Siapa Penulis Kitab Negarakertagama dan Sejarah Lengkapnya 2026

Smallest Font
Largest Font

FajarBali.co.id Kitab Negarakertagama adalah salah satu karya sastra terpenting dari kerajaan Majapahit, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad ke-14. Artikel ini membahas secara mendalam siapa penulisnya, konteks sejarah, isi kitab, dan makna pentingnya hingga tahun 2026.

Kitab Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga dan pejabat kerajaan Majapahit. Ia menulis kitab ini pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk sekitar tahun 1365 Masehi (tahun Saka 1287).

Mpu Prapanca dikenal juga dengan nama Dang Acarya Nadendra yang menyelesaikan karya ini di usia tua, saat mengasingkan diri sebagai pertapa di lereng gunung di Desa Kamalasana. Karya tersebut juga dikenal dengan judul "Dewacawarnana", yang berarti uraian mengenai berbagai desa dalam kerajaan.

Peran Mpu Prapanca dalam Kerajaan Majapahit

Mpu Prapanca bukan hanya seorang sastrawan, tapi juga memainkan peran penting dalam mendokumentasikan kejayaan dan tradisi kerajaan Majapahit. Penulisan Negarakertagama menjadi saksi sejarah sekaligus sumber penting untuk memahami struktur dan nilai-nilai kerajaan.

Dalam pengalaman saya menangani kajian sejarah nusantara, karya ini menjadi rujukan utama untuk mengetahui kondisi sosial, politik, dan budaya Majapahit pada puncak kejayaannya.

Konteks Sejarah dan Proses Penulisan Kitab Negarakertagama

Negarakertagama disusun pada masa kejayaan Majapahit, yang berdiri dari abad ke-14 hingga abad ke-16. Kerajaan ini menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan di Nusantara.

Penulisan kitab ini dilakukan sebagai bentuk dokumentasi resmi kerajaan, yang menggambarkan wilayah kekuasaan, adat istiadat, serta kebijakan raja Hayam Wuruk. Penulisan dilakukan secara rinci untuk merekam kejayaan dan kekuatan Majapahit.

Lokasi dan Waktu Penulisan

Menurut catatan sejarah, Mpu Prapanca menulis kitab ini di lereng gunung Kamalasana saat masa pertapaannya. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan tidak hanya bersifat administratif tetapi juga memiliki nilai spiritual dan filosofis.

Makna Judul Negarakertagama

Negarakertagama berarti "negara dengan tradisi (agama) yang suci". Judul ini mengandung makna bahwa kerajaan Majapahit dipandang sebagai negara yang menjalankan aturan dan nilai-nilai suci sesuai dengan tradisi yang dianut.

Isi dan Kandungan Kitab Negarakertagama

Kitab Negarakertagama berisi deskripsi tentang kerajaan Majapahit, mulai dari wilayah kekuasaan, struktur pemerintahan, adat istiadat, hingga ajaran moral yang dijalankan oleh raja dan rakyat.

Salah satu bagian penting adalah penyebutan istilah Pancasila, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada bait suci ke-53. Bait tersebut berbunyi "Yatnaggegwani pancasyiila kertasangskarbhisekaka krama" yang berarti "Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan, yaitu mateni, maling, madon, madat, main".

Makna Pancasila dalam Negarakertagama

Istilah Pancasila di sini merujuk pada lima pantangan moral yang harus dijalankan oleh penguasa dan masyarakat, yang menjadi landasan etika dalam pemerintahan Majapahit. Ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai moral sudah menjadi bagian penting dalam tata negara pada masa itu.

Deskripsi Wilayah dan Struktur Pemerintahan

Kitab ini juga memuat uraian tentang desa-desa dan wilayah yang menjadi bagian dari kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca menggambarkan secara detail pembagian wilayah dan hierarki pemerintahan yang berjalan efektif di masa itu.

Sejarah Penemuan dan Perjalanan Naskah Negarakertagama

Naskah asli Kitab Negarakertagama ditemukan pertama kali pada tahun 1894 di Puri Cakranegara, Pulau Lombok. Setelah ditemukan, naskah tersebut disimpan di Leiden, Belanda selama beberapa waktu.

Pada tahun 1971, Ratu Juliana dari Belanda menyerahkan naskah ini kepada Presiden Soeharto saat kunjungan resmi, menandai kembalinya salah satu warisan sejarah penting Indonesia.

Temuan Naskah Tambahan

Selain naskah utama di Lombok, ditemukan pula beberapa naskah lain di wilayah Bali seperti di Amlapura, Geria Pidada Kelungkung, dan Geria Carik Sideman. Kini setidaknya ada lima naskah Negarakertagama yang tersebar dan dijaga sebagai warisan budaya.

