JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) memang menjadi wadah apresiasi kesenian Bali yang salah satunya adalah Gender Wayang. Di tahun 2018 ini, Sanggar Genta Mas Cita Denpasar menunjukan kepiawaian serta kreativitasnya dalam membawakan barungan Gambelan Gender serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Senin (16/7/2018).

Sanggar yang berlokasi di wilayah Banjar Kayumas Kaja ini turut membawakan tabuh gender style Kayumas dan beberapa tarian dengan iringan gender wayang.

Kordinator Sanggar, I Wayan Sujana saat diwawancarai disela pementasan menceritakan sepintas tentang berdirinya sanggar yang bermula dari perjalanan seoarag seniman serba bisa bersanama Alm. I Wayan Konolan tahun 2008 yang melestarikan serta mengembangkan gending-gending gender khas Kayumas Kaja.

Terkait pementasan kali ini, pihaknya mengaku telah melaksanakan persiapan sejak bulan maret lalu. Dimana, bersama sedikitnya 35 personil penabuh dan penari, pihaknya bersama tim turut melatih anak-anak bahkan hinggu cucu untuk terapil dalam membawakan tabuh gender khas Kayumas Kaja. “Kami di Kayumas Kaja memiliki style gender tersendiri, hal inilah yang ingin kami tunjukan sehingga ciri khas sebuah daerah tidak punah dan tetap leastari,” uajarnya.

Sujana mengatakan bahwa pada penampilan di PKB ke-40 ini adapun materi yang dibawakan yakni Tabuh Puspa Warna, Tabuh Srikandi, Tabuh Cangak Merenggang, Tabuh Selendro, Tabuh Bima Kroda, Tabuh Sekar Gendot, Tabuh Wirajaya, Tabuh Kreasi Baru Genta Anyar, Tari Kebyar Duduk, dan Tari Kreasi Sekar Ayu. Uniknya, keseluruhan materi tersebut dibawakan oleh tiga generasi mulai dari kakek, anak hingga cucu dengan penampilan tabuh yang menggunakan pakem khas Kayumas Kaja.

Pihaknya mengaku secara prinsip tidak ada kesulitan. Hanya saja pada latihan iringan Tari Kebyar Duduk diperlukan ketelatenan dan kesabaran lantaran harus menyesuakian dengan nada gong kebyar. “Kalau di gong kebyar nada pokoknya pelog, sedangkan gender waang itu selendro, sehingga harus teliti dan sabar dalam pemilihan nada sehingga sesuai dengan pakem tari yang dibawakan,” ungkapnya.

Sujana berharap, gender sebagai kesenian klasik yang tergolong tua dapat tetap lestari. Sehingga diperlukan pemahaman yang lebih luas tentang gender yakni tidak hanya untuk upacara yadnya dan wali saja, melainkan dapat digunakan sebagai seni kreasi baru dengan olahan kreatf dan inovatif. “Besar harapan kami sebagai salah satu seniman gender, keberadaan gender dapat tetap eksis di dunia seni dan terus berkembang, namun tetap berada dalam garis pakem-pakem yang telah ada,” pungkasnya.

Salah seoarang peserta, Wira Pratama mengaku senang dapat bermain gender. Hal ini lantaran skill bermain gender tergolong kesenian yang sulit dimainkan lantaran menggunakan kedua tangan sekaligus. “Ya saya bangga dapat bermain gender dan pentas di ajang seni besar sekelas PKB ini,” tutupnya. (car)