JA Teline V - шаблон joomla Форекс

HUKUM & KRIMINAL
Typography

 

DENPASAR -fajarbali.com |Penyidik Provost Polresta Denpasar memanggil pengacara Siti Sapurah untuk diminta klarifikasi seputar laporannya terhadap penyidik Unit I Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Denpasar. Kasus yang dilaporkan ini menyangkut kasus aniaya menimpa kliennya, Ayu Paramita Dewi yang dilakukan oleh suaminya. 

 

Pengacara yang akrab dipanggil Ipung tersebut datang ke Provost Polresta Denpasar Senin (19/4/2021) sekitar pukul 10.00 Wita. Ia dicecar 13 pertanyaan selama 4 jam lebih. 

 

Usai melapor, Ipung mengatakan pihaknya dipanggil Provost guna meminta klarifikasi terkait dilaporkannya penyidik Unit 1 PPA Polresta Denpasar saat menangani kasus penganiayaan terhadap kliennya. 

 

"Ya, kami melaporkan penyidik Polresta Denpasar Unit 1 PPA pada saat menangani kasus penganiayaan terhadap klien karena banyak yang janggal. Kami anggap tidak sesuai SOP kepolisian dan tidak adanya SPDP dan SP2HP yang terlalu lama kita terima dan sampai sekarang kita tidak tahu berkas sampai dimana," bebernya. 

 

Kepada penyidik Provost Polresta Denpasar Ipung menyampaikan kronologis kejadian. Bahwa dalam kasus ini kliennya Ayu Paramita Dewi sempat mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Denpasar pada 24 Oktober 2021 sekira pukul 09.30 Wita. Itu sebelum dirinya diberikan kuasa oleh kliennya. 

 

Nah, kliennya diterima petugas SPKT berpakaian preman bernama Fendi namun tidak menerima langsung laporannya baik Dumas maupun LP. 

 

"Cuma dilihat ada darah dan bekas luka. Klien saat itu wajahnya masih pucat dan sempoyongan karena habis dianiaya suaminya. Malah petugas tadi suruh langsung datang ke RS Trijata untuk proses visum dan mengobati lukanya," ungkap Ipung. 

 

Padahal saat itu kata Ipung, kliennya tidak bawa uang apalagi dompet. Ipung mengaku heran mengapa petugas menyuruh kliennya dengan kondisi sakit dan sempoyongan malah disuruh datang ke RS Trijata sendiri untuk mengobati lukanya. 

 

Apalagi tanpa surat bukti lapor Polisi atau dumas, juga tanpa membuat surat penghantar visum dan tanpa diantar oleh anggota Polisi. 

 

"Tentu itu suatu yang tidak benar jika kita bicara tentang SOP kepolisian. Seharusnya klien kami diterima dulu laporannya, dibuat laporan Dumas atau LP, dibuatkan surat penghantar visum dan diantar oleh penyidik ke RS untuk lakukan visum atau pengobatan. Namun ini tidak dilakukan," katanya. 

 

Bahkan kata Ipung lagi, kliennya sempat bertanya mengapa tidak dibuat laporan Polisi ? Tapi petugas tersebut mengatakan tidak perlu. 

 

"Klien malah disuruh pulang saja ke rumah siapa tahu suami ibu bisa baik lagi. Nah akhirnya karena ibu ini tidak tahu hukum, pulanglah ke rumah suami tapi digebuki lagi. Dipukul lagi, dicaci maki lagi, dihina kebun binatang itu keluar semua isinya," bebernya.  

 

Akhirnya kliennya Ayu kembali menghubungi petugas tersebut dan menjelaskan dirinya kembali dianiaya. Barulah petugas tadi menyuruh Ayu balik ke SPKT Polresta dan dibuatkan laporan dalam bentuk Dumas (Pengaduan Masyarakat). "Laporan dibuatkan berbentuk Dumas tapi tidak dilakukan lagi visum ulang. Nah ini hal hal yang kami klarifikasi di propam," jelasnya. 

 

Kemudian, setelah dibawa ke Unit 1 PPA Polresta Denpasar dan bertemu dengan penyidik, BN, kliennya juga tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal. 

 

Dijelaskannya sejak laporan Dumas dari Bulan Oktober dan LP Bulan Desember 2020, klienya tidak pernah mendapatkan SPDP dan SP2HP. Tapi begitu ditanya ke petugas Unit 1 PPA, jawabannya tidak enak didengar. "Katanya, tunggu aja nanti tinggal sidang, nanti kita panggil mbak (Ayu)," sebut Ipung. 

 

Ipung mengatakan kliennya baru mengetahui adanya SPDP dan SP2HP pada tanggal 22 Februari 2021, sementara di surat tersebut tertera tanggal 29 Desember 2020. "Masuk akal tidak ? Alasannya, maaf kami tidak sempat mengirim SPDP," imbuhnya. 

