PENDIDIKAN
Typography

DENPASAfajarbali.com | Sebanyak 107 siswa mulai tingkat SD hingga SMA/SMK seluruh Bali mengikuti festival Bahasa Jepang yang diadakan di SMKN 5 Denpasar (Skanema), 20-21 Oktober 2018. Festival yang pertama kali digelar Skanema itu diadakan bertepatan bulan bahasa yang jatuh pada Oktober tahun ini.

Ada beberapa lomba dan acara hiburan di gelaran yang bertajuk "Skakmat" (Skanema Nihongo Kurabu No Matsuri) 2018 itu. Mulai dari lomba Kana (menulis huruf Katakana-Hiragana), mendongeng Jepang, dance, fanart, dan karaoke lagu Jepang.

Untuk hari pertama pada Sabtu (20/10), kegiatan dimulai dengan acara pembukaan, dengan dibuka Kadis Pendidikan Provinsi Bali diwakili Kasi Kelembagaan Bidang Sarana dan Prasarana Pembinaan SMK, didampingi Kepala SMKN 5 Denpasar I Made Buda Astika. Kemudian dilanjutkan lomba penulisan huruf Jepang (Kana) dan lomba lainnya di hari yang sama. 

Hari selanjutnya pada Minggu, dilanjutkan dengan pagelaran seni dan berbagai kebudayaan khas Jepang. Di acara yang sekaligus sebagai puncak festival itu juga dibuka berbagai stan yang menampilkan berbagai kerajinan khas, kaligrafi, serta berbagai sajian makanan lokal antara Bali dan negeri Matahari Terbit

"Pesertanya sangat banyak untuk pertama kali acara yang kami buat. Kami menyiapkan acara ini sebulan lalu mengundang sekolah negeri dan swasta di seluruh kabupaten. Jadi antusiasnya luar biasa," ujar ketua panitia Nyoman Anita Dwiadiningsih.

Menurutnya, festival dapat jadi wadah bagi komunitas penggemar Jepang di Bali untuk berkreasi. "Seperti lomba fanart (karya penggemar-red), mereka menggambar karya yang ada di Anime yang berupa gambar. Jadi para penggemar kartun bisa berkreasi di sini," terangnya.

Senada dengan itu, Kepala SMKN 5 Denpasar I Made Buda Astika mendukung acara tersebut dengan harapan para siswa bisa mengembangkan minat mereka melalui kegiatan positif.

"Jadi perlu diketahui, kami ingin meningkatkan kemampuan siswa ber-interprenuer meningkat. Sebagai wujud nyata, mereka mengelola acara ini sendiri, mulai mencari sponsor, membuat surat undangan, menyewa perlengkapan, dan sekolah nol rupiah tidak mengeluarkan dana," ungkapnya.

Buda Astika menyebut, dengan cara seperti itu, siswa dapat belajar berorganisasi. "Asal kegiatannya positif, kami akan suport. Jadi selama ini kami telah mendukung penuh apapun kegiatan yang ingin dibuat. Itu kan bagian dari proses belajar untuk nanti di masyarakat," ucapnya.

"Kami berharap melalui festival tersebut, sekolah kami dapat dikenal di seluruh Bali. Bahkan acara ini sekaligus menjadi potensi yang dimiliki sekolah kami, karena selain mengembangkan seni, festival Bahasa Jepang penting untuk menguatkan kompetensi pariwisata di SMKN 5 Denpasar," pungkasnya. (eka)