5 Rivalitas Terbesar Sepak Bola Inggris

Smallest Font
Largest Font

FajarBali.co.id Bola sepak Inggris bukan sekadar rangkaian pertandingan. Ia adalah arsip rasa—ratusan klub dengan akar yang beranak-pinak, loyalitas yang diwariskan, dan emosi yang naik turun dari pekan ke pekan. Di tengah itu, rivalitas antarklub bekerja seperti bara yang dijaga terus oleh sejarah, jarak geografis, dan momen-momen yang tak mudah dilupakan.

Dalam bentang waktu yang panjang, ada derby yang menjadi ukuran: seberapa besar gengsi bisa diperebutkan, seberapa panas atmosfer bisa dibuat. Di antara begitu banyak perseteruan klasik, lima rivalitas ini kerap disebut paling besar dan paling berpengaruh—bukan hanya karena siapa yang bermain, tapi karena apa yang dipertaruhkan di tribun.

MU vs Liverpool: gengsi dua raksasa, memori yang terus ditarik

Pertemuan Manchester United dan Liverpool kerap disebut sebagai salah satu laga terbesar dalam sepak bola Inggris. Sejak 1890-an, kedua raksasa ini telah bertemu lebih dari 200 kali dan mengoleksi total 39 gelar liga, menjadikan persaingan mereka sarat gengsi dan ambisi.

Rivalitas ini kian panas karena keduanya pernah mendominasi sepak bola Inggris dalam periode berbeda. Derby ini juga menyimpan momen kontroversial, seperti insiden Luis Suarez yang menolak berjabat tangan dengan Patrice Evra pada 2012, setelah sebelumnya dihukum karena kasus pelecehan rasial.

Di 2023, Liverpool mencatat kemenangan terbesar sepanjang sejarah derby ini dengan menghabisi MU 7-0 di Anfield, sebuah hasil yang mempertegas intensitas rivalitas. Jika MU kembali ke masa kejayaannya, laga ini diyakini akan terus menjadi salah satu duel paling ditunggu.

Aston Villa vs Birmingham City: Second City Derby yang mengakar lintas generasi

Derby Kota Birmingham, atau Second City Derby, pertama kali digelar pada 1879. Dalam 146 tahun sejak itu, kebencian antar kedua kubu semakin mengakar, menjadikannya salah satu rivalitas paling panas di Inggris. Dengan lebih dari 100 pertemuan, Aston Villa unggul dalam jumlah kemenangan.

Tapi angka tidak pernah menjadi satu-satunya bahan bakar. Ada memori kolektif yang membuat setiap pertemuan terasa seperti perhitungan lama yang belum tuntas. Kedua tim terakhir bertemu pada 2019 ketika masih sama-sama berlaga di Championship.

Sejak itu, jalan mereka berbeda jauh: Villa meraih kesuksesan hingga ke Liga Champions, sementara Birmingham harus turun ke League One.

Pertemuan 2019 itu sendiri terkenal karena insiden dramatis: seorang pitch invader menyerang Jack Grealish di lapangan. Sang kapten Villa kemudian membalas dengan cara terbaik—mencetak gol penentu kemenangan 1-0, sekaligus mengabadikan laga tersebut dalam ingatan para suporter Villa.

West Ham vs Millwall: rivalitas yang lahir dari era gelap

Meski sudah saling berhadapan sejak akhir abad ke-19, rivalitas Millwall dan West Ham mulai benar-benar memanas pada era 1970-an. Setelah hampir 20 tahun tanpa pertemuan kompetitif antara 1959 dan 1978, tensi kedua klub meningkat drastis. Di masa puncak hooliganisme, kelompok Inter City Firm (West Ham) dan Millwall Bushwackers menjadi dua geng paling terkenal. Bentrokan dan penangkapan sering terjadi setiap kali kedua tim bertemu—sebuah pola yang membuat rivalitas ini berkembang bukan hanya di stadion, tapi juga di luar lapangan.

Meski era hooliganisme telah mereda, permusuhan antara kedua kubu suporter tetap kuat hingga kini. Ketegangan itu bahkan terlihat pada laga Piala Liga 2009 di Upton Park, ketika pertandingan berujung kerusuhan besar. Rivalitas Millwall vs West Ham pun tetap dikenal sebagai salah satu yang paling beracun dalam sejarah sepak bola Inggris—bukan karena satu pertandingan, melainkan karena akumulasi konflik yang panjang.

Newcastle vs Sunderland: derby Tyne and Wear yang hampir seimbang

Newcastle dan Sunderland, dua klub terbesar dari wilayah Tyne and Wear, telah berseteru sejak akhir 1880-an. Dengan lebih dari 150 pertemuan sepanjang sejarah, kedua tim memiliki rekor yang hampir seimbang: Newcastle menang 54 kali, sementara Sunderland 53 kali. Ketatnya angka sejalan dengan kerasnya atmosfer.

Derby seperti ini jarang hanya soal tiga poin; ia adalah cermin identitas daerah yang saling mengunci, dari generasi ke generasi. Derby ini sudah hampir satu dekade absen dari kompetisi liga, terutama karena keterpurukan Sunderland hingga terjun ke League One. Namun pada Piala FA 2024, keduanya kembali bertemu untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.

Newcastle menang meyakinkan 3-0, sekaligus meraih kemenangan derby pertama mereka sejak 2011. Bagi para pendukung, hasil itu terasa seperti menghidupkan kembali ritme lama: derby yang memang seharusnya tak pernah benar-benar mati.

Sheffield Wednesday vs Sheffield United: Steel City Derby dan kembalinya duel kota

Rivalitas antara Sheffield Wednesday dan Sheffield United telah berlangsung lebih dari 100 tahun, membentuk Steel City Derby, salah satu duel kota yang paling dinantikan di Inggris. Rekor pertemuan mereka sangat ketat: dari 145 laga, Sheffield United menang 50 kali, sedangkan Wednesday 48 kali. Ketebalan sejarah membuat derby ini sering dianggap lebih dari pertarungan klasemen.

Ia menyangkut kebanggaan kota, cara pandang antarwilayah, dan kebiasaan suporter yang menunggu momen untuk saling menguji. Setelah Sheffield United terdegradasi dari Premier League pada akhir musim 2023/24, derby ini kembali hadir di kompetisi liga untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Pertemuan tersebut berlangsung pada November, dengan United meraih kemenangan 1-0 di Bramall Lane.

Saat lampu stadion kembali menyala untuk duel kota itu, rivalitas yang semula terasa jauh berubah menjadi dekat lagi—sebuah pengingat bahwa di sepak bola Inggris, beberapa pertandingan memang punya jadwal tersendiri di ingatan.

Kenapa rivalitas terasa lebih besar dari sekadar pertandingan?

Rivalitas-rivalitas ini memiliki pola yang serupa meski lahir dari konteks berbeda: umur sejarah yang panjang, momen-momen kontroversial yang tertanam, serta intensitas yang berulang ketika dua kubu bertemu lagi. Itulah mengapa derby tidak mudah dipadamkan, bahkan ketika kompetisi dan kasta liga bergeser.

Pada akhirnya, yang membuat rivalitas menjadi paling besar bukan hanya siapa unggul. Yang paling menentukan adalah bagaimana sebuah pertandingan mampu mengaktifkan ingatan kolektif: kemenangan yang menghangatkan, kekalahan yang menyakitkan, dan tensi yang tetap hidup meski waktu berjalan.

Editors Team
Daisy Floren