 

Hal lain yang disampaikan ke Provost yakni kliennya sempat diminta datang oleh petugas pada Bulan November 2020 dengan alasan bahwa anaknya mau diserahkan oleh suaminya di Polresta. Tapi setelah ditunggu dari pukul 12.00 Wita hingga 16.45 Wita, anaknya tidak dibawa ke Polresta dengan alasan tidak ada mobil. 

 

"Klien kami sudah sering menanyakan kasusnya tapi selalu mendapat bullyan. Sudah ke pengadilan kah ? Ini orang tidak tahu apa, mengapa harus ke pengadilan, buat apa. Secara hukum dia  tidak ada urusan nikah, mau ngapain. Inikan polisi membodoh bodohin rakyat," tutur Ipung.  

 

Ada juga perkataan penyidik yang tidak bisa diterima oleh Ipung soal kliennya bertanya soal Pasal Pasal, tapi malah dijawab menunggu hasil visum. Selain itu, juga pernah ditanyakan kenapa suaminya tidak ditahan. 

 

"Tapi jawabannya kalau mbak gak berdarah-darah pelaku tidak akan ditahan. Katanya pelaku akan ditahan jika korbannya patah tulang, cacat, tidak bisa bekerja, mati dan hilangkan bb. Jadi gampang dong pukul orang sampai gak berdarah darah gak dihukum, itu pemikiran masyarakat," ungkapnya. 

 

Ia kembali menuturkan, kala itu penyidik Unit 1 PPA Polresta Denpasar saat kliennya akan mendapat LP, sempat mempertanyakan bagaimana status anaknya. Tapi oleh penyidik, kliennya malah disuruh membuat LP baru ke Unit 1 PPA Polresta Denpasar. 

 

Penyidik bahkan meminta agar kliennya mengaku anaknya ditahan oleh kakeknya yang notabene tidak punya hak atas anak tersebut. Tapi begitu kliennya datang ke Unit 1 PPA, malah tidak dibolehkan membuat LP baru. 

 

"Katanya, maaf ibu ini tidak ada unsur pidana dan pasalnya. Bayangkan, Polisi yang kita anggap mampu memberikan pencerahan tentang hukum dan keadilan malah mengatakan tidak ada pidana dan pasalnya. Sehingga saya agar kasus ini diarahkan ke RPK Polda Bali dan barulah diterima tentang Hak Asuh Anak yakni Pasal 330 KUHP," ujarnya. 

 

Soal dipanggilnya Pengacara Ipung ke Provost Polresta Denpasar, Kasubag Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi mengatakan belum menerima laporan. "Saya belum monitor coba saya cek ke Provost dulu," ujarnya Senin (19/4/2021). (hen)

HUKUM & KRIMINAL

Grid List


DENPASAR -fajarbali.com |Ketua MUI Provinsi Bali, H. Mahrusun meminta Umat Islam rantauan yang ada di Bali untuk tidak melakukan mudik pada Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Ini berguna untuk memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). 

 

DENPASAR -fajarbali.com |Perempuan bercadar bernama Nurhayati alias Nurhayati Binti Sarni gegerkan markas Polda Bali yang terletak di Jalan WR Supratman Denpasar Timur, Senin 10 Mei 2021 sekitar pukul 20.30 Wita. Perempuan kelahiran 17 Agustus 1979 asal Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung itu sempat diamankan setelah dicurigai mondar mandir di depan mapolda Bali. 


DENPASAR -fajarbali.com |Usai menyasar gereja, pemulung hingga panti asuhan, kali ini sumbangan yang diberikan oleh Serdik Sespimen Pendidikan Reguler (Dikreg)-61, Pius X.Febry Aceng Loda, S.I.K, M.H diberikan yayasan difabel atau disabilitas. Sumbangan berupa uang tunai jutaan rupiah itu diberikan kepada Yayasan Cahaya Mutiara Ubud yang terletak di jalan Sasibrata, Banjar Kawan Tengah, Tampak Siring, Gianyar.  

 

 

Sumbangan uang tunai itu diberikan langsung oleh pria yang juga pernah menjabat sebagai Kasie BPKB Dit Lantas Polda Bali dan Kasie STNK Renon Denpasar hingga Kasatlantas Polres Gianyar ini pada Selasa (27/4/2021) lalu. Dijelaskan mantan Wakapolres Jembrana, Gianyar dan Bangli ini, bahwa sumbangan uang ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap sesama. 

 

"Ini adalah bentuk kepedulian saya terhadap sesama mahluk sosial. Terlebih saat pandemi seperti sekarang ini, banyak sesama kita yang membutuhkan pertolongan," katanya Minggu 11 Mei 2021.

 

Dijelaskan mantan Kapolsek Kuta Utara ini, sumbangan dan kunjungannya itu juga dalam rangka program lembaga Pendidikan Sespimen Dikreg-61 dengan tema Menciptakan Pimpinan Tingkat Menengah Polri, Kementrian dan Lembaga Yang Presisi Untuk Indonesia Maju.

