JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Membuka suasana hiruk pikuk dengan Tabuh Liar Samas, Sanggar Seni Gita Mahardika, Desa Babakan Sukawati mampu metarik penonton yang memadati Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Denpasar, Rabu (18/7/2018). Tabuh ini terinspirasi dari keindahan alam Pantai Kuta dengan perahu tradisionalnya yang didorong oleh angin.

loading...
loading...

Sedangkan tabuh ini tercipta sekitar Tahun 1920-an, oleh composer I Wayan Lotring, yang menampilkan elemen tradisional dengan jenis aliran musik lainnya.

Tak kalah menarik tari Legong Kraton Lasem juga memukau penonoton yang hadir, tari yang mengambil cerita Panji ini merupakan tarian klasik dengan pembendaharaan gerak yang sangat komplek. Legong berasal dari kata “Leg” yang berarti lemah gemulai, lues dan lentur. Serta “Gong” artinya gamelan untuk pengiring tarian.  Sehingga tari legong merupakan suatu bentuk kesatuan gerakan lemah gemulai sang penari dengan irama gamelan pengiringnya.

Ketua Sanggar Seni Gita Mahardika, Wayan Mardika Bhuwana mengatakan ia membawakan 2 tabuh kreasi baru dalam PKB tahun 2018 ini. “Kali ini kami membawakan 2 tabuh kreasi baru, yaitu tabuh kreasi Manah dan Brahmantya Larung,” ujar Mardika Bhuwana. Tabuh kreasi Manah merupakan tranformasi jiwa manusia ke dalam bentuk karawitan. Dimana setiap emosi manusia diekpresikan lewat permainan melodi dan tempo. Manah atau pikiran yang selalu menyelimuti setiap manusia, pikiran dan hasrat manusia yang tidak pernah puas dengan sejuta keinginan. Keinginan tersebut kadang meluap-luap bagaikan angina dan kadang sepoi-sepoi.

Mardika Bhuwana menambahkan Tari Kreasi ‘Brahmantya Larung’ diambil dari cerita pecalonarangan, dimulai dari pembatalan peminangan putri Ratna Mangali oleh Prabu Erlangga yang menyebabkan  kemarahan. Luapkan emosi dan kekecewaannya Ratna Mangali mengutus murid kesayangannya Larung untuk memporak porandakan Kerajaan Kediri. Dengan kesaktiannya Larung menyebarkan berbagai penyakit dan seketika itu silih berganti Rakyat Kerajaan Kediri sakit dan mati.

Sanggar asal Banjar Babakan Sukawati ini sudah pernah tampil di beberapa negara di Asia bahkan Eropa. Kendati demikian Mardika Bhuwana mengaku tidak memiliki jam regular di hotel atau tempat hiburan. “Kami tidak memiliki jadwal reguler, kami lebih senang ngayah kalau ada upacara agama”, pungkas Mardika Bhuwana. (sar)