JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KESEHATAN
Typography
MANGUPURA-fajarbali.com | Sejumlah obyek wisata di Badung akan menggunakan alat pendeteksi Covid-19 buatan dalam negeri yakni GeNose. Namun, tak seluruh obyek wisata akan diberikan GeNose. Hanya enam obyek wisata yang akan dijadikan sebagai percontohan.

Plt Kadis Pariwisata Badung Cokorda Raka Darmawan mengatakan, atas arahan bapak bupati badung I Nyoman Giri Prasta, pihaknya akan memasang GeNose di beberapa obyek wisata yang telah bekerja sama dengan Pemkab Badung. Alat ini nantinya akan ditujukan kepada wisatawan baik dari mancanegara maupun domestik. Tujuannya tidak lain untuk mendeteksi dini kondisi kesehatan dari wisatawan yang akan berkunjung.

 “Ada enam obyek wisata yang akan menjadi pilot project kami, yakni Pura Uluwatu, Pantai Pandawa, Pantai Labuan Sait, Pura Taman Ayun, Sangeh dan Air terjun Nung-Nung,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (19/4/2021) lalu.

Alat tersebut merupakan bantuan dana CSR atau pihak ketiga. Cok Darmawan pun belum dapat memastikan jumlah unit GeNose yamg akan digunakan di obyek wisata.

Baca juga :
Bentuk Generasi Muda Berjiwa Pemimpin, Rotary Club Of Bali Taman Gelar "RYLT"
Bupati Giri Prasta Pantau Vaksinasi Drive Thru di Kuta, Targetkan 2.000 Penerima Vaksin Dalam 4 Hari


"Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Bapak Sekda Badung, pengadaan GeNose merupakan bantuan dari BPD Bali. Jadi nanti kalau alatnya sudah ada akan kami distribusikan langsung,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, pemasangan alat GeNose di obyek wisata ini mampu mendeteksi kondisi wisatawan yang akan berkunjung. Kemudian ia juga berharap agar gagasan ini dapat diikuti oleh obyek wisata lainnya.

“Alat ini kan merupakan deteksi dini yang tergolong cepat dan mudah digunakan serta biayanya juga murah, sehingga baik sekali untuk memonitor," terangnya.

Cok Darmawan mengaku saat ini tengah mempersiapkan mekanisme yang akan digunakan kepada wisatawan.

"Untuk yang hasilnya relatif itu kan juga perlu penanganan, tentunya nanti juga kami akan bekerja sama dengan Dinas kesehatan untuk tindak lanjut wisatawan yang reaktif itu,” jelasnya.

Disinggung biaya kepada wisatawan, Cok Raka menuturkan, penggunaan alat ini kedepannya perlu pemeliharaan yang tentunya memerlukan biaya. Namun, jika akan menarik biaya tambahan selain biaya tiket masuk kepada wisatawan masih belum ditentukan.

“Kami belum sampai sejauh itu membahasnya, tapi pasti akan jadi pembahasan selanjutnya. Kalau nanti akan dikenakan biaya berarti uangnya harus masuk ke kas daerah, jadi pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Apakah nanti biaya yang dikenakan diserahkan kepada pengelola kemudian pemeliharaan alatnya juga dari mereka, masih akan dibahas lagi,” pungkasnya. (put)