JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN
Typography

LABEL sebagai kampus teknologi tak membuat STIKOM Bali patah semangat untuk unjuk gigi di bidang seni budaya. Turut mengisi Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya (BMN) III, Sabtu, (13/10/2018) di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Denpasar, mahasiswa STIKOM tampil rancak di hadapan khalayak yang sudah memadati area pementasan sejak sore.

Dalam aksinya, para penampil tampak lemah gemulai. Gerak tubuh yang eksostis nan berkarakter, membuat sebagian orang terheran-heran. Terbukti, tiga garapan yang dibawakannya sukses mengundang penonton untuk bertepuk tangan meriah.

Penampilan mereka pada gelaran Nawanatya menjadi pembuktian, bahwa STIKOM Bali mampu menguatkan atmosfer berkesenian di antara kecanggihan dan perkembangan teknologi. Hal itu yang juga diutarakan seniman sekaligus kurator BMN, Prof. I Made Bandem.

"Apapun universitas dan jurusannya, kalau memang ada niat mempelajari kesenian Bali, maka latar belakang itu bukanlah masalah. Anak-anak Bali itu biar dia masuk di STIKOM, di kedokteran, atau pun dia di sekolah seni, kalau sudah dilatih dengan teknik yang baik pasti dia punya kualitas,” ungkap Bandem, ditemui usai pementasan.

Bagi Prof Bandem, mahasiswa masa kini patut diberikan ruang untuk berkreasi. Hal itu disadari Bandem karena setiap individu punya dasar kreatif, sehingga dapat diasah untuk menghasilkannsesuatu yang berdaya saing.

STIKOM Bali tampil pertama dengan menghadirkan tari pembuka bertajuk " Sekar Sanjiwani". Putu Setyarini selaku penata Tari Sekar Sanjiwani, menyebut tarian berinti sari pada bakti sradha.

“Bakti itu sembah, dan sradha itu keyakinan. Jadi di sini kami mengemas bahwa keyakinan masyarakat Bali akan keberadaan Sang Hyang Widhi Wasa untuk melakukan persembahan sangat kental," jelas Setyarini.

Seusai dimanjakan dengan eloknya gerak penari, garapan musik yang bertajuk "Pada Lima" pun turut menyejukkan telinga penonton. Pande Gede Eka Mardiana sebagai komposer garapan "Pada Lima" mengaku terinspirasi dari pemahaman patet dalam konteks gamelan tujuh nada, lima yang merupakan nada pokok dari setiap patet

“Patet ini memanglah pengaturan nada dalam gamelan, garapan ini menekankan pada patet untuk mengentalkan harmonisasi dan keindahan pada garapan Pada Lima sendiri,” aku Pande Gede Eka Mardiana.

Perpaduan angklung dengan instrumen bambu menjadikan setiap bunyi yang dihasilkan memiliki perpaduan yang serasi. 

Selanjutnya, mahasiswa STIKOM Bali mempersembahkan tari kreasi bertajuk "Santhi" yang melukiskan pasang surutnya sebuah organisasi dalam perjalanannya. (eka)