar nasional seperti Jakarta dan Surabaya.

Budiasa mengklasifikasikan buah Bekul terdiri dari tiga macam. Diantaranya Bekul super, sedang dan campuran. Ketiga jenis tersebut dibedakan dari ukuran buah.

Khusus Bekul super dijual Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per kg. Sedangkan Bekul sedang dijual mulai Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Sementara Bekul campuran dengan ukuran lebih kecil dijual mulai dari Rp 25 ribu per Kilogram.

”Respon konsumen saat ini sudah cukup baik, bahkan sampai buah bekul ini mendapat pesanan dari luar Bali intinya jika kita mau fokus dan tekun prospeknya cukup menjanjikan,” jelasnya. (ags)