Mpu Tantular Mengarang Kitab Sutasoma pada Abad ke-14 di Majapahit
FajarBali.co.id Kitab Sutasoma dikarang oleh Mpu Tantular pada abad ke-14, tepatnya antara tahun 1365 hingga 1389, saat masa keemasan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Penulisan kitab ini berlangsung di wilayah Majapahit yang kini menjadi bagian dari Indonesia.
Kitab Sutasoma merupakan karya sastra klasik dalam bentuk kakawin yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Kitab ini dikenal luas karena mengandung semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang kemudian menjadi dasar persatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kitab ini bukan hanya karya sastra, tetapi juga simbol penting dalam sejarah persatuan bangsa.
Menurut laporan dari beberapa sumber terpercaya, seperti Kompas dan Detik, Mpu Tantular adalah seorang pujangga yang hidup dan berkarya pada masa kejayaan Majapahit. Kitab Sutasoma mengandung ajaran moral dan filosofi yang mengajarkan toleransi antar umat beragama dan keberagaman budaya, yang relevan hingga saat ini.
Kitab ini diperkirakan digubah antara tahun 1365 dan 1389, dengan beberapa sumber menyebut waktu penulisan antara 1365-1369. Pembuatan kitab ini terjadi dalam konteks politik dan budaya yang stabil di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk, yang memimpin kerajaan dengan bijaksana dan memperkuat integrasi wilayah Nusantara.
Keberadaan Kitab Sutasoma menunjukkan bagaimana sastra Jawa kuno digunakan sebagai media penyebaran nilai-nilai luhur dan filosofi hidup yang menghormati perbedaan. Hal ini membuat kitab tersebut menjadi sumber penting dalam mempelajari sejarah sastra dan budaya Indonesia.
Isi dan Pesan Moral Kitab Sutasoma
Kitab Sutasoma mengandung cerita yang mengajarkan tentang kasih sayang, toleransi, dan persatuan. Salah satu pesan moral paling terkenal dari kitab ini adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu," yang menegaskan pentingnya kesatuan di tengah keberagaman.
Kitab ini juga mengandung nilai-nilai universal yang mengajak pembaca untuk saling menghormati perbedaan agama, suku, dan budaya. Pesan ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang terdiri dari berbagai etnis dan kepercayaan.
Konteks Budaya dan Politik Majapahit
Mpu Tantular menulis Kitab Sutasoma pada masa ketika Majapahit mencapai puncak kejayaannya, yakni di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk. Pada masa ini, Majapahit menjadi pusat kekuasaan politik dan budaya di Nusantara.
Penulisan kitab ini juga didukung oleh kondisi politik stabil yang memungkinkan perkembangan seni dan sastra. Kitab Sutasoma menjadi cermin kebijakan kerajaan yang mengedepankan toleransi dan persatuan antar wilayah yang luas.
Relevansi Kitab Sutasoma untuk Indonesia Modern
Nilai-nilai dalam Kitab Sutasoma tetap relevan dan menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari kitab ini menjadi moto nasional yang menegaskan keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
Menurut laporan Kompas, pesan moral kitab ini mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan yang ada di Indonesia, baik dari segi agama, budaya, maupun suku bangsa.
Tanggapan Ahli dan Narasumber
"Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular bukan hanya karya sastra, tetapi juga warisan budaya yang mengandung nilai-nilai persatuan dan toleransi yang sangat penting bagi bangsa Indonesia," ujar seorang sejarawan sastra Jawa.
Data Perbandingan Penulisan Kitab Sutasoma
| Aspek | Periode | Keterangan |
|---|---|---|
| Perkiraan Tahun Penulisan | 1365-1369 | Diperkirakan oleh sebagian sumber sebagai awal penulisan kitab |
| Periode Kekuasaan Majapahit | Abad ke-14 | Masa kejayaan Prabu Hayam Wuruk saat kitab digubah |
| Pengarang | Mpu Tantular | Pujangga kerajaan Majapahit yang terkenal |
Ringkasan Nilai Kitab Sutasoma
- Mengajarkan persatuan di tengah perbedaan
- Menjadi sumber semboyan Bhinneka Tunggal Ika
- Mencerminkan kebijakan toleransi Majapahit
- Memiliki pengaruh budaya dan sejarah yang besar