Campinoti menilai MotoGP tak bisa meniru bisnis F1 sepenuhnya

Smallest Font
Largest Font

FajarBali.co.id Bos Pramac Yamaha, Paolo Campinoti, mengatakan MotoGP tidak bisa meniru sepenuhnya kesuksesan Formula 1 dalam mengembangkan bisnis olahraga. Menurut dia, ada aspek yang mustahil direplikasi, namun MotoGP masih bisa bergerak ke arah yang lebih baik dalam komersial. Pernyataan itu disampaikan saat ia membandingkan karakter penonton kedua ajang.

Campinoti menilai Formula 1 dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat sebagai ajang balap terbesar sekaligus olahraga dengan nilai komersial tinggi, didorong penonton yang lebih muda dan beragam serta pengalaman premium bagi penggemar. Ia juga mengakui F1 kini memiliki karakter penonton yang berbeda dibanding MotoGP.

"Formula 1 saat ini memiliki penonton yang berbeda dengan kami," kata Campinoti dalam podcast Mig Babol milik Andrea Migno, seperti dikutip GPOne.

Campinoti menilai perbedaan itu terkait pergeseran F1 ke segmen premium sehingga MotoGP perlu mencari posisi yang lebih baik. Ia menyebut masih ada ruang bagi MotoGP untuk mengarah pada format komersial yang lebih kuat.

"F1 sudah bergeser sepenuhnya ke segmen premium, sehingga masih ada banyak ruang bagi kami untuk menempatkan MotoGP pada posisi yang lebih baik," ujar Campinoti dalam podcast Mig Babol, seperti dikutip GPOne.

Meski demikian, Campinoti menegaskan MotoGP tidak realistis jika ingin mengikuti Formula 1 sampai level yang sama. Ia mencontohkan harga tiket Paddock Club di F1 yang bisa dijual lebih dari 15 ribu euro atau sekitar Rp 284 juta dengan kurs sekitar Rp 18.900 per euro.

"Itu bukan langkah yang tepat, dan mustahil mencapai level seperti itu. Tetapi kami tentu bisa bergerak sedikit ke arah sana," ucap Campinoti.

Campinoti turut menyoroti strategi MotoGP yang dalam beberapa tahun terakhir lebih berfokus pada efisiensi biaya. Ia menyebut kebijakan seperti satu pemasok ban, sistem elektronik standar, pengurangan sesi latihan, serta pemangkasan jadwal di kelas Moto2 dan Moto3.

"Untuk meningkatkan pendapatan, kami perlu melakukan sesuatu yang sedikit lebih... sulit dijelaskan, tetapi lebih menarik," kata Campinoti.

Ia membedakan penghematan biaya dan kenaikan pendapatan sebagai faktor yang menentukan perubahan nyata dalam bisnis. Campinoti mengatakan pemangkasan transportasi memang bisa menghemat, tetapi tidak menghadirkan perubahan yang sesungguhnya.

"Kalau kita terus bicara menghemat 100 euro untuk biaya transportasi, silakan saja. Memang ada penghematan. Tetapi perubahan yang sesungguhnya datang dari peningkatan pendapatan, bukan dari memangkas biaya," ujar Campinoti.

Pernyataan Campinoti muncul saat MotoGP memasuki tahun pertama di bawah kepemilikan Liberty Media, perusahaan yang juga memiliki Formula 1. Menurut dia, di bawah Liberty Media, Formula 1 sukses memperluas pasar global dan meningkatkan nilai komersial secara signifikan, sementara MotoGP tetap perlu mencari jalannya sendiri.

Editors Team
Daisy Floren