DENPASAR
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Setelah rampungnya pengerjaan fisik renovasi Pura Manik Sari, Banjar Gemeh, Denpasar, dilanjutkan  dengan Karya  Melaspas, Mendem Pedagingan, Caru Rsi Gana, Piodalan Pedudusan Alit Wrespati Kalpa. Serangkaian pelaksanaan karya tersebut, dilaksanakan upakara Ngingsah, Negteg, Memakuh, Mecaru Rsi Gana, Melaspas, Mendem Pedagingan lan Ngunggahang Kulkul Anyar pada Anggara Umanis, Selasa (16/4).

Krama banjar mengikuti seluruh rangkaian prosesi dengan khidmat. Diawali dengan nuwur pedagingan dari catus pata Banjar Gemeh, Tari Rejang Dewa, Topeng Wali yang dilanjutkan dengan melaspas Kulkul, ngunggahan Kulkul, mendem pedagingan, nuntun Ida Bhatara dan diakhiri dengan persembahyangan bersama yang dipuput Ida Pedanda.

Hadir dalam kesempatan tersebut Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra yang juga turut mendem pedagingan di palinggih Pura Manik Sari, Banjar Gemeh Denpasar. Hadir pula Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Made Raka Purwantara serta panglingsir Banjar Gemeh Denpasar.

Prawartaka Karya, IB Rama Mantra didampingi Prajuru Banjar Gemeh, IB Dibia menjelaskan bahwa karya ini dilaksanakan setelah seluruh pengerjaan fisik renovasi pura rampung. Dimana, rangkaian karya telah dimulai sejak 12 april 2019 yang diawali dengan Nunas Tirta Nuasen Karya. Dilanjutkan Ngaturang Pangulemen dan Mapakeling pada 13 April 2019.

Sedangkan pada 18 April 2019 turut dilaksanakan nunas tirta pakuluh yang dilanjutkan dengan Melasti keesokan harinya. Bertepatan rahina Saniscara Kliwon Wuku Wayang atau Tumpek Wayang pada 20 April 2019 Ida Bhatara di Pura Manik Sari kaatur Pujawali yang akan dilaksanakan penyineban pada 23 April 2019  mendatang. “Karya ini kami laksanakan sebagai wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk memohon anugerah kesejahteraan dan kedamaian umat,” jelas IB Rama Mantra.

Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Made Raka Purwatara mengatakan, pelaksanaan karya di Parahyangan Bale Banjat ini merupakan wujud bhakti umat yang dalam hal ini adalah Krama Banjar terhadap Ida Bhatara. Sehingga pelaksanaan yadnya ini dapat menjadi momentum atau sebagai ajang mulatsarira serta meningkatkan sradha dan bhakti umat dalam menjalankan swadarma.

“Rasa menyamabraya umat Hindu harus kita pupuk, sehingga yadnya sebagai wujud syukur dapat terus kita laksanakan guna meningkatkan sradha dan bhakti umat sesuai dengan swadarma menuju keseimbangan alam semesta, serta dapat memancarkan energi Dharma yang dapat memberikan hal positif bagi jagat Bali untuk membersihkan dan menetralisir hal- hal negatif yang tidak diinginkan demi terciptanya keseimbangan jagat beserta isinya, jelasnya. (car)