JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography

GIANYAR - fajarbali.com |  Bupati Gianyar, Made Mahayastra menetapkan empat situs sebagai cagar budaya, di wantilan Pura Pegulingan, Manukaya, Tampaksiring, Sabtu (30/11/2019) lalu. Penetapan situs purbakala sebagai cagar budaya tersebut tertuang dalam surat keputusan Bupati Gianyar nomor 1345/E-01/HK/2019 tentang Penetapan Arca Bhairawa Pura Kebo Edan sebagai Benda Cagar Budaya, Nekara Pejeng Pura Penataran Sasih sebagai Benda Cagar Budaya, Pura Pegulingan sebagai Struktur Cagar Budaya, dan Pura Mengeningsebagai Struktur Cagar Budaya, tertanggal 13 Nopember 2019.

 

Penetapan empat situs sebagai cagar budaya, sebelumnya telah melewati beberapa tahapan. Diawali dengan registrasi, verifikasi dan penyusunan
berkas kajian oleh Tim Registrasi Cagar Budaya Kabupaten Gianyar bersama balai Pelestarian Cagar Budaya Bali-NTB-NTT, sejak bulan Juni
sampai September 2019 lalu. Setelah berkas kajian rampung dan direvisi sesuai mekanisme, berkas selanjutnya diserahkan kepada Tim Ahli Cagar
Budaya Nasional di Direktorat Kebudayaan, Dit. Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di
Jakarta pada 17 September lalu. Dan sebulan setelahnya atau tepatnya tanggal 17 Oktober melalui Plh. Direktur Pelestarian Cagar Budaya  dan
Permuseuman menyampaikan undangan sidang kajian oleh tim ahli cagar budaya nasional.


Kadisbud Gianyar, I Ketut Mudana mengatakan, penetapan status cagar budaya ini merupakan apresiasi terhadap keberadaan situs purbakala dan
pengelolaan serta perawatan yang telah dilakukan masyarakat. Kemudian, sebagai akibat ditetapkannya sebuah situs sebagai cagar budaya, maka
segala biaya yang timbul dibebankan pada APBD Kabupaten Gianyar. Mudana juga memaparkan program penanganan cagar budaya di Kabupaten
Gianyar ke depannya dan upaya-upaya terobosan yang dilakukan. “Kami akan melaunching aplikasi digital dimana disana akan terangkum secara
lengkap data-data cagar budaya yang ada di Kabupaten Gianyar,” jelasnya. Program lainnya, penggalian dan penemuan obyek diduga cagar
budaya dan upaya-upaya penanganannya. Sementara, untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap cagar budaya, akan dilakukan lomba
literasi cagar budaya, sosialisasi cagar budaya, olimpiade cagar budaya, pemilihan duta remaja cagar budaya, pekan apresiasi budaya.

Bupati Gianyar, Made Mahayastra mengatakan Gianyar memiliki banyak situs peninggalan purbakala. Untuk perawatan dan pengelolaannya harus
dilakukan oleh profesional, tidak bisa diserahkan begitu saja kepada masyarakat. Oleh karena itu, demi kelestariannya, Pemkab Gianyar
secara bertahap mengusulkan untuk memperoleh rekomendasi dari Kementerian Kebudayaan untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya.
“Keberhasilan kita memperoleh rekomendasi penetapan cagar budaya dari Kementerian Kebudayaan bukan sekedar rekomendasi di atas kertas, ke
depan ini akan banyak manfaat kita peroleh,” ujar Bupati Mahayastra. Misalnya, cagar budaya dengan pengelolaan yang baik dapat bersinergi
dengan bidang pariwisata. Sehingga mendatangkan kemajuan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Penetapan status cagar budaya ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati Mahayastra didampingi Ketua DPRD Gianyar Tagel Winarta,
Sekda Kab Gianyar Made Gede Wisnu Wijaya. Pada kesempatan tersebut, Bupati Mahayastra menyerahkan piagam penghargaan kepada desa adat yang mendapatkan rekomendasi penetapan dari Kementerian Kebudayaan yakni Desa Adat Basangambu selaku pengempon cagar budaya Pura Pegulingan, Desa Adat Saraseda sebagai pengempon cagar budaya Pura Mengening, dan Desa Adat Pejeng selaku pengempon Pura Kebo Edan dan Pura Penataran Sasih. Juga diserahkan piagam penghargaan dari Bupati Gianyar kepada 23 desa adat yang menjaga dan melestarikan cagar budaya yang sudah turun temurun di masing-masing kecamatan. Dan penghargaan kepada 2 orang generasi milenial sebagai kader pelestari budaya Kabupaten Gianyar, atas nama Ni Wayan Sri Pratiwi dan I Wayan Putra Aditya.(sar).