PENDIDIKAN
Typography

JAKARTA-fajarbali.com | Di masa sulit seperti sekarang ini, seluruh aspek pendidikan perlu berkolaborasi agar tujuan pendidikan tetap tercapai. Terlebih ketika proses belajar-mengajar harus dilakukan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh, maka teknologi menjadi hal yang paling diandalkan untuk melancarkan proses pembelajaran.

Topari, laki-laki kelahiran Brebes 39 tahun lalu yang berprofesi sebagai seorang guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMAN 1 Playen, Gunung Kidul, mengaku salah satu kesulitan yang ia temui selama pembelajaran jarak jauh ini adalah tidak meratanya sarana dan prasarana bagi siswa untuk mengakses portal pembelajaran jarak jauh yang sudah sekolah kembangkan.

 

 

 

Di awal pandemi SMAN 1 Playen membuat portal pembelajaran jarak jauh yang diberi nama Kama Wahabita. Kama Wahabita adalah akronim dari kelas maya wahabita. Wahabita sendiri merupakan nama lain dari SMAN 1 Playen.

“Kami menyadari bahwa pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring perlu dibarengi dengan monitoring dan evaluasi, kemudian kami mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi pembelajaran jarak jauh  yang kami namai dengan simoned. Semua sistem tersebut, kami buat dengan mengkombinasikan aplikasi-aplikasi yang ada di G Suite for Education. Seperti Google Classroom, Google Slides, Google Sheets, Google Docs dan lain sebagainya” ujar Topari

Kondisi geografis berupa pegunungan dimana banyak siswanya tinggal, menyebabkan terhambatnya akses portal pembelajaran jarak jauh karena terkendala koneksi Internet. Beberapa siswanya bercerita agar bisa mendapatkan koneksi, mereka harus naik ke bukit atau bergeser menuju desa/dusun di sekitar yang memiliki koneksi internet  yang baik.

Selain kondisi geografis, kondisi ekonomi dari siswa-siswa juga diakui Topari turut menyumbang andil dalam kesulitan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Beberapa siswa tidak memiliki alat untuk mengakses portal pembelajaran jarak jauh yang sudah disiapkan oleh sekolah.

Kedua kondisi ini terpantau dari sistem monitoring dan evaluasi yang sekolah bangun. Dari sistem tersebut, terpantau siswa mana yang tidak aktif. Topari bersama guru lainnya dan pihak sekolah mencarikan solusi bersama. Di kondisi seperti ini kreativitas dan ketahanan guru diuji. Dari kondisi tersebut muncul sikap simpatik-empatik dari wali kelas/guru maupun teman sekelas siswa untuk turut serta memberikan solusi. Solusi yang akhirnya dijalankan dalam mengatasi kendala sarana pembelajaran adalah berbagi alat (sharing devices), berbagi koneksi internet (sharing bandwidth) hingga kunjungan wali kelas/guru ke siswa yang mengalami kesulitan dalam mengakses materi dari portal pembelajaran jarak jauh.

“Kreatif itu muncul salah satunya karena guru dihadapkan dengan keterbatasan di tengah keharusan. Keterbatasan yang dilawan dengan semangat perubahan yang tinggi akan memantik lahirnya kreativitas dan daya tahan yang tinggi. Jadi, yang dapat dilakukan oleh guru agar tetap kreatif dan memiliki ketahanan tinggi dalam mengajar beberapa diantaranya adalah selalu menghidupkan jiwa pembelajar sepanjang hayat, suka mengambil resiko/tantangan, dan berani mencoba sesuatu yang baru. Pandemi ini membukakan mata para guru bahwa perubahan itu dapat dipaksa dan dipercepat dengan faktor eksternal.” ungkap Topari.

Hal lainnya yang Topari dan guru di SMA Gunung Kidul terapkan di tahun ajaran baru ini adalah mengembangkan 3 skenario pembelajaran jarak jauh sistem daring menggunakan Google Classroom, yaitu simple, moderate dan extreme. Ketiga skenario tersebut dibedakan berdasarkan dominasi teks materi dan komunikasi antara guru dan siswa.

“Dengan memperhatikan berbagai kondisi yang beragam pada siswa. Kami mencari titik dimana akses ke teknologi pembelajaran jarak jauh dari semua siswa kami bisa terwadahi” pungkas Topari. (dj)