JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Serangkaian pelaksanaan Tawur Agung Panca Wali Krama yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali di Bencingah Pura Agung Besakih, Pemkot Denpasar yang bersama seluruh OPD melaksanakan Bhakti Penganyar di Pura Agung Besakih pada Wraspati Pon Wuku Uye

Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara bersama pimpinan OPD serta pemedek yang tangkil dari berbagai daerah turut hadir untuk melaksanakan bhakti di Pura Agung Besakih. Seluruh rangkaian penganyar berlangsung khidmat yang diawali dengan Tari Rejang Renteng, Tari Rejang Sari, Tari Baris Cina, Tari Topeng Pajegan serta Topeng Sidhakarya. Bhakti penganyar diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipuput oleh Ida Agung Bhagawan Hyang Anulu Pemecutan Manuaba.

Ketua Panitia Karya, Jro Mangku Widiarta didampingi Panitia Karya, Jro Mangku Jana menjelaskan bahwa seluruh rangkaian Tawur Agung Panca Wali Krama serta Ida Bhatara Turun Kabeh ini telah dimulai sejak Anggara Paing Wuku Pujut, 22 Januari lalu yang diawali dengan Matur Piuning dan Ngaku Agem. Dilanjutkan dengan melasti yang dilaksanakan selama tiga hari sejak tanggal 2 Maret hingga 4 Maret.

Punck Karya Tawur Agung Panca Wali Krama dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Kesanga tanggal 6 Maret lalu. Setelah itu dilanjutkan Bhakti penganyar oleh masing-masing kabupaten/kota di Bali. Sedangkan pada 20 Maret mendatang akan dilaksanakan Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh dan direncanakan nyejer hingga dilaksanakan penyineban pada 12 April mendatang.

“Terdapat dua karya yang dilaksanakan yakni Tawur Agung Panca Wali Krama serta Ida Bhatara Turun Kabeh, diharapkan dari pelaksanaan yadnya ini jagat Bali gemah ripah loh jinawi serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Jro Mangku Widiarta.

Wakil Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Raka Purwatara mengatakan, Bhakti Penganyar ini merupakan wujud bhakti umat terhadap Ida Bhatara. Sehingga pelaksanaan yadnya ini dapat dimanfatkan seluruh umat Hindu sebagai ajang mulatsarira serta meningkatkan sradha dan bhakti umat dalam menjalankan swadarma.

“Rasa menyamabraya umat Hindu harus kita pupuk, sehingga yadnya sebagai wujud syukur dapat terus kita laksanakan guna meningkatkan sradha dan bhkati umat sesuai dengan swadarma menuju keseimbangan alam semesta, serta dapat memancarkan energi Dharma yang dapat memberikan hal positif bagi jagat Bali untuk membersihkan menetralisir hal- hal negatif yang tidak diinginkan demi terciptanya keseimbangan jagat beserta isinya,” jelasnya. (car)