JA Teline V - шаблон joomla Форекс

POLITIK
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Laporan dugaan pemalsuan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) caleg DPRD Provinsi Bali dari Nasdem Dr. Somvir terus berlanjut. Kali ini, Bawaslu Bali memanggil pihak-pihak yang terkait. 

Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Bawaslu Bali Wayan Wirka mengatakan, pihaknya sedang melakukan penyeledikan dengan memintai keterangan terhadap saksi. “Sampai dengan sekarang sudah ada lima orang yang kita minta klarifikasi (keterangan),” ujarnya saat ditemui di Bawaslu Bali, Selasa (02/7/2019).

Salah satu saksi yang dimintai keterangan yakni Ketua DPW Partai NasDem Bali Ida Bagus Oka Gunastawa dan juga pelapor Gede Suardana. “Termasuk Ketua DPW serta pelapornya,” katanya.

Sementara itu, Oka Gunastawa seusai memenuhi panggilan Bawaslu Bali menyatakan, dirinya memberikan apresiasi kepada masyarakat Buleleng, khususnya pelapor yakni Gede Suardana yang telah perduli terhadap proses demokrasi dan NasDem.

“Pak Suardana ini kan bukan siapa-siapa di NasDem dan juga bukan caleg, tapi peduli dengan NasDem. Tentu kami menyampaikan terima kasih dan salam,” katanya.

Terkait kasus yang menimpa kadernya tersebut, Gunastawa menyebutkan bahwa selama ini tak ada masalah dengan LPPDK. Bahkan, juga telah dilakukan audit oleh Akuntan Publik sebelum diserahkan. Begitu juga dengan KPU yang telah menerima tanpa ada catatan apapun.

“Kami sudah mengikuti tahapan yang sebenarnya. Dan itu terbukti dengan respon Kantor Akuntan Publik dan KPU. Saya pikir beliau-beliau itulah yang lebih berkompeten,” sebutnya. Saat ditanya apa saja yang dipertanyakan oleh Bawaslu Bali, ia menyebut ada sekitar 24 pertanyaan.

Dirinya menilai bahwa LPPDK dari Dr. Somvir tak ada masalah. Gunastawa mengakui jika laporan yang disampaikan Dr. Somvir ke NasDem Bali memang tidak ada pengeluaran. Kendati demikian, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Bawaslu untuk melakukan penyeledikan. Menurutnya, Guru Yoga tersebut menggunakan metode yang berbeda dengan caleg-caleg lainnya. “Di Bali itu, Dr. Somvir menggunakan metode-metode yang tidak umum dilakukan oleh caleg lain. Kenapa? Karena dia sudah pernah menjadi bulan-bulanan ketika maju dulu (Pileg 2014) dan tidak terpilih,” akunya.

Justru, lanjut Gunastawa, laporan yang diserahkan oleh Dr. Somvir merupakan murni dan berdasarkan fakta dilapangan. Bahkan, pihaknya juga menantang para caleg lain yang lolos untuk buka-bukaan dalam hal LPPDK. “Kalau dia tidak melakukan pengeluaran dan tidak menyetor kwitansi, kan tidak mungkin kami punya inisiatif maintain nota pada perusahaan-perusahaan printing. Justru ini yang pemalsuan. Bisa perlu kita pertanyakan yang lolos-lolos, coba cek itu. Bener gak? Cocok gak balihonya yang sekian milyar dengan Laporannya. Kita buka semuanya,” tandasnya.

Pria asal Karangasem ini membeberkan, sejatinya basis massa ingin terus dipertahankan oleh Dr. Somvir pada Pileg 2019 ini. Apalagi, para pesaing dari partai lain juga ikut mencalonkan diri. “Dia mencoba melindungi ini, sebelum dia menjadi caleg, dia menceritakan strateginya bahwa ‘saya tidak akan sama Pak Ketua dengan cara-cara caleg lainnya. Karena kalau saya simakrama dan pasang alat peraga, pasti dihabisi basis-basis saya’. Nah, itu ceritanya,” jelasnya.

Pihaknya juga menampik adanya politik uang yang dilakukan oleh Dr. Somvir. Menurut dia, yang bersangkutan telah melakukan klarifikasi. “Tyang pikir itu sudah banyak yang diklarifikasi, secara detail kita tidak tahu. Kami meyakini tidak benar adanya,” akunya. (her)