JA Teline V - шаблон joomla Форекс

POLITIK
Typography

Klungkung bergejolak. Ratusan warga Nusa Penida Selasa 3 November kemarin menggelar aksi damai di Monumen Puputan Klungkung. Ini laiknya aksi lanjutan soal pernyataan Wedakarna yang menyebut betare-betare lokal (Ratu Gde Dalem Peed) sebagai makhluk suci. 

Menariknya, aksi ini dilakukan berselang sehari setelah AWK secara mantap menyebut yang menolaknya di Nusa Penida hanya segelintir orang. Dirinya yakin dan sangat percaya diri banyak warga Nusa yang masih mendukungnya. 

Ia juga tegas menyampaikan, meskipun ada penolakan tetap akan berangkat ke Nusa Penida dalam waktu dekat. Datang dalam rangka apa? Ups, ternyata bukan untuk minta maaf, apalagi klarifikasi. Namun ia berdalih ada kunjungan kerja. Lho!   

Kegeraman atas pernyataan AWK juga ditunjukkan oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali. MDA bahkan mengeluarkan pernyataan sikap terkait aksi unjuk rasa yang dilakukan yang dilakukan komponen krama adat Bali.

 Poin ketiga dalam surat tersebut berisikan: bahwa ucapan yang disampaikan oknum Anggota DPD RI Perwakilan Bali atas nama AWK ada dugaan sangat kuat melecehkan, menghina dan menistakan agama Hindu di Bali. 

Bisa diprediksi, aksi lanjutan dari masyarakat akan terus terjadi. Apalagi MDA yang dianggap memiliki “wibawa tradisional” seakan meletigimasi aksi-aksi yang dilakukan oleh komponen krama adat Bali. 

Pertanyaannya, apa yang dilecehkan oleh AWK dan mengapa AWK dituding melecehkan? Mari kita analisa bersama. 

Tapi sebelumnya, alangkah baiknya kita bicara historis sedikit. Tentang apa? Soal sensitivitas orang Bali yang berkaitan dengan pelecahan simbol keagamaan. Pelecehan-pelecehan simbol keagamaan bukan terjadi kali ini saja, namun sejak dulu. Bisa jadi ini adalah akumulasi kemarahan dan sakit hati—atau bisa yang lainnya. 

Pada tahun 1998 umat Hindu di Bali geram atas dimuatnya gambar Canangsari masesari bola golf. PT Indo Multi Media penerbit buletin Bali Kini yang memuat gambar tersebut dilaporkan ke Polda dan Kejati. Tokoh Hindu pun bersuara, mendesak PHDI melakukan langkah hukum. Editor majalah Bali Kini, A. Speirs juga diperiksa polisi. Saking ributnya, Menteri Penerangan Alwi Dahlan saat itu turut memberikan komentar. 

Tak hanya soal canangsari masesari bola golf. Beberapa peristiwa yang dianggap melecehkan pun terus terjadi. Misalnya saja ‘kasus Hotel Radisson” yang mengadakan konferensi ketika umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Aksi Saigon Kick yang membuat video klip di areal pura, bahkan ada yang berdiri di atas gedong pura. 

Bahkan AWK yang kini dituding melecehkan umat Hindu juga pernah bersuara memprotes penyanyi legendaris Iwan Fals karena dalam cover album “Manusia Setengah Dewa” terdapat gambar Wisnu yang dianggap melecehkan umat Hindu. Dan banyak lagi peristiwa-peristiwa yang dituding sebagai “pelecehan agama Hindu”. 

Mengapa ini terjadi? Banyak penyebabnya. Namun perlu dipahami bahwa umat Hindu di Bali dan simbol-simbol keagamaannya merupakan satu kesatuan. Masyarakat Bali menggunakan semesta simbolik untuk berkomunikasi dengan “yang ilahi”. Pelecehan bisa terjadi apabila simbol yang berhubungan dengan “yang ilahi” atau “yang disucikan” tidak digunakan sebagaimana mestinya dan tidak berada dalam suasana religiusitas umat Hindu di Bali. 

Pesatnya perkembangan turisme dan modernisasi di Bali memang berdampak pada pergeseran basis material kebudayaan Bali, namun orang Bali tetap mempertahankan struktur mental dan spiritualitasnya. Biasanya efeknya adalah terjadi goncangan—disintegrasi, apalagi ketika industri turisme juga menjual “wilayah-wilayah” kesucian yang belum tentu dipahami dalam konteks religiusitas umat Hindu di Bali. 

Inilah yang menyebabkan terjadi aksi pelecehan tersebut. Biasanya pelecehan dilakukan oleh “outsider” atau pihak luar yang memang tidak memasuki dan memahami suasana kebatinan atau religiusitas orang Bali—namun ingin memasuki, menikmati dan menggunakan simbol-simbol keagamaan tersebut. 

Pelecehan simbol keagamaan bisa terjadi apabila seseorang menggunakan simbol dan idiom keagamaan Hindu di Bali di luar kepentingan religiusitas itu sendiri. 

Berbeda dalam konteks kasus AWK. Ia bukan “outsider” atau pihak luar dalam kebudayaan Bali. Ia justru orang yang semestinya memahami suasana kebatinan dan religiusitas orang Bali. 

Namun persoalannya, AWK belum tentu memahami religiusitas dan teologi lokal warga Nusa Penida—ini mungkin karena perbedaan referensi teologis yang menyebabkan perbedaan suasana kebatinan dan religiusitas. Apalagi AWK sebelumnya dituding berafiliasi dengan HK—meskipun telah dibantahnya. 

AWK memasuki wilayah yang sensitif tersebut—yang dirinya sendiri tidak berada dalam suasana kebatinan dan religiusitas umat Hindu di Nusa Penida. Ia mengkomentari teologi lokal—Betare Dalem Peed sebagai mahkluk suci. Ia tidak memahami Ratu Gede Dalem Peed dalam suasana kebatinan dan religiusitas umat Hindu di Nusa Penida. Di sini masalahnya—dan ia pun seolah menjadi “outsider” dalam konteks religiusitas umat Hindu Nusa Penida. 

Sederhananya, AWK memahami betare lokal Nusa Penida tidak dalam suasana religiusitas masyarakat Nusa Penida, melainkan dalam konteks religiusitas dirinya atau pemahaman dirinya atas pandangan ketuhanan. 

Begitupun dengan umat Hindu Bali yang lain. Jika ada umat Hindu di Bali yang tidak tersinggung juga wajar saja, karena mungkin tidak berada dalam suasana kebatinan dan religiusitas masyarakat Nusa Penida. Jadi hanya warga Nusa Penida yang paham tentang dirinya. 

Pertanyaannya, apakah warga Nusa benar-benar merasa dilecehkan? Jawabannya bisa jadi aksi yang digelar kemarin.  (IGA Paramita, Pemerhati Sosial Budaya Bali)