JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Dua Putra Bali Terima Gelar Doktor Honoris Causa di India

PENDIDIKAN
Typography

Bangalora-fajarbali.com | Salah satu yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan di Bangalore, Aasta Foundation Trust, bekerja sama dengan University Of Swahili dan Lembaga Swadaya Masyarakat RSVVM India, menyelenggarakan sebuah even internasional.

 Even tahunan yang diselenggarakan  11 Maret 2018, di hotel Octave, Bangalore berupa seminar kepemudaan, penghargaan gelar Doktor dan Penghargaan Bhoomi Ratna Award. 
Ajang penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor of Philosophy - Ph.D.h.c) diberikan kepada 11 orang dari berbagai komunitas dan professional baik yang ada di India maupun di luar India. Dua diantaranya diberikan kepada putra Bali yakni Ida Bagus K. Susena, Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia (Pelayanan Sosial) dan Agus Indra Udayana, Pendiri dan Pengelola Ashram Gandhi Puri (Pelayanan Sosial). 
Kedua putra Bali tersebut dianggap layak menerima anugerah kehormatan tersebut karena dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa pada aktifitas pelayanan sosial di tempat mereka. Kedua pekerja sosial yang lahir dan menetap di Bali ini telah membantu berbagai pihak dalam mengatasi sebagaian permasalahan sosial di Bali, Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. 
Melalui Puskor Hindunesia (Pusat Koordinasi Hindu Indonesia) lembaga swadaya keagamaan  yang dirintisnya selama 15 tahun terakhir ini, Gus Susena, demikian panggilan akrab IB K Susena, menggerakkan para Relawan Dharma yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia  melakukan pelayanan sosial  di berbagai tempat. Di bawah naungan organisasi sosial Puskor Hindunesia ini, Gus Susena, salah satu perintis konsep gerakan three in one (3 in 1) bergerilya bersama para relawan dharma melakukan tiga gerakan sekaligus, meliputi perjuangan keumatan, sosial kemanusiaan dan pemberdayaan untuk kalangan yang kurang mampu secara ekonomi. Komunitas Hindunesia yang beliau rintis sudah banyak melahirkan kader-kader relawan dharma yang tangguh, memiliki idealisme kuat dan mau mengabdikan diri mereka untuk pelayanan dharma (sewaka dharma).

Sementara untuk Agus Indra Udayana, dikenal sebagai pengasuh dan pengelola Ashram Gandhi Puri, telah lama mengabdikan diri untuk mencetak kualitas SDM Hindu dan menampung banyak siswa binaan terutama yang kurang mampu untuk dididik dengan metode dan konsep Vedanta. Selama perjalanannya mengabdikan diri di Ashram Gandhi Puri telah banyak menghasilkan pemuda-pemuda tangguh yang paham akan Veda dan mencapai pendidikan tinggi (S2, S3 atau Doktoral). Asharam yang berlokasi di Desa Paksebali , Kabupaten Klungkung juga menjadi salah satu Ashram yang dikenal mengusung toleransi dan multikultur, karena berbagai tokoh nasional dan internasional sering mengadakan acara disana. 

Dr Subramaniam, sebagai International Director of University of Swahili, menegaskan komitmen universitasnya untuk memberikan perhatian pada para Pekerja Sosial Kemanusiaan baik di India maupun di luar India, yang akan terus dipantau oleh tim mereka di beberapa negara. Menurutnya, sangat jarang institusi pendidikan memberikan apresiasi kepada para pekerja sosial. Beliau menyebutkan bahwa mereka-mereka inilah yang berperan banyak dalam meningkatkan kualitas kehidupan pada mereka-mereka yang kurang beruntung dan yang harus berjuang untuk hidup mereka. Dan mereka hadir di kehidupan sosial dengan tanpa mengharapkan pamerih dan tanpa memerlukan penghargaan formal. "Oleh karenanya even kali ini , kami ingin membuktikan bahwa merekapun layak mendapatkannya" kata Doktor Subramaniam lagi. 

Selain itu beliau menyebutkan bahwa segala usaha yang dilakukan oleh para pekerja sosial telah memberikan perubahan yang signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat di sekitar. Apalagi di era teknologi informasi dan media sosial saat ini. Dimana aktifitas semua para pekerja sosial bisa dipantau pada akun mereka di berbagai media sosial tersebut. Facebook, instagram, twitter, path, dan lain sebagainya. 

Pada kesempatan itu juga hadir Anggota Parlemen India dari Basti, Uttar Pradesh, Sri Harish Dwivedi, yang sekaligus sebagai tamu kehormatan pada event tersebut. Beliau menekankan pentingnya kerjasama kepada semua pihak baik di dalam negeri India maupun di luar negeri. Apalagi secara khusus beliau menyebut Indonesia sebagai saudara dekat India dalam  catatan sejarah perkembangan Hindu. Mr. Dwivedi mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Aasta Foundation dan University of Swahili, yang sudah memulai memberikan penghargaan kepada pahlawan-pahlawan perintis pelayanan sosial yang jarang kita temukan dalam era kekinian. Sebagai anggota parlemen dia akan senantiasa mendukung dan mendorong agar pemerintah ikut dalam perhelatan seperti ini pada masa mendatang.

Doktor Stalin Mishra, sebagai pendiri dan ketua Aasta Foundation Trust menyebutkan bahwa ada banyak kandidat yang sudah dipantau oleh timnya, dan akan terus bergerilya mencari para pekerja sosial yang sudah bekerja dan berjuang tanpa pamerih dalam kapasitas pribadi maupun organisasi. 
Secara khusus Doktor Stalin, menyebutkan kandidat dari Indonesia, baik Ida Bagus Susena maupun Agus Indra Udayana, adalah dua aktifis sosial kemanusiaan yang sudah lama dia kenal dan diusulkan secara khusus untuk menerima gelar doctor kehormatan itu. Sebelum diberikan gelar kehormatan, timnya sudah berkonsultasi secara intens dengan University of Swahili yang secara institusi mengeluarkan gelar kehormatan tersebut. Beberapa kali berkoordinasi dan berkomunikasi, akhirnya kedua putra terbaik Bali dalam bidang sosial tersebut akhirnya diterima oleh University Of Swahili untuk menerima gelar doktor kehormatan tersebut untuk tahun ini.

Selain itu beberapa orang juga dinominasikan menerima penghargaam Bhoomi Ratna Award, dalam berbagai bidang pengabdian. Salah satu penerimanya adalah actor film Indonesia, Anjasmara Prasetya. Namun pada penghargaan kali ini Anjasmara bukan menerima penghargaan untuk aktingnya, tapi sebagai Guru Yoga yang dikenal masyarakat di Indonesia. Semua yang terkait dengan budaya Hindu dan India yang dilakoni semua kandidat penerima di seluruh dunia. 

Doktor Stalin berharap agar even ini bisa dilakukan juga di luar India, tentunya dengan bekerjasama dengan organisasi-organisasi lain yang ada di negara tersebut. Untuk tahun depan beliau berharap bias diadakan di Bali dengan menghadirkan lebih banyak tokoh-tokoh India, Indonesia dan negara-negara lain yang memiliki kepedulian terhadap Hindu dan India. (Rls)