JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography
Mangupura-fajarbali.com | Andre Yoga, Didin Jirot, dan Luh Gede Gita Sangita Yasa merupakan tiga dari banyak perupa muda Bali yang sadar akan pentingnya merawat kesadaran eksistensial dalam medan sosial seni rupa. Secara tidak langsung kesadaran mereka makin terpupuk dalam-dalam lewat mengakrabi dunia seni rupa melalui jalur akademis.



Andre di DKV ISI Denpasar, Didin di seni rupa ISI Yogyakarta, dan Luhde di seni rupa ITB, dibarengi oleh bertemunya mereka dengan iklim berkesenian yang hangat di lingkungan geografis mereka tinggal selama hijrah ke luar untuk kepentingan proses perkuliahan. Kini, mereka bersatu dalam sebuah pameran yang bertajuk "Segi-Tiga".

Vinchent Chandra, dalam tulisannya memaparkan apabila diamati melalui rekam jejak karir kesenirupaan masing-masing, Andre Yoga tergolong sebagai yang cukup aktif terlibat dalam berbagai jenis skena serta gelaran pameran di Bali, sementara Didin dan Luhde yang belum lama baru pulang ke Bali mengaku harus beradaptasi dengan medan sosial seni rupa di tempat mereka lahir dan tumbuh.

Baca Juga :
Sambut WBBM, Kajari Denpasar Rancang Strategi Perubahan
Luncurkan Program Bali Bangkit, BPR Lestari Sediakan Dana Kredit Rp1,2 Triliun


Tujuan awal atas diinisiasinya pameran "Segi-Tiga" oleh ketiga perupa muda ini, dapat segera terbaca oleh para penikmat secara sederhana sebagai upaya mereka dalam menghadirkan pembacaan yang lebih luas oleh publik khususnya di Bali terhadap karya-karya mereka.

"Selain diniatkan untuk melibatkan diri secara penuh dalam peta seni rupa Bali, pameran ini bagi mereka juga adalah sebentuk rasa optimisme untuk mengembangkan sayap mereka sebagai perupa muda kontemporer di Bali," ungkap Vinchent Chandra.

Dipilih sebagai judul pameran, kata Segi-Tiga sendiri bersifat cair dan bermaksud untuk membingkai secara utuh artikulasi khas ketiga perupa muda dengan pilihan bahasa rupa serta latar historis diri yang berbeda-beda.

Segitiga dalam pengertiannya sebagai sebuah bangun datar, terbangun lewat tiga titik sudut yang antara satu sama lainnya dihubungkan oleh rusuk-rusuk berupa garis. Sifat-sifat tadi lalu diasosiasikan dalam konteks pameran ini.

"Sederhananya, tiga titik sudut mewakili tiga identitas peserta pameran, Andre, Didin, dan Luhde. Kemudian keterhubungan ketiga titik identitas ini terbaca melalui rusuk-rusuk yang berupa dorongan eksistensial, atau bahkan boleh jadi berupa perbedaan individu-individu dan keragaman budaya Bali itu sendiri," jelasnya.

Pameran Segi-Tiga berlangsung di Uma Seminyak mulai Sabtu (27/3) hingga Sabtu (10/4) dan dibuka untuk umum. (dha)