JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography

NEGARA-fajarbali.com | Komunitas Kertas Budaya (KKB) Jembrana didukung dua teater sekolah, Teater Solagracia dari SMAN 1 Negara dan Teater Tanpa Nama SMAN 2 Negara mementaskan teater modern lakon Pan Balang Tamak.

Naskah dan Sutradara Nanoq da Kansas menyuguhkan lakon Pan Balang Tamak dengan mengangkat persoalan-persoalan sosial dan beberapa kritik yang disampaikan kepada pemimpin atau raja yang lagi berkuasa. Pementasan kolosal dengan melibatkan sebanyak 85 pemain ini dimainkan di halaman Gedung Kesenian Ir Soekarno, Rabu (22/8/2018) malam.

Para pemainnya tak seluruhnya melibatkan anak –anak muda, tetapi juga didukung beberapa pemain senior, di antaranya Anom Suastika salah seorang aktor senior  memerankan sebagai raja dan Edy Bali Supriyanto memerankan tokoh kelian. Sedangkan tokoh Pan Balang Tamak, dimainkan aktor muda IGN Ariana.

Pementasan teater dengan melibatkan puluhan pemain ini, juga diiringi dengan musik dari Kelompok Anak Badai, yang rata rata masih kalangan pelajar. Beberapa dendangan atau lagu yang dilantunkan berirama musik tradisional Bali dan beberapa lagu balada, seperti tembang janger, lagu mekenyem, tuak, dan lagu berirama balada bongkar karya Iwan Fals. 

Iringan lagu lagu dari kelompok anak badai itu, mewarnai jalannya drama Pan Balang Taman tambah menarik untuk ditonton. Bahkan menariknya, beberapa dialognya menggelitik kekuasan dan terutama terkait program pengentasan kemiskinan. Beberapa gelitikan dialog juga diwarnai dengan tawa dan menggelikan. Masalah penebangan hutan, pengkaplingan lahan , persoalan pariwisata dan masalah lainnya mewarnai alur pementasan.

Pan balang tamak merupakan salah satu cerita rakyat Bali yang merupakan cerita yang lebih mengarah pada sebuah kritik. Cerita rakyat yang digarap dalam teater modern oleh sutradara Nanoq da Kansas ini.  lebih pada persoalan sosial yang sering dihadapi masyarakat sekarang.

Pementasan teater berdurasi 1,5 jam ini, diharap kolosal dengan melibatkan sekitar 85 pemain termasuk pemusik dari kelompok anak badai. Sang Sutradara memang sengaja tak memilih bermain di panggung pada Gedung Kesenian Ir Soekarno, namun malah memilih dibawah panggung atau dihalaman areal Gedung Kesenian. Hal ini menurut Nanoq didampingi asisten sutradara, Niken Putri usai pementasan menyampaikan pemangggungan lakon Pan Balang Tamak menggunakan teater kalangan.

“Pementasan berlangsung di bawah, bukan di atas panggung. Tujuannya untuk berada dekat dengan penonton, karena pesan-pesan yang diangkat adalah persoalan kekinian yang ada di kehidupan masyarakat,” ujar Nanoq kemarin. Menurutnya, konsep “kalangan” ini merupakan model pemanggungan keseniaan tradisional semisal bondres, jogged bungbung, genjek dan lain-lainnya.

Sementara, suguhan tontonan teater modern yang jarang terjadi pada serangkaian HUT Kota Negara ini, ternyata cukup banyak dipadati penonton. Tak hanya ditonton kalangan dewasa, juga dari kalangan anak muda. Hadir pula, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Nengah Alit , Kabid Kebudayaan I Putu N Sutardi dan salah seorang pemerhati Seni Budaya, Dharma Santika Putra.

Menurut Dharma Santika Putra atau akrab disapa DS Putra usai pementasan mengapresiasi pementasan yang disutradari Nanoq ini, merupakan pertunjukan cerdas dan mencerdaskan. Apalagi dalam pementasan drama satir ini lebih banyak dimainkan anak-anak muda atau sering disebut generasi melinia.

”Ini bentuk nyata dari revolusi mental dan sutradara berhasil mengarahkannya, apalagi suguhan yang dipilihnya berbentuk drama musikal sehingga semakin dekat dengan anak-anak muda. Sekali lagi, ini sebuah drama satir yang cerdas dan Nanoq sebagai sutradara cukup berhasil,” ujar DS Putra mengapresiasi. (prm)