 

Usai memberikan bantuan dana di Yayasan Cahaya Ubud, Tampaksiring, Gianyar, perwira menengah Polda Bali ini langsung menyambangi sekretariat Pemuda Katolik, Gianyar. Di sana dia juga memberikan sumbangsihnya berupa dana. Aksi itu bukan hanya sekali dilakukannya guna mendukung kegiatan pemuda Katolik. Serdik Sespimen Pendidikan Reguler (Dikreg)-61, Pius X.Febry Aceng Loda, S.I.K, M.H.

 

Sebelumnya memang selalu memberikan sumbangsihnya sejak organisasi pemuda Katolik itu terbentuk. Baik itu sumbangsih moril maupun ide. Saat dirinya menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Gianyar, bersama pastor paroki, dia pernah membentuk PAM Swakarsa untuk pengamanan internal gereja katolik  Santa Maria Ratu Rosari, Gianyar.

 

Tidak cukup sampai di situ, saat dirinya menjabat sebagai Wakapolres Gianyar, dia juga terlibat sebagai Satgas Covid-19 di internal Gereja Katolik katolik Santa Maria Ratu Rosari, Gianyar yang dimana pengurus satgas itu dilantik oleh dia sendiri.

 

Sementara Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Gianyar, Agustinus Ana Goga menyampaikan terimakasihnya atas dukungan itu. "Saya sangat berterimakasih karena dukungan pak Serdik Sespimen Pendidikan Reguler (Dikreg)-61, Pius X.Febry Aceng Loda, S.I.K, M.H. Sejak terbentuknya pemuda katolik sampai saat ini, beliau bukan saja sebagai donatur dari segi dana namun beliau juga donatur dalam ide dan pergerakan  program  Pemuda Katolik  Komisariat Cabang Gianyar selama ini," katanya. 

 

Keterangan terpisah

 

MANGUPURA -fajarbali.com |Sejak Pemerintah memberlakukan larangan Mudik Lebaran 2021, Polres Badung perketat jalur jalan menuju Mudik di Pos Pengamanan jalan Mengwitani, tepatnya didepan pintu masuk Terminal Mengwi, Badung, pada Selasa 11 Mei 2021 sekitar pukul 09.30 Wita. 

 

SIBANG -fajarbali.com |Nahas dialami Nyoman Suweji alias Kak Gaul (59). Kakek asal Banjar Piakan Desa Sibangkaja itu tewas setelah motor yang dikendarainya terjatuh di jembatan Tukad Ayung, Sibangkaja, Abiansemal Badung, Selasa 11 Mei 2021. 

 

SANUR -fajarbali.com |Tindakan Komang Swastika (34) tidak patut ditiru. Diduga depresi, ia berencana bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai soklin dan ceburkan diri ke laut di Pantai Sanur, Jalan Hang Tuah, Denpasar Selatan, pada Senin 10 Mei 2021. Namun aksinya itu berhasil digagalkan petugas Pos Polisi yang sedang patroli. 

 

 

Kenekatan Swastika berlangsung sekitar pukul 23.00 Wita. Pria asal Banjar Batu Dawa, Kubu Karangasem itu datang ke pantai dan langsung menceburkan diri. Ia memang sudah berniat akan bunuh diri.

 

AMLAPURA-fajarbali.com | I Gede APJ, Perbekel Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem yang masih menjalani proses hukum atas dugaan korupsi bantuan sosial bedah rumah sementara waktu diganti oleh sekretaris Desa (Sekdes) I Gede Arya Getas menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt). Pengisian Plt ini, sampai ada keputusan pengadilan tetap atas kasus tersebut. 

DENPASAR - fajarbali.com | Setelah melalui perjalanan panjang bahkan hingga memakan waktu berbulan-bulan, seorang ibu muda berinisial Ayu PD, Selasa (11/5/2021) kembali bertemu buah hatinya telah berpisah 7 bulan lamannya. 

 

DENPASAR -fajarbali.com |Tim gabungan Yustisi menindak tegas empat tempat hiburan malam (THM) yang berlokasi di Legian Kuta karena melakukan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Ke 4 THM tersebut kedapatan beroperasi lebih dari waktu yang ditentukan, bahkan dengan jumlah pengunjung yang membludak. 

 

DENPASAR -fajarbali.com |Pelarangan mudik Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2021 banyak yang tidak diindahkan masyarakat. Bahkan ada yang nekat menyembunyikan "penumpang gelap" di dalam bus atau mobil Pick Up agar bisa berlebaran ke kampung halamannya. 

SINGARAJA-fajarbali.com | Mengaku akibat sakit hati yang dideritan Yoni Jatmiko (29) warga Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur membuat dirinya hendak memberikan pembelajaran terhadap Ketut Mintaning warga masyarakat Penarukan namun lantaran mengalami benturan akhirnya korban meninggal dunia.


DENPASAR -fajarbali.com |Sumbangan yang diberikan oleh Serdik Sespimen Pendidikan Reguler (Dikreg)-61, Pius X.Febry Aceng Loda, S.I.K, M.H, kali ini menyasar gereja.