JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Fenomena Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Remaja di Indonesia

KESEHATAN
Typography

Masa Remaja merupakan salah satu fase penting bagi perkembangan pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya. Pada umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Remaja cenderung ingin berpetualang dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya. Selain didorong juga oleh keinginan menjadi orang dewasa menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa termasuk yang berkaitan dengan seksualitas. Jika kita memandang seksualitas dari segi biologis atau medis merupakan suatu bagian dari organ reproduksi, cara merawat kebersihan, kesehatan dan fungsi dari organ reproduksi itu sendiri. Dari sisi psikologis seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual.

Perkembangan zaman saat ini ikut berperan mempengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran remaja. Hal ini misalnya dapat dilihat bahwa hal-hal yang ditabukan oleh remaja pada beberapa tahun yang lalu, seperti berciuman dan bercumbu kini telah dibenarkan oleh remaja zaman sekarang. Bahkan ada sebagian kecil dari mereka yang setuju dengan free sex/ seks bebas. Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat perilaku tersebut dapat menyebabkan Kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang selanjutnya memicu praktik aborsi yang tidak aman, penularan penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/ AIDS, bahkan kematian.

Reproduksi sehat untuk hamil dan melahirkan adalah usia 20-30 tahun, jika terjadi kehamilan di bawah atau di atas usia tersebut maka akan dikatakan berisiko akan menyebabkan terjadinya kematian 2-4 kali lebih tinggi dari reproduksi sehat. Kehamilan pada masa remaja dan menjadi orang tua pada usia remaja berhubungan secara bermakna dengan resiko medis dan psikososial, baik terhadap ibu maupun bayinya. Faktor kondisi fisiologis dan psikososial intrinsik remaja, bila diperberat lagi dengan faktor-faktor sosiodemografi seperti kemiskinan, pendidikan yang rendah, belum menikah, asuhan prenatal yang tidak adekuat akan mengakibatkan meningkatnya risiko kehamilan dan kehidupan keluarga yang kurang baik. Penyulit pada kehamilan remaja lebih tinggi dibandingkan dengan kurun reproduksi sehat. Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin. Keadaan tersebut akan makin menyulitkan bila ditambah dengan tekanan (stress psikologis, sosial, ekonomi), sehingga memudahkan terjadinya keguguran, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, kelainan bawaan, mudah terjadi infeksi, anemia, keracunan kehamilan, dan kematian ibu sendiri.

Kehamilan remaja merupakan masalah yang menjadi perhatian khusus terutama di negara-negara berkembang. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap kehamilan remaja yaitu tradisi yang mengarah pada pernikahan dini, perilaku remaja yang dipengaruhi oleh alkohol dan obat-obatan, kurangnya pendidikan dan informasi mengenai kesehatan seksual reproduksi, tekanan teman sebaya untuk terlibat dalam aktivitas seksual, kurangnya akses ke alat-alat yang mencegah kehamilan sehingga dapat menyebabkan penggunaan kontrasepsi yang tidak tepat, pelecehan seksual yang mengarah pada pemerkosaan, kemiskinan, kekerasan dan pelecehan yang terjadi dalam rumah tangga, harga diri rendah, rendahnya kemampuan untuk mewujudkan ambisi dan tujuan dalam hal pendidikan.

Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting untuk mendapatkan perhatian terutama di kalangan remaja. Remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaiknya mempunyai kesehatan reproduksi yang prima, sehingga dapat menurunkan generasi sehat. Di kalangan remaja telah terjadi semacam revolusi hubungan seksual yang menjurus ke arah liberalisasi yang dapat berakibat timbulnya berbagai penyakit hubungan seksual yang merugikan alat reproduksi. Bila pada saatnya diperlukan untuk hamil normal, besar kemungkinan kesehatan reproduksi sudah tidak optimal dan dapat menimbulkan berbagai akibat buruk kehamilan terlebih pada kehamilan yang tidak diinginkan.

Meninjau berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia, agaknya masih timbul pro-kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu dan pendidikan seks akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar masyarakat masih memandang pendidikan seks seolah sebagai suatu hal yang vulgar. Berdasarkan sudut pandang psikologis, pendidikan seksual sangat diperlukan bagi perkembangan remaja, dengan harapan agar remaja tidak memiliki kesalahan persepsi terhadap seksualitas dan tidak terjebak pada perilaku-perilaku yang kurang bertanggungjawab. Semakin banyaknya kasus kehamilan di luar nikah yang dialami remaja telah menyebabkan hancurnya masa depan remaja tersebut. Oleh sebab itu rasanya pendidikan seks usia dini perlu kembali dilakukan agar pengetahuan remaja dan penggunaan alat reproduksi sebagai identitas diri lebih bertanggung jawab sehingga kehamilan remaja bisa dikurangi.**

Penulis: dr. Nicholas Renata L