JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography
GIANYAR-fajarbali.com | Menurunnya aktifitas budaya seperti lomba-lomba kesenian dan dibatasinya aktifitas upacara keagamaan menyebabkan turunnya juga pembelian kendang dan servis kendang untuk gamelan. Bahkan dalam sebulan, perajin kendang tidak didatangi satu pembeli dan hanya ada satu-dua warga yang servis kendang. 



Hal ini dialami perajin kendang, Made Ancut (67) bersama putranya Wayan Ardana (42) di Banjar Getas Kawan, Desa Burun, Blahbatuh yang menekuni kerajinan kendang. Keluarga ini mewarisi kerajinan kendang dari kakeknya dan menurun dan kini telah menjadi 5 KK perajin kendang di banjarnya.

“Semua perajin kendang sekarang sangat lesu, aktifitas budaya seperti lomba hampir tidak ada, juga upacara keagamaan sangat terbatas. Penjualan kami juga menurun drastis,” jelas Made Ancut. 

Baca Juga :
Bupati Mahayastra Buka Lokasabha V Pratisentana Bandesa Manik Mas, Dipesan Jaga Persaudaraan, Bantu Warga Terbelakang
Peringati Hari Lanjut Usia Nasional 2021, RSUP Sanglah Beri Support Pasien Geriatri
 

Dikatakannya, dalam situasi normal, dalam sebulan bisa menjual sampai lima pasang kendang gamelan, dan servis kendang mengganti kulit sampai 5 pasang, namun saat hanya menerima servis kendang 3 pasang.

“Kalau servis sepasang Rp 800ribu tergantung besar kecilnya kendang,” jelas Wayan Ardana.

Untuk harga kendang gamelan biasa dijual seharga 5,4 juta sepasang dan kendang angklung sepasang Rp 3,2 juta sepasang. Harga ini disebutnya bertahan sejak tahun 2018, tidak pernah naik. Disebutnya lagi, bahan baku kayu Nangka sudah semakin langka saat ini. 

Untuk bahan kendang, dipakai kayu Nangka yang sudah tua dan kering. Proses pengerjaannya sepasang sekitar 8 hari. Mengingat proses dari awal pembentukan kayu sampai memasang tali dan kulit cukup rumit membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

“Kami tidak mau membuat asal jadi, kualitas kendang ada pada suaranya, dan rata-rata penabuh tahu suara kendang yang bagus,” bebernya. Yang bahkan pada setiap hajatan PKB sebelum-sebelumnya, dipastikan sebagian kendang buatannya ikut digunakan pentas. 

Selain membuat kendang, juga membuat kulkul/kentongan. Satu kentongan banjar dengan tinggi 2 meter dihargai Rp 2 juta, dan yang termurah dijualnya seharga Rp 1.2 juta.

“Kalau kulkul jarang ada pesanan, karena kebutuhannya jarang. Tapi kami punya stok sampai 100 kulkul,” ujarnya.

Sedangkan untuk stok kendang ada sekitar 150 kendang. Kayu nangka didatangkan dari Jawa Timur dalam bentuk gelondongan sudah kering. Selain pesanan kendang untuk seniman tabuh di Bali, juga ada pesanan kendang dari Lampung, Sulawesi dan bahkan pernah mengirim 3 pasang kendang ke Amerika. 

Made Ancut bersama putranya dan perajin lain berharap situasi bisa kembali normal, utamanya aktifitas budaya. Selain itu, dirinya juga berharap ada bantuan dari pemerintah seperti halnya mesin peralatan untuk mendukung kerjanya.

“Kami perajin berharap situasi segera pulih dan aktifitas budaya kembali normal, sehingga kami memiliki pemasukan,” tandasnya. (sar)