JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography
GIANYAR-fajarbali.com | Sebagai bentuk upaya pelestarian seni dan budaya Bali, sejumlah seniman Gianyar berkumpul dan membentuk Sanggar yang bernama Sanggar Laras Keratuan Manggis yang bermarkas di Puri Agung Gianyar. 



"Sejumlah seniman di Gianyar, Sukawati, Blahabtuh, menghimpun diri di Puri Gianyar, mendirikan sanggar," jelas AA Gede Abi Dama, Selasa (6/4/2021) kemarin selaku koordinator. 

Koponakan Wakil Bupati Gianyar ini menyebut dalam sangar tersebut ada pembelajaran kesenian, seperti Seni Tari, Kerawitan dan Kontenporer. "Baru diresmikan saat pendemi lalu. Saat ini sudah ada 300 anak-anak SD dan SMP Sejebag Jro kuta (Samplangan, Abianbase, Beng, Bitera, Tegal) tergabung di sanggar dibantu 15 pelatih, ada pelatih otodidak, ada dari akademisi, Semua palatih dari Gianyar," jelasnya. 

Baca Juga :
Terdampak Pandemi, Pendapatan PDAM Klungkung Menyusut, 15 Persen Pelanggan Tercatat Menunggak Iuran
Ribuan Peserta BPJS Mandiri di Klungkung Beralih ke UHC, Bupati Suwirta Dorong OPD Buat Program Inovatif


Tempat latihan berada di halaman belakang puri atau pintu masuknya di utara Alun-Alun Gianyar. Namun kedepan lokasi latihan akan dilakukan di ancak saji setalah ada renovasi.

"Dari dulu sudah ada, karena kegiatan seniman di Gianyar dulu di ada puri. Termasuk Ida Bhagawan (Anak Agung Berata mantan Bupati Gianyar) sempat mendapat pelatihan langsung oleh seniman Gianyar, I Teduh, Kak Rina dan lainya," ujar Gung De Abi sapaan akrabnya. 

Terkiat status sanggar ini non profit, sanggar bisa diundang untuk ngayah  ke desa adat. Hal ini sebagai bagian hubungan puri dengan masyarakat. Mengenang leluhur memalui jalan seni dan budaya.

"Keratuan Manggis, keratuan artinya tempat puri dalam hal ini bukan diartikan raja, Manggis itu trah leluhur, untuk mengingat leluhur yang cikal bakal kabupaten ini. Tidak ada rencana kembali zaman feodal dulu," ungkapnya. 

Dalam beberapa sesi latihan di Sanggar Keratuan Manggis itu salah satu Gong (gambelan)  yang digunakan adalah gong kuno berumur ratusan tahun hadiah dari Ratu Mengwi sebagai tanda persahabatan. "Itu zaman I Dewa Manggis  Dimadya rentang waktu 1793-1820. Sebagai persahabatan karena diundang saat menari gambuh," jelasnya.  

Bedanya dengan gong pada umumnya, terletak pada jumlah daunya. Gong tersebut daunya lima belas. Selain itu diberikan juga gelungan Gambuh bertatahkan emas yang hingga saat ini masih tersimpan di Puri Agung Gianyar.

"Karena persahabatan baik, diberikanlah gong itu dan gelungan gambuh dari bahan mas serta bebandrangan. Hasil rekontruksi dari para seniman di Singapadu gong tersebut dinamakan Semara tetangian yang dimainkan saat raja baru bangun," tutupnya. (sar)