PENDIDIKAN
Typography
DENPASAR - fajarbali.com | Menjadi doktor adalah nikmat yang harus disyukuri, karena tidak semua yang mengambil studi doktor (strata tiga) dapat menyelesaikannya dengan beragam alasan. Tanpa dukungan banyak pihak dan izin Tuhan yang Maha Kuasa, nampaknya menjadi doktor menjadi sesuatu di luar imajinasi.


Dr. I Komang Gede, SE., MM., adalah salah satu pria muda (29 tahun) yang sukses menyelesaikan studi doktor pada Program Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya. Ujian terbuka promosi doktornya berlansung Kamis (13/1/2022) di Kampus Untag.

Gelar akademik prestisius itu berhak disadang setelah Komang Gede mampu mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Pemberdayaan, Etos Kerja terhadap JOB Enrichment, OCB dan Kinerja Karyawan Lembaga Perkreditan Desa di Provinsi Bali’. Ia lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Dikonfirmasi dari Denpasar, usai ujian terbuka, Komang Gede tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia seolah tak percaya pada capaiannya. Ingatannya tertarik ke dalam lorong waktu, bagaimana masa kecilnya harus membanting tulang membantu perekonomian keluarga. “Jika melihat kondisi keluarga, rasanya mustahil saya bisa di titik ini,” kata dia.

Komang Gede adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ayahnya, I Nyoman Selegai berprofesi sebagai pande besi. Sedangkan ibunya, Ni Ketut Rinten bekerja menjadi buruh serabutan sambil membantu usaha suaminya. Pasangan suami istri yang tidak lulus sekolah dasar ini tinggal dan membesarkan anak-anak mereka tepat di bantaran sungai di Banjar Dinas Kelod, Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Dengan latar belakang pendidikan dan skill yang minim, tak banyak harapan yang ditanamkan Selegai dan Rinten terhadap sembilan buah hatinya, kecuali menjamin perut mereka tidak kosong. Dari sembilan bersaudara, hanya Komang Gede yang bisa merasakan nikmatnya mengunyah pendidikan tinggi. Syukur, hal ini berimbas kepada adiknya nomor delapan atas ajakan sang kakak.

Diakuinya, perubahan hidupnya dimulai setelah lulus SMP di kampung, ia menerima tawaran sanak saudaranya untuk melanjutkan SMA di Kota Denpasar. Kemudian berlanjut S1 di Universitas Ngurah Rai, S2 di Universitas Udayana. Keilmuannya linier bidang ekonomi. “Seandainya saya terus-terusan di kampung, paling mentok saya lulus SMP dan kerja serabutan juga,” kata dia.

Komang Gede meyakinkan, seluruh biaya pendidikan dari sarjana hingga doktor berasal dari keringatnya sendiri. Latar belakang pekerja keras sejak kecil, menumbuhkan jiwa kemandirian. Pekerjaan sambilan apa pun diambil saat masih kuliah S1. Hingga akhirnya setelah sarjana ia bekerja di sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Setelah lulus S2, Komang Gede diterima sebagai dosen di Universitas Hindu Indonesia (Unhi), Denpasar, dan tetap bekerja di BPR yang berbeda dari sebelumnya.

“Kalau saya relatif tidak menemui kendala selama studi karena saya sudah rancang dari awal. Saya bekerja tidak hanya satu tempat. Saya sadar dengan biaya S3 mencapai ratusan juta, harus dibarengengi dengan kerja keras, doa dan restu, istri, orangtua,” katanya.

Tak mau terlena, suami dari Ni Made Irma Nirmala ini langsung mengambil ancang-ancang meraih gelar guru besar (professor) di usia muda. Dia mengaku tidak suka mengulur-ngulur waktu mumpung situasi sangat memungkinkan. Saat ini, putra semata wayangnya, Davin, belum genap berusia satu bulan sehingga ia bisa fokus membiayai kelanjutan studinya.

“Setiap dosen pasti tujuannya menjadi professor. Jadi bagi saya, target itu tak muluk-muluk,” pungkas Komang Gede yang sebagian besar saudara kandungnya berprofesi sebagai tukang bangunan itu.(Gde).