JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Perlawan terhadap paham radikalisme masuk kampus terus digalakkan oleh seluruh civitas akademika. Bahkan, Perguruan Tinggi (PT), baik negeri maupun swasta di Bali bersatu padu melawan paham yang dapat memecah-belah persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut melalui sebuah Aksi Kebangsaan.

Setelah sebelumnya pada September 2017 bertempat di Nusa Dua, kemudian dilanjutkan Rembuk Nasional "Aksi Kebangsaan PT 2018 pada September 2018 lalu di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, kini aksi tersebut kembali digemakan. Seluruh PT se-Bali yang mengutus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menggelar "Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme" di Kampus Universitas Udayana (Unud) Jalan PB. Sudirman-Denpasar, Sabtu (10/11). Aksi ini digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional.

Koordinator Aksi, Dr. Ida Bagus Radendra Suastama, SH.,MH., mengatakan bahwa Aksi Kebangsaan Lawan Paham Radikalisme ini merupakan aksi lanjutan dari aksi tahun lalu. Tujuannya, agar resonansi Kebangsaan Kampus-Kampus tetap bergema dan tidak berhenti sampai di situ. Sebab, saat ini telah terjadi pertarungan ideologis terkait upaya pihak-pihak tertentu yang ingin "mengganti" ideologi Pancasila, yang jika itu sampai terjadi akan dapat menyebabkan peradaban bangsa ini mundur berabad-abad dan dipenuhi konflik dan kekerasan.

"Tentu kita sependapat bahwa salah satu tanggungjawab kaum akademik dan akademisi adalah mencegah malapetaka seperti demikian terjadi. Patut disyukuri bahwa Pimpinan Perguruan Tinggi se-Bali selalu kompak dalam "Aksi Kebangsaan PT" sejak tahun 2017 sampai saat ini,"tandas Ketua Yayasan HANDAYANI Denpasar ini, Sabtu (10/11/2018) lalu.

Radendra menjelaskan, kebangsaan merupakan kecintaan terhadap Bangsa, mempunyai rasa Nasionalisme, setia, menjaga, dan membela bangsa dan negara. Namun, dewasa ini ada ajaran-ajaran/pemikiran-pemikiran tertentu yang ingin membuat bangsa kita terpecah belah, dan bisa memunculkan rasa saling bermusuhan antar sesama anak bangsa. Bahkan, paham-paham tersebut ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi berasas radikal. "Ini sebuah bahaya besar bagi bangsa ini. Indonesia tidak boleh menjadi negara penuh konflik seperti Suriah atau negara penuh konflik lainnya," tegas Radendra.

Oleh karena itu, Perguruan Tinggi harus menjadi benteng penjaga ideologi Pancasila dan konsensus kebangsaan lainnya. Bangsa ini harus dijaga oleh Kampus sebagai Masyarakat Ilmiah. Apalagi, mahasiswa adalah generasi muda akademik yang energik, serta mampu melihat persoalan secara jernih dan saintifik.

"Pancasila adalah ideologi paling komprehensif dan multidimensional di dunia. Ideologi yang dengan tegas mengakui, menghargai, dan menghormati kebhinnekaan keyakinan, kebhinnekaan ras dan etnis, cinta negara, demokrasi yang ber-hikmat kebijaksanaan dan mewujudkan masyarakat adil makmur. 

Ideologi mana yang lebih bagus dari ini (Pancasila-red)? Apakah kita mau diajak berkonflik dengan saudara sebangsa? Apakah kita mau bangsa ini ternista dan sengsara? Pancasila adalah ideologi terbaik untuk bangsa ini! Tidak ada yang lain!! Kita harus nyatakan dengan tegas! Tekad membela dan menjaga Pancasila. Dengan Semangat Kepahlawanan 10 November!,"tukas Radendra yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Bentuk kegiatan yang dilakukan pada Aksi Kebangsaan Lawan Paham Radikalisme ini berupa pembacaan deklarasi kebangsaan, orasi-orasi ilmiah dengan materi kebangsaan dari para rektor, pembacaan bersama Deklarasi PT Melawan Radikalisme, serta penampilan kelompok kesenian dan budaya. (gde)