Abu al-Abbas as-Saffah Tetapkan Dasar Kekhalifahan Abbasiyah Tahun 750
FajarBali.co.id Pada 4 Agustus 2026, sejarah mencatat Abu al-Abbas as-Saffah sebagai pendiri Daulah Abbasiyah yang didirikan pada tahun 750 M di wilayah yang kini menjadi pusat Timur Tengah. Abu al-Abbas as-Saffah, yang merupakan keturunan paman Nabi Muhammad SAW, berhasil menggulingkan Dinasti Umayyah dan menetapkan awal baru pemerintahan Islam yang bertahan selama lima abad.
Daulah Abbasiyah berdiri setelah kemenangan dalam Pertempuran Zab pada Februari 750 yang menandai kejatuhan Dinasti Umayyah dengan kekalahan Marwan II oleh pasukan yang dipimpin oleh Bani Abbasiyah bersama kelompok Khawarij, Syiah, dan pejuang Irak. Abu al-Abbas as-Saffah yang bernama lengkap Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, mengambil alih kekuasaan dan memerintah selama empat tahun hingga wafat pada 754 akibat sakit.
Abu al-Abbas as-Saffah memulai kekuasaan dengan menetapkan Kufah sebagai ibu kota awal Daulah Abbasiyah sebelum kemudian dipindahkan ke Baghdad oleh penerusnya, Abu Ja'far Al-Manshur. Ia dikenal dengan gelar "As-Saffah" yang berarti "penumpah darah", karena perintahnya untuk menumpas keturunan Dinasti Umayyah demi mengukuhkan kekuasaannya.
Konteks dan Dampak Pergantian Kekuasaan
Penggulingan Dinasti Umayyah oleh Abu al-Abbas as-Saffah bukan hanya perubahan politik, tetapi juga menandai pergeseran kekuatan dari wilayah Arab ke pusat-pusat baru seperti Persia. Gerakan Bani Abbasiyah mendapat dukungan besar terutama dari wilayah Persia, yang menjadi basis kekuatan militer dan politik mereka. Abu Muslim Al-Khurasani, panglima militer utama pemberontakan, memainkan peran vital dalam keberhasilan tersebut.
Daulah Abbasiyah kemudian mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-803), yang dikenal luas karena kemajuan ilmu pengetahuan, seni, dan peradaban Islam. Namun, kekhalifahan ini akhirnya runtuh pada 1258 akibat invasi bangsa Mongol, mengakhiri masa kejayaan selama sekitar lima abad.
Peran Abu Ja'far Al-Manshur dan Perkembangan Daulah Abbasiyah
Setelah wafatnya Abu al-Abbas as-Saffah, kekuasaan dilanjutkan oleh saudaranya, Abu Ja'far Al-Manshur, yang menjadi khalifah kedua pada 754 hingga 775. Abu Ja'far memindahkan ibu kota dari Kufah ke Baghdad, yang kemudian menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Langkah ini memperkuat posisi Abbasiyah sebagai kekuatan besar di dunia Islam dan menandai babak baru dalam sejarah kekhalifahan yang berlangsung sekitar lima abad tersebut.
Daftar Khalifah dan Masa Kejayaan Abbasiyah
Daftar lengkap para khalifah Abbasiyah dari tahun 750 hingga 1258 menunjukkan kesinambungan pemerintahan yang memengaruhi perkembangan politik dan budaya dunia Islam. Masa kejayaan tertinggi terjadi pada pemerintahan Harun Al-Rasyid, yang dikenal karena kemajuan ilmu pengetahuan dan seni yang mendunia.
| Khalifah | Masa Pemerintahan | Peristiwa Penting |
|---|---|---|
| Abu al-Abbas as-Saffah | 750-754 | Pendiri Daulah Abbasiyah, penggulingan Umayyah |
| Abu Ja'far Al-Manshur | 754-775 | Pemindahan ibu kota ke Baghdad |
| Harun Al-Rasyid | 786-803 | Masa kejayaan ilmu pengetahuan dan seni |
Kutipan Narasumber dan Relevansi Sejarah
Berdasarkan laporan Gramedia, "Abu al-Abbas as-Saffah merupakan tokoh kunci yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Dinasti Umayyah tetapi juga memulai era baru yang membawa perubahan besar dalam sejarah Islam."
Daulah Abbasiyah tetap menjadi salah satu babak penting dalam sejarah Islam yang memengaruhi banyak aspek sosial, politik, dan budaya hingga saat ini.