JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BMN III 2018,​​​​​​​ SMAN Bali Mandara dan SMKN 5 Denpasar Bersua

BUDAYA
Typography

PENAMPILAN luar biasa dari seniman pelajar SMAN Bali Mandara dan SMKN 5 Denpasar pada Bali Mandara Nawanatya (BMN) III 2018, Sabtu (15/9/2018) malam adalah bentuk keberhasilan hidupnya kesenian kecak. Kedua sekolah tersebut kembali bersua di bulan parade Cak BMN. 

Manakala kedua seniman pelajar ini berhasil membawa penonton terhanyut ke dalam dinamisnya kecak, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar terasa sangat hidup. 

SMAN Bali Mandara hadir sebagai penampil pertama membuka kecak dengan gempuran kendang Bali. Sayup-sayup penari kecak pun berdatangan dengan dimulai riuh vokal penuh nada. 

Menurut pembina kecak SMA Bali Mandara, I Kadek Sefyan Artawan, cerita yang menjadi alur kecak bertajuk Kalarau Kapunggel (Byutaning Angemet Tirta Amerta) sengaja dipilih sebab dapat membangkitkan semangat dan jiwa dinamis cak. 

“Ada gerhana bulan, kemudian sedang marak maraknya ada kekerasan. Perebutan tirta amerta ini menjadi simbol kebaikan dan keburukan,” jelas Sefyan. 

Tak hanya itu, dipilihnya cerita Kalarau Kapunggel ini pun tak lepas dari landasan agar cerita yang seram dapat meningkatkan antusiasme penonton menyaksikan kecak anak-anak SMAN Bali Mandara dengan jumlah pemain 248 orang.

Sefyan mengaku melatih anak-anak yang masih awam butuh kemampuan ekstra agar pendalaman pakem-pakem kecak, baik vokal maupun gerak. 

Selepas terhanyut dalam perebutan Tirta Amerta dari SMAN Bali Mandara, suasana kembali hidup dengan garapan SMKN 5 Denpasar "Cak Akara". Akara diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti wujud boneka nyatanya juga memiliki makna lainnya. “Selain wujud boneka itu, Akara juga ada singkatannya yaitu Aksi Kreativitas Siswa SMKN 5 Denpasar,” jelas pembina tari SMKN 5 Denpasar, I Kadek Sumariasa. 

Cak Akara pun berjalan dengan alur cerita Sutasoma yang melukiskan sinergi akulturasi aliran Siwa-Budha. “Lakon Sutasoma ini adalah sosok tokoh yang memberikan spirit keadamian dari apa yang terjadi di dunia ini, selain itu ajaran Tat Twam Asi pun ingin kami sampaikan dalam garapan ini,” jelas Sumariasa.

Kurator Bali Mandara Nawanatya, Mas Ruscita Dewi mengaku terharu dengan penampilan cak dari SMKN 5 Denpasar yang mengkolaborasikan dengan wayang golek. “Saya sangat terharu, karena lewat SMKN 5 Denpasar telah lahir seni baru, cak wayang golek bali yang indah dan metaksu waau belum sempurna. Tetapi ini dapat menjadi cikal bakal seni baru yang dapat dikembangkan,” puji Mas Ruscita. 

Pujian juga diutarakan pengamat seni, I Made Bandem. “Keduanya bagus Yang pertama dari SMAN Bali Mandara tenaganya luar biasa. Penuh energi hanya dinamikanya perlu diatur. Mereka banyak kemajuan cuna karena banyak pengaruh dari daerah lain, khas Bulelengnya hilang. Yang kedua dari SMKN 5 Denpasar saya apresiasi karena telah mampu memadukan wayang golek Bali walau masih memungkinkan untuk dieksplorasi lagi gerak wayang golek Bali,” kata Bandem. (eka)