Pengaruh dan Pengakuan Kitab Negarakertagama

Kitab ini menjadi sumber rujukan utama dalam studi sejarah dan budaya Majapahit. Hingga kini, kitab ini diakui sebagai salah satu karya sastra tertua yang merekam tradisi dan pemerintahan nusantara secara detail.

Praktik Membaca dan Memahami Kitab Negarakertagama di Masa Kini

Dalam kajian sejarah modern, memahami Kitab Negarakertagama bukan hanya soal membaca teks kuno, tetapi juga menginterpretasi nilai-nilai yang terkandung sesuai konteks zaman sekarang.

Bagi peneliti dan praktisi sejarah, langkah-langkah membaca kitab ini meliputi:

  1. Mempelajari konteks sejarah Majapahit secara menyeluruh agar memahami latar belakang penulisan.
  2. Menggunakan terjemahan dan tafsir yang akurat untuk menghindari salah pengertian.
  3. Mengkaji nilai-nilai Pancasila dalam kitab dan relevansinya dengan nilai kebangsaan saat ini.
  4. Membandingkan isi kitab dengan sumber sejarah lain untuk validasi fakta.
  5. Mengaplikasikan nilai-nilai etika dan pemerintahan yang diajarkan sebagai pelajaran moral.

Kesalahan Umum dalam Studi Kitab Negarakertagama

Salah satu kesalahan yang sering saya temui adalah menganggap kitab ini hanya sebagai catatan sejarah tanpa menggali nilai filosofis dan moralnya. Padahal, kitab ini mengandung banyak ajaran tentang tata pemerintahan dan etika yang masih relevan.

Selain itu, ada kecenderungan untuk mengabaikan konteks budaya dan spiritual ketika menafsirkan isi kitab secara harfiah, sehingga makna mendalam bisa hilang.

Peran Kitab Negarakertagama dalam Identitas dan Kebudayaan Indonesia

Kitab Negarakertagama tidak hanya penting sebagai dokumen sejarah, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan budaya dan identitas bangsa Indonesia, khususnya dalam konteks sejarah kerajaan Majapahit.

Istilah Pancasila yang tercantum dalam kitab ini memperlihatkan akar nilai-nilai yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia, yang terus dipelajari dan dihormati hingga sekarang.

Peran Pendidikan dan Pelestarian

Dalam dunia pendidikan, kitab ini diajarkan sebagai bagian dari pelajaran sejarah dan sastra klasik nusantara. Pelestarian naskah dan pemahaman mendalam terhadap karya ini menjadi tugas penting bagi generasi muda dan para akademisi.

Pengaruh terhadap Kebijakan dan Budaya Modern

Kajian tentang nilai-nilai dalam Negarakertagama juga memberikan inspirasi bagi pembentukan kebijakan yang mengedepankan etika dan kearifan lokal. Hal ini relevan dalam menjaga harmoni sosial di Indonesia yang majemuk.

Perbandingan Naskah dan Kondisi Eksistensi Kitab Negarakertagama Saat Ini

Berikut ini tabel perbandingan beberapa naskah Negarakertagama yang ditemukan berdasarkan lokasi dan kondisi penyimpanan:

Perbandingan Naskah Negarakertagama yang Ditemukan di Indonesia
Lokasi PenemuanTahun DitemukanKondisi Naskah
Puri Cakranegara, Lombok1894Terawat, disimpan di Arsip Nasional
Amlapura, BaliKurang lengkap, butuh restorasi
Geria Pidada, KlungkungBaik, dijaga oleh komunitas lokal
Geria Carik, SidemanBaik, koleksi pribadi
Leiden, BelandaAbad ke-20Disimpan di perpustakaan nasional Belanda

Data ini menunjukkan pentingnya upaya pelestarian dan pemeliharaan agar naskah dapat terus diakses dan dikaji oleh para ilmuwan dan masyarakat umum.

Negarakertagama Bukti Jejak Kejayaan Majapahit atau Hanya Sekadar Mitos? | Catatan Media

Rekomendasi Pengkajian Kitab Negarakertagama untuk Peneliti dan Pelajar

Bagi peneliti dan pelajar yang ingin mendalami Kitab Negarakertagama, penting untuk:

  • Memulai dengan memahami latar belakang sejarah Majapahit secara menyeluruh.
  • Mengkaji terjemahan dan tafsir dari sumber yang kredibel.
  • Memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses naskah dan referensi terkait.
  • Berpartisipasi dalam diskusi dan seminar sejarah untuk memperkaya perspektif.
  • Menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam kitab sebagai bagian dari identitas budaya nasional.

Kitab Negarakertagama adalah jendela ke masa lalu yang kaya akan nilai dan pelajaran. Pemahaman mendalam terhadap karya ini membantu menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas bangsa di era modern.

Editors Team
Daisy